RSS

Nomophobia? Buktikan Alibimu!

17 Mar

CENGKRAMAN GADGET

Coretan Mantan Staf (ODOP-60)

 

Mau makan teringat padamu…

Mau tidur teringat padamu…

Mau apa pun teringat padamu, kekasihku…

Ups, saya tidak sedang bernyanyi lho ya. Dan nggak mau jadi penyanyi panggung lagi seperti dulu (wo o, kamu ketahuan!) Hehehe. Syair di atas hanya sindiran saja buat si doi yang asik terus dengan gadgetnya. Nggak di kantor, di kantin, bahkan di emperan masjid, di laboratorium de el el, gadget selalu mendampingi. Istrinya saja kalah saingan. Gadget sudah jadi istri keduanya (wih, sarkas mbak…!). Lha gimana? Pulang kerja pun yang dipegangnya pertama kali adalah gadget. Yang dicari pertama adalah sinyal wifi. Pas ketiduran, bangun-bangun yang dicari juga gadget. Wadaw!

Atau mungkin suaminya yang kalah saingan. Bahkan anaknya. Tapi sebentar, jangan-jangan saya juga termasuk kena sindrom yang satu ini. Wiiik.

Ya, nomophobia. Mbah gugel pasti bisa jawab apa arti detilnya. Intinya, sebuah ketakutan ekstrim atau akut akan kehilangan gadget alias no mobile phone phobia. Ketergantungan terhadap gadget. Waspada saja, jika ketergantungan tersebut sudah sangat kuat hingga memicu pikiran bawah sadar sampai merasa hidup akan sengsara jika nggak pegang gadget/handphone.

Sejatinya, bukankah alat komunikasi itu ada karena buah kejeniusan manusia untuk mempermudah hidup dan urusan sehari-hari? Harusnya manusia yang “menguasai” alat, bukan malah “dikuasai”. Namun kebiasaan sehari-hari sangat berpengaruh terhadap tergantung-tidaknya seseorang terhadap gadget. Sedangkan kebiasaan (perilaku yang senantiasa dilakukan) bersumber dari pemahaman, pemahaman bergantung dari pemikiran (pola pikir) seseorang. Daan alangkah baiknya jika kita mau dan mampu mengembalikan gadget pada peruntukannya. Gadget is just tool. Jangan sampai kita terlena dengan banyak aktivitas mubah dengan terlalu berlama-lama “memandangi” layar gadget. Padahal kalau mau jujur, ada keluarga (kalau sudah berkeluarga, Om) yang sebenarnya akan sangat bahagia jika “dipandangi dengan sepenuh cinta”. Halah, hehe. Serius lho. P-r-i-o-r-i-t-a-s. Ingat skala prioritas dari setiap aktivitas kita. Kalaupun alibinya “berlama-lama dengan gadget untuk produktivitas kerja” sih silakan saja. Tapi harus sumbut (sesuai, bahasa Jawa). Buktikan alibimu! Mana hasilnya? (sangar ya?)

Sebagian dari kebaikan keislaman seseorang adalah ia meninggalkan apa saja yang tak berguna baginya (HR at-Tirmidzi, Ibn Majah, Ahmad, Ibn Hibban, al-Baihaqi dan Malik).

Wallahu a’lam bisshawwab.

-Emma Lucya F-

 

 
Leave a comment

Posted by on March 17, 2016 in chickenSoup

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: