RSS

Coklat Karakter, Mau?

Coretan Mantan Staf (ODOP-82)

Hasil dari berkunjung ke salah satu UKM di Kediri, eh tertarik jualan produk baru. Coklat karakter dengan ratusan karakter yang seru dan sangat menarik tampilannya kususnya buat anak-anak. Home made, namanya “Mezem Chocolate”. Hm, setelah menikmati beberapa biji rasanya tak kalah dengan coklat-coklat bermerk yang dijual di mall-mall. Enak, gak bikin sakit perut, dan yang penting udah ada sertifikat halal MUI. Cocok buat hidangan lebaran di bulan Syawal deh. Harganya sangat terjangkau!

“Mezem Chocolate”, Coklatnya Bikin Senyum😀

coklat mezem

-Emma Lucya F-

 

 
Leave a comment

Posted by on April 9, 2016 in chickenSoup

 

Persamaan Derajat yang Sesat

Coretan Mantan Staf (ODOP-81)

Tak disangka lagi, idealisme perempuan untuk memperbaiki kondisi diri, keluarga dan bangsanya  terbukti sangat kuat. Dengan slogan pemberdayaan perempuan di sektor publik telah banyak membuat para wanita tergiur dan lupa akan tanggung jawab utamanya. Padahal peran besar perempuan dalam menopang negara adalah melahirkan generasi terbaik. Tetapi dengan slogan – slogan persamaan gender di sistem kapitalis saat ini wanita dituntut untuk terjun berkuasa dalam sistem demokrasi kapitalis, baik di kekuasaan teratas negara atau di lingkaran kecil yaitu keluarga sendiri.

Para perempuan didorong untuk ikut berpartisipasi di dalam kekuasaan jabatan strategis mulai dari presiden perempuan, gubernur, menteri dan lain sebagainya. Keberadaan perempuan dianggap memiliki potensi kuat dalam menurunkan angka korupsi dan memperbaiki negara. Namun ternyata hasilnya jauh panggang dari api. Di sektor keluarga kecil, para perempuan diiming – imingi dengan pemberian pinjaman modal usaha dan bimbingan – bimbingan agar wanita bisa bekerja dan punya pekerjaan. Masalahnya ini bukan semata program penyejahteraan keluarga. Namun lebih dari itu, agar para perempuan bisa equal (sejajar, red) dengan para suami dan memiliki bargaining position di keluarga menandingi posisi suami. Bahayanya, istri merasa bisa mengatur segala sesuatunya di keluarga tanpa peran suaminya lagi. Inilah sesat dan bahayanya slogan persamaan gender. Tatanan keluarga akan bisa hancur karena peran antara suami dan istri sudah tidak pada tempat dan porsi yang seharusnya.

Dalam sistem demokrasi kapitalis saat ini, individu yang sangat baik mudah jatuh dalam keserakahan yang diciptakan oleh sistem. Orang sebaik malaikat pun akan bisa sejahat iblis, bahkan lebih parah lagi. Individu didorong untuk mengejar kekayaan dan mengesampingkan moral, nilai – nilai dan hukum – hukum dalam Islam. Berbeda dengan Islam, Islam tidak didominasi dengan materialistis. Dalam sistem Islam  taqwa (kesadaran akan Allah) dan mencari keridlaanNya akan memupuk tanggung jawab setiap individu. Dalam sistem khilafah Islam, perempuan pun bisa terlibat dalam memilih penguasa politik, sebagai konsultan menyampaikan keluhan umat, bisa menentang penindasan.

Maka yang harus dilakukan perempuan muslimah saat ini adalah membina diri mereka dan masyarakat dengan pemikiran – pemikiran Islam dan membentuk pola sikap mereka dengan aturan – aturan Islam, sekaligus berjuang menegakkan syariat Islam dalam wadah sebuah negara. Ini sangat penting dan mendesak. Penting, karena dengan Negara yang menerapkan sistem Islam, perempuan akan dimuliakan. Maka potensi dan perannya pun akan bisa dioptimalkan tepat pada porsi yang seharusnya. Mendesak, karena saat ini sudah begitu banyak perempuan ditindas haknya dan direndahkan martabatnya, baik secara fisik maupun nonfisik, sadar ataupun tidak.

Dengan demikian, para perempuan akan siap menjadi pendidik dan penetak generasi yang mumpuni yang akan membawa umat kepada kondisi yang ideal, dalam naungan Ridlo Ilahi. Wallahu ‘alam.

Emma Lucya Fitrianty, S.Si

Penulis Buku-buku Islami

Dramaga-Bogor

 
Leave a comment

Posted by on April 8, 2016 in opini

 

[RESENSI #BAHAGIA MENDIDIK MENDIDIK BAHAGIA]

bahagia mendidik mendidik bahagia

Coretan Mantan Staf (ODOP-80)

Pengarang          : Ida S. Widayanti

ISBN                      : 978-979-1328-71-5

Terbit                    : Februari 2013

Halaman              : 166 hlm. + xxviii

Penerbit              : Arga Tilanta

Cover                    : Soft cover

Membaca kisah perjuangan seorang bunda yang dituliskan dengan bahasa kalbunya selalu memberikan kesejukan hati. Apalagi bila dikombinasikan dengan latar belakang keilmuan yang luas dan dalam. Indonesia sangat membutuhkan buku-buku yang memberikan pengayaan bagi para orangtua dan pendidik dalam upaya mempersiapkan generasi penerus bangsa. Inilah yang telah disajikan dengan elok oleh penulis buku ini.

Buku ini menjadi lebih menarik karena selain kisah-kisahnya menyentuh ala Chicken Soup for the Soul, kedalaman ilmunya juga memberikan gambaran dan kerangka berpikir yang lengkap bagi orangtua dan semua yang berjiwa pendidik. Nuansa spriritual yang kental menjadikannya makanan jiwa dan pada saat yang sama juga memuaskan dahaga intelektual.

Dalam buku ini, penulis memuaskan dahaga kita akan buku yang membumi, bernuansa lokal dengan ilustrasi yang akrab dengan kehidupan kita, namun pada saat yang sama juga sarat dengan wawasan keilmuan, baik secara intelektual maupun spiritual.

Buku ini terdiri dari tiga bagian. Bagian satu berisi Kekuatan Bahasa. Pada bagian satu buku ini terhimpun kisah-kisah yang menunjukkan betapa kata-kata, bahasa, atau komunikasi sangat berpengaruh dalam mendidik anak. Mampu mengantarkan seseorang pada kegagalan atau kesuksesan. Semoga kita mampu mengambil hikmahnya.

Bagian dua buku ini berisi Membangun Kebiasaan. Kisah-kisah pada bagian dua ini menunjukkan bahwa pembiasaan positif harus dilakukan sejak dini. Pendidikan dan pengasuhan di awal kehidupan anak sangatlah penting. Berbicara tentang pendidikan karakter, sesungguhnya haruslah dimulai sejak dini dengan pembiasaan positif dan dilakukan secara simultan baik di sekolah maupun di rumah.

Bagian tiga berisi Memetik Hikmah. Melalui beberapa kisah di bagian tiga buku ini kita bisa bercermin, bahwa banyak cara yang bisa dilakukan saat kita dihadapkan pada permasalahan-permasalahan mendidik anak. Selain dengan cara dialog, sebagaimana pada kisah awal, bisa dengan memaknai beragam peristiwa. Alam selalu menghadirkan pengetahuan dan hikmah bagi siapa saja yang membuka hati dan pikirannya.

Jalinan kata dalam buku ini mampu membuat kita tersadar akan keindahan kehidupan dan membuat kita menyadari betapa bersyukurnya menjadi makhluk ciptaan-Nya yang paling sempurna.

-Emma Lucya F-

 

 

 
Leave a comment

Posted by on April 7, 2016 in resensi

 

Sistem Ekonomi Islam Rahmatan Lil ‘Alamin

 

slideshare.net

Coretan Mantan Staf (ODOP-79)

Imperialisme gaya baru di Indonesia diwujudkan melalui kerjasama ekonomi, politik, dan budaya. Para Kapitalis menjadikan bentuk kerjasama secara  global dan regional termasuk dalam upaya memformat Indonesia sebagai bagian dari desain penjajahan baru (Neoimperialisme). Penandatanganan perjanjian kontrak karya dengan perusahaan asing dilakukan secara besar-besaran. Kebijakan itu dipermudah melalui perantaraan pemuda Indonesia yang disekolahkan di kampus terkemuka Amerika seperti Cornell, Berkeley dan Harvard melalui Program Marshall Plan yang melibatkan Ford Foundation. Alumnus AS yang dikenal sebagai Mafia Berkeley ini mendapatkan kedudukan strategis sejak awal Orba dalam meliberalisasi ekonomi Indonesia.

Program liberalisasi ekonomi Indonesia digelontorkan melalui program pinjaman yang diberikan oleh Bank Dunia, ADB, USAID dan OECD (Organization for Economic Co-operation and Development). Fatalnya, pergantian penguasa tidak mampu mengakhiri rezim neoliberalis. Pengusaha asing semakin dimakmurkan, korporasi global semakin dibesarkan dan kedaulatan asing dilanggengkan.

Dalam rezim Neolib negara tidak berperan sebagai pelayan rakyat yang menyediakan semua hajat hidup rakyat secara layak dan murah, bahkan gratis. Tetapi pemerintah telah menjadi pengusaha yang turut menjadikan rakyat sebagai sumber pendapatan negara, dengan menempatkan swasta sebagai pengelola hajat hidup orang banyak. Indonesia menjadi salah satu negara dengan peningkatan ketimpangan tercepat di wilayah Asia Timur. 68 juta penduduk Indonesia rentan jatuh miskin, dengan pendapatan hanya sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan keluarga miskin. Guncangan ekonomi seperti jatuh sakit, bencana dan kehilangan pekerjaan berpotensi membuat kelompok penduduk tersebut kembali jatuh miskin (Kompas,24/9/14).

Namun akibat paling berbahaya dari tatanan Neolib-Neoimperialisme adalah dampak sosial yang bermuara pada kehancuran keluarga dan kehancuran peradaban. Kesulitan mendapatkan pekerjaan bagi laki-laki menjadikan mereka rela melepas status terhormat sebagai kepala keluarga. Fungsi Qowwam laki-laki perlahan tereduksi. Sementara strategi massif pemberdayaan perempuan membuat kewajiban mereka beralih tangan. Konsekuensi logis jika perampuan harus keluar rumah mencari penghasilan adalah meninggalkan kewajiban utamanya sebagai pengurus rumah tangga, termasuk hadlonah bagi anak yang masih membutuhkannya.

Sistem ekonomi Islam adalah sistem ekonomi yang rahmatan lil ‘alamin. Sistem ini mempunyai ketentuan tentang kepemilikan pribadi, kepemilikan umum dan kepemilikan negara, pengelolaan kepemilikan dan pendistribusian di tengah masyarakat. Termasuk berupa penetapan kepemilikan umum seperti barang tambang dengan jumlah besar, hutan, laut, sungai, dan sebagainya. Sebagai milik seluruh rakyat, negara wajib mengelolanya dan seluruh hasilnya dikembalikan kepada rakyat. Maka negara bisa memenuhi kebutuhan pokok individu yang membutuhkan, menyelenggarakan pendidikan dan pelayanan kesehatan secara gratis serta melakukan pembangunan yang menyejahterakan seluruh rakyat. Maka sudah semestinya kita kembali kepada Islam, niscaya kita akan mendapati konsep-konsep yang gemilang, yang menjanjikan kesejahteraan hakiki saat diterapkan. []

-Emma Lucya F-

 

 
Leave a comment

Posted by on April 6, 2016 in opini

 

Kampung KB, Sedikit Anak Banyak Rezeki?

Coretan Mantan Staf (ODOP-78)

Pemerintah Kota (Pemkot) Tangerang membentuk Kampung Keluarga Berencana di Kelurahan Kedaung Baru, Kecamatan Neglasari. Kampung KB ini ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus mengurangi laju pertumbuhan penduduk (news.okezone.com, 24/3). Dari program Kampung KB diharapkan bisa menurunkan angka kemiskinan dengan turunnya angka kelahiran, mencegah pernikahan dini, pemberantasan HIV/AIDS dan lain-lain.

Akar masalah dari kemiskinan di negeri kita sebenarnya bukanlah karena banyak anak. Banyak anak tidak selalu linier dengan kemiskinan. Keluarga yang memiliki jumlah anggota keluarga yang besar alias memiliki banyak anak bukanlah penyebab utama peningkatan angka kemiskinan di Indonesia. Permasalahannya adalah kesalahan adopsi sistem ekonomi kapitalis yang menyebabkan distribusi kekayaan di masyarakat tidak merata. Ada jurang yang sangat besar memisahkan si kaya dan si miskin. Kekayaan hanya dinikmati oleh segelintir orang. Menyitir syair lagu Bang Haji Rhoma Irama: “Yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin.” Memang begitulah watak sistem kapitalisme sekuler, uang bak raja yang bisa menentukan apa saja! Yang kaya lah yang berkuasa.

Apa yang terjadi pada artis Marshanda dengan sang ayah yang sedang hits di media saat ini juga menambah fakta bahwa ternyata bukan soal jumlah anak semata yang menjadi penyebab kemiskinan. Tapi adalah ketimpangan ekonomi yang sudah sedemikian parah dan distribusi ekonomi yang tak adil akibat penerapan sistem kapitalis. Harusnya kita mencari akar pemasalahannya, jangan sampai kebijakan Kampung KB nantinya akan menimbulkan masalah baru. Jadi, masihkah kita mengkambinghitamkan anak-anak atas nama kesejahteraan? Dan masihkah setuju dengan ungkapan : “Sedikit Anak Banyak Rezeki?” Pikir-pikir lagi deh.[]

-Emma Lucya F-

 
Leave a comment

Posted by on April 6, 2016 in opini

 

Seikhlas Ainun, Setegar Habibie

Coretan Mantan Staf (ODOP-77)

Manakala hati menggeliat mengusik renungan
Mengulang kenangan saat cinta menemui cinta
Suara sang malam dan siang seakan berlagu
Dapat aku dengar rindumu memanggil namaku

Saat aku tak lagi di sisimu
Ku tunggu kau di keabadian

Aku tak pernah pergi, selalu ada di dalam hatimu
Kau tak pernah jauh, selalu ada di dalam hatiku
Sukmaku berteriak, menegaskan ku cinta padamu
Terima kasih pada maha cinta menyatukan kita

Saat aku tak lagi di sisimu
Ku tunggu kau di keabadian

Cinta kita melukiskan sejarah
Menggelarkan cerita penuh suka cita
Sehingga siapa pun insan Tuhan
Pasti tahu cinta kita sejati

Lembah yang berwarna
Membentuk melekuk memeluk kita
Dua jiwa yang melebur jadi satu
Dalam kesunyian cinta

Lagi galau ya mbak? Kok nyanyi-nyanyi? hehe😛. Ini memang lirik lagu Ost film Habibie dan Ainun. Entahlah, ketika mendengar syair lagu ini dinyanyikan, rasa-rasanya hati ikut berdesir. Ada sepenggal kecil kisah bu Ainun yang mirip dengan yang saya alami. Saya sedikit banyak memiliki chemistry yang cukup kuat dengan film ini karena ketika film ini booming, saya sedang di “persimpangan” memilih berkarir dan meneruskan perjuangan dengan cara yang sama, atau memilih menjadi Stay-at-Home-Mom (SAHM). Ada banyak pelajaran untuk saya tentang kiprah seorang istri sekaligus ibu dari film ini.

Bu Ainun mengajarkan saya tentang pengorbanan untuk keluarga. Beliau tidak melulu mengejar karir. Beliau paham betul posisinya dalam keluarga. Beliau juga sangat mencintai anak dan suaminya. Beliau setia kepada suami, bisa menempatkan diri, tahu betul apa yang dibutuhkan suaminya setiap saat. Beliau lulus menjalani masa-masa sulit bersama suaminya. Masya Allah.

Saya pun berkaca, sudahkah saya menjalankan peran dan kewajiban saya secara maksimal di dalam keluarga? Sudahkah saya seikhlas beliau? Sudah pantaskah saya mendapatkan cinta dari suami seperti beliau? Cinta yang tidak melulu soal hak-kewajiban antara suami-istri, namun lebih dari itu. Cinta dalam pengorbanan, cinta dalam perjuangan.

Semua tentang kita. Together-Everyone-Achieves-More (TEAM). Tak ada lagi istilah “aku”, “kamu”, “kepentinganku”, namun yang ada adalah “kita”, “kepentingan kita bersama”. Ya Allah, bukankah tim yang solid akan lebih berpeluang besar memenangkan perlombaan? Bukankah perahu yang kokoh akan lebih kuat menahan badai yang menerpa? Maka saat jari-jemari tak lagi ada keinginan untuk menyatu dan saling mengisi, mungkin yang ada keluarga itu akan semakin sepi dari suasana kasih. Gersang.

Ah, sudahlah. Saya tidak mau berbusa-busa, namun nol tindakan nyata. Saya masih perlu banyak belajar tentang semua itu, tak terbatas dari atas kertas. Dan saya sangat berharap keluarga besar saya akan mengerti, menerima, memahami apa yang saya lakukan dan perjuangkan selama ini. Aduhai, betapa indah jika itu mewujud nyata.

Mungkin, saya belum seikhlas bu Ainun, atau setegar pak Habibie. Ah, siapalah saya.

[]

-Emma Lucya F-

 
Leave a comment

Posted by on April 4, 2016 in chickenSoup

 

Sudut Pandang

Coretan Mantan Staf (ODOP-76)

Menurut Anda, gambar apakah ini?

cerdas 02

Walaaa!! Masih penasaran dengan gambar diatas? Yupp, sementara masih ada dua jawaban gambar diatas. Pertama, gambar seorang wanita tua dengan hidung yang sangat besar (seperti nenek sihir di film-film). Kedua, gambar seorang wanita cantik sedang menoleh ke arah kanan. Lalu mana yang benar? Kita belum bisa memutuskan dan memastikan. Namun, standar baik dan buruk itu sebenarnya sudah ada. Dan inilah yang disebut sudut pandang.

Ketika terjadi kecelakaan mobil di jalan, misalkan. Akan ada banyak argumentasi yang muncul karena memang ada banyak sudut pandang dalam menilai kecelakaan yang terjadi. Ada yang berpendapat kecelakaan itu terjadi karena kesalahan pengemudi (entah karena ngantuk, kurang bisa nyetir, mabuk, atau yang lain). Ada pendapat lain bahwa kecelakaan itu terjadi karena faktor jalan yang licin karena baru saja diguyur hujan seharian. Kedua sudut pandang tersebut bisa jadi sama-sama benar, atau hanya salah satu yang benar. Syaratnya, harus ada olah TKP dan penyidikan lebih lanjut agar kesimpulan yang dihasilkan sahih.

Contoh lain, ada seorang perempuan berbusana minim bahan alias buka-bukaan. Di jaman kebebasan berperilaku saat ini akan banyak argumentasi muncul menanggapi soal ini. Ada yang bilang sah-sah saja dan baik selama tidak mengganggu orang lain, ada yang menganggapnya tabu dan tidak sesuai dengan adab kesopanan, ada juga yang tegas menilainya sebagai keburukan karena telah membuka aurat di depan publik.

Sudut pandang seseorang terhadap sesuatu kurang lebih akan menghasilkan dua penilaian, yaitu baik dan buruk. Jika dikembalikan kepada syariat Islam, standar baik dan buruk telah jelas dan tidak secara ceroboh/seenaknya dikembalikan kepada masing-masing individu. Baik (khair) adalah jika sesuatu/perbuatan itu sesuai dengan apa yang dituntunkan oleh syariat (diridhai Allah ta’ala). Sedangkan buruk (syar) adalah jika sesuatu/perbuatan itu tidak sesuai dengan apa yang dinashkan oleh syariat (tidak diridhai Allah ta’ala). Maka untuk tahu mana yang diridhai/tidak oleh Allah ta’ala ya memang harus tahu ilmunya. Maklumat-maklumat yang kita dapatkan dengan benar dari hukum syariat itulah nantinya yang akan memudahkan kita memutuskan pilihan, berbuat atau tidak. Jadi standarnya jelas, tegas dan tidak berubah-ubah sesuai waktu dan tempat.

Maka berhati-hatilah menggunakan sudut pandang itu. Manusia memang tempatnya salah dan lupa. Saya pun masih harus terus belajar, introspeksi diri, memperbaiki diri, lebih berhati-hati. Karena jika salah menilai, salah menempatkan sudut pandang, bisa-bisa kita menyakiti bahkan mendzolimi orang lain. Wallahu a’lam bisshawab.[]

-Emma Lucya F-

 
Leave a comment

Posted by on April 4, 2016 in chickenSoup

 
 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 5,032 other followers

%d bloggers like this: