RSS

Seikhlas Ainun, Setegar Habibie

04 Apr

Coretan Mantan Staf (ODOP-77)

Manakala hati menggeliat mengusik renungan
Mengulang kenangan saat cinta menemui cinta
Suara sang malam dan siang seakan berlagu
Dapat aku dengar rindumu memanggil namaku

Saat aku tak lagi di sisimu
Ku tunggu kau di keabadian

Aku tak pernah pergi, selalu ada di dalam hatimu
Kau tak pernah jauh, selalu ada di dalam hatiku
Sukmaku berteriak, menegaskan ku cinta padamu
Terima kasih pada maha cinta menyatukan kita

Saat aku tak lagi di sisimu
Ku tunggu kau di keabadian

Cinta kita melukiskan sejarah
Menggelarkan cerita penuh suka cita
Sehingga siapa pun insan Tuhan
Pasti tahu cinta kita sejati

Lembah yang berwarna
Membentuk melekuk memeluk kita
Dua jiwa yang melebur jadi satu
Dalam kesunyian cinta

Lagi galau ya mbak? Kok nyanyi-nyanyi? hehe😛. Ini memang lirik lagu Ost film Habibie dan Ainun. Entahlah, ketika mendengar syair lagu ini dinyanyikan, rasa-rasanya hati ikut berdesir. Ada sepenggal kecil kisah bu Ainun yang mirip dengan yang saya alami. Saya sedikit banyak memiliki chemistry yang cukup kuat dengan film ini karena ketika film ini booming, saya sedang di “persimpangan” memilih berkarir dan meneruskan perjuangan dengan cara yang sama, atau memilih menjadi Stay-at-Home-Mom (SAHM). Ada banyak pelajaran untuk saya tentang kiprah seorang istri sekaligus ibu dari film ini.

Bu Ainun mengajarkan saya tentang pengorbanan untuk keluarga. Beliau tidak melulu mengejar karir. Beliau paham betul posisinya dalam keluarga. Beliau juga sangat mencintai anak dan suaminya. Beliau setia kepada suami, bisa menempatkan diri, tahu betul apa yang dibutuhkan suaminya setiap saat. Beliau lulus menjalani masa-masa sulit bersama suaminya. Masya Allah.

Saya pun berkaca, sudahkah saya menjalankan peran dan kewajiban saya secara maksimal di dalam keluarga? Sudahkah saya seikhlas beliau? Sudah pantaskah saya mendapatkan cinta dari suami seperti beliau? Cinta yang tidak melulu soal hak-kewajiban antara suami-istri, namun lebih dari itu. Cinta dalam pengorbanan, cinta dalam perjuangan.

Semua tentang kita. Together-Everyone-Achieves-More (TEAM). Tak ada lagi istilah “aku”, “kamu”, “kepentinganku”, namun yang ada adalah “kita”, “kepentingan kita bersama”. Ya Allah, bukankah tim yang solid akan lebih berpeluang besar memenangkan perlombaan? Bukankah perahu yang kokoh akan lebih kuat menahan badai yang menerpa? Maka saat jari-jemari tak lagi ada keinginan untuk menyatu dan saling mengisi, mungkin yang ada keluarga itu akan semakin sepi dari suasana kasih. Gersang.

Ah, sudahlah. Saya tidak mau berbusa-busa, namun nol tindakan nyata. Saya masih perlu banyak belajar tentang semua itu, tak terbatas dari atas kertas. Dan saya sangat berharap keluarga besar saya akan mengerti, menerima, memahami apa yang saya lakukan dan perjuangkan selama ini. Aduhai, betapa indah jika itu mewujud nyata.

Mungkin, saya belum seikhlas bu Ainun, atau setegar pak Habibie. Ah, siapalah saya.

[]

-Emma Lucya F-

 
Leave a comment

Posted by on April 4, 2016 in chickenSoup

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: