RSS

Scene plot : CINTA DIANA

13 Mar

Coretan Mantan Staf (ODOP-56)

H1

  1. INT. Pagi. Di depan cermin di dalam kamar. Diana melihat dirinya yang lain dari pagi biasanya. Diana cengar-cengir, tatanan kerudungnya belum tampak sempurna betul karena baru pertama kalinya dikombinasi dengan seragam panjang. Diana gemetar berusaha meyakinkan diri. Bibirnya basah dengan al fatihah.
  2. EXT. Keluar kamar. Di depan pintu rumah. JRENG! Pak Somad-ayahnya mendelik, memandangi Diana dari ujung kerudung sampai ujung sepatu. Sureprise! Pak Somad mengernyitkan dahi, tapi tak berkata apa-apa. Diana: Kenapa Pak? Pak Somad menggeleng pelan, memberi tanda supaya Diana lekas naik di boncengannya. Motor melaju. Mereka berdua membisu.
  3. EXT. Di sepanjang jalan kampung. Diana masih merasa dag dig dug. Canggung dengan cara baru dandannya, sesekali merapikan rok panjang, sesekali letak kerudung yang masih kemana-mana belum benar-benar pas. Melewati tukang sayur yang dikerumuni ibu-ibu belanja. Mereka memandang ke arah Diana dan Pak Somad. Ibu 1: Eh siapa itu? Ibu 2 : Ga tau, baru lihat. Ibu 3: bukannya itu Pak Somad? Itu kan anaknya? Diana mendengar kasak-kusuk ibu-ibu, tambah canggung, lalu melihat ke arah lain seolah tidak mendengar percakapan ibu-ibu tadi.
  4. EXT. Di depan gerbang sekolah. Diana cium tangan Pak Somad seperti biasa. Diana : Assalamu’alaikum. Pak Somad : wa alaikumsalam. Bapak langsung pulang. Hati-hati. Diana lega. Batin Diana : wah, Alhamdulillah bapak bilang gitu. Berarti bapak mendukungku. Yes!
  5. EXT. Masuk gerbang sekolah. Intro lagu para bidadari Madina Project. Slow motion. Kerudung Diana melambai-lambai. Semua mata teralihkan kepada Diana. Pakaian barunya menarik perhatian semua orang, sampai ada teman laki-laki yang kejedot tembok. Slow motion end.
  6. INT. Di dalam kelas-jam istirahat. Gendis, gitaris band SMAnya yang sekarang otomatis sudah jadi ex-grup band, dating menghampiri Diana yang sedang berbincang dengan teman sebangkunya. Gendis langsung duduk diatas meja tempat Diana. Gendis : penampilan baru nih? Jin mana yang sudah merasukimu Din? Diana diam, agak kesal dengan polah tingkah Gendis yang tak sopan. Diana : sopan dikit bisa? Tutunin kakinya dong! Ga sopan banget sih! Gendis : (mendekat ke wajah Diana) asal kamu tahu ya Din, aku ga suka dengan dandananmu ini! (sambil menyentuh kerudung Diana dengan jari telunjuknya. Diana : apaan sih?! Ayo Mel, kita pergi! Diana mengajak Amel teman sebangkunya pergi meninggalkan Gendis. Gendis melongo.

H2

  1. EXT. Kantin sekolah-jam istirahat siang. Gendis lagi-lagi mendatangi Diana yang sedang makan baso dengan Amel. Gendis langsung duduk di bangku sebelah Diana. Gendis : Mang, baso mereka berdua saya yang bayarin. Mamang penjual bakso mengeluarkan jempolnya, sumringah. Diana dan Amel terus makan baso, tak menghiraukan kedatangan Gendis. Gendis bersiul-siul. Diana menghentikan makannya seketika. Diana : Makasih traktirannya ya, tapi,Gendis, sikapmu itu sungguh mengganggu! Gendis : eh, ditraktir baso kok malah sewot?! Diana: Ngapain sih kamu seperti ini? Aku ada salah ke kamu? Plis deh! Sikapmu itu mengganggu, tahu?! Gendis ngakak. Gendis : hahaha. Berlagak pikun! Kamu udah lupa dengan grup band kita? Kamu ga pernah datang ke latihan kita! Gara-gara sikapmu yang aneh ini band yang udah mati-matian kubuat terancam buyar! Semua gara-gara kamu Din! Diana : lho, kok aku yang disalahkan?! Gendis : iya dong, penampilanmu yang sok alim itu sudah ngancurin mimpiku. Mimpi grup band kita jadi besar dan terkenal. Band kita sudah matang, Din! Tinggal selangkah lagi kita bakal merilis album, tapi kau tinggal begitu saja! Diana diam. Sebenarnya Diana ingin menjelaskan alasannya berubah kepada Gendis, tapi urung dilakukan. Gendis menggebrak meja lalu melempar uang ke atasnya, meninggalkan Diana dan Amel yang masih melongo melihat kelakuan Gendis. Mereka berdua kemudian bertukar pandang, geleng-geleng.

H3

  1. (Flashback) EXT. Sore hari-halaman depan rumah. Diana baru selesai mandi dan keramas, rambutnya diurai di atas handuk. Pak Somad sedang ngelap angkot bututnya. Diana datang membawakan ember berisi air cucian mendekat ke Pak Somad. Diana : Pak..Pak..Diana mau bilang sesuatu.Pak Somad : Apa? Diana mendekat. Diana : Pak, Diana pengen berkerudung. Diana terus ngelap angkot. Pak Somad: Apa? Bapak ga salah denger? Jangan dulu, nanti saja kalau sudah lulus SMA kamu boleh pakai kerudung. Jangan sampai terlihat sok alim. Di kampung sini ga ada yang setiap hari pakai kerudung. Tuh, mbak-mbaknya, ibu-ibunya pakai kerudung kalau ke pengajian saja. Biasa-biasa aja deh. Diana merayu, berusaha meyakinkan bapaknya. Diana: Tapi Pak, Diana betul-betul pengen! Pak Somad: Nanti lah dibicarakan dengan ibumu. Tuh, liat! Angkot bapak masih banyak sisa sabunnya. Ntar aja. Diana melanjutkan membantu bapaknya ngelap angkot. Ada semburat gelisah di wajahnya.
  2. (Flashback) EXT. Di dalam angkot-menjelang maghrib. Pak Somad diam. Sesekali melirik wajah anaknya yang tak sumringah dai balik spion. Pak Somad : Weleh, ada-ada saja kamu Nduk (panggilan Pak Somad kepada Diana). Pak Somad berkata dalam hati : Lha wong untuk ngasih duit setoran tiap hari ke Pak Bos Gondo (bos angkot) saja Bapak ngos-ngosan, ini mau minta macem-macem. Minta pake kerudung segala. Ibumu bisa protes tiap hari nanti! Suasana di luar masih hening, meski batin Pak Somad ngedumel terus dari tadi. Diana setengah melamun.

 

H4

  1. (Flashback) EXT. Pagi hari menjelang berangkat sekolah-halaman rumah. Diana terus mencecar Pak Somad dengan pertanyaan seputar kemarin. Diana: Gimana Pak? Kata Ibu gimana? Boleh aku pake kerudung? Pak Somad no comment. Beliau belum bisa jawab, cuma ngelus dada. Lalu beliau nyetarter angkotnya, berangkat narik. Diana pun diam seribu bahasa ikut nebeng angkot bapaknya ke sekolah. Di sepanjang jalan, hampir tak ada percakapan diantara mereka berdua.

 

H5

  1. (Flashback) EXT.Gazebo sekolah. Di kejauhan tampak Ayik-kakak kelas Diana- berjalan mengenakan seragam panjang. Ya, Ayik sekarang berkerudung. Diana : (dalam hati) wah cantik banget! Udah putih, cantik, pinter, drummer, sekarang bekerudung. Anggun sekali dia. Aku pengen banget bisa kayak gitu! Diana melamun. Angannya terbang bersama kekagumannya kepada kakak kelasnya itu.

 

H6

  1. (Flashback) EXT. di teras depan ruang kelas. Pagi. Amel ngobrol dengan Diana. Kak Ayik berjalan melewati posisi mereka berdiri. Ayik: Assalamu’alaikum. Amel dan Diana : Wa alaikumsalam. Diana: st..st..cantik ya kak Ayik. Amel : iya tambah cantik aja sekarang. Eh, tapi kamu tahu ga gosipnya. Kak Ayik itu berkerudung karena baru kena sakit herpes di sekitar lehernya. Jadi dia tutupi pake kerudung. Diana : ah, jangan bilang gitu! Amel : eh.,iya beneran. Dia kan tetanggaku di kampung. Isunya sih begitu.

 

H7

  1. INT. malam hari-acara pembinaan pengurus OSIS-ruang OSIS. Kak Roni –ketua OSIS-berpidato singkat. Semua pengurus hidmat mendengarkan. Tiba di sesi sharing, semua anggota mengeluarkan unek-uneknya. Sampai diskusi soal kerudung, Diana serasa menjadi focus of interest karena dialah yang baru berhijrah (berkerudung). Kak Roni : ya kan sekarang banyak cewek yang kemudian bekerudung, berhijab ya. mereka bener-bener sadar itu kewajiban mereka, bukan sekadar ikut-ikutan. Bukan karena tuntutan fashion. Semua pengurus OSIS antusias mendengarkan. Kak Roni : Diana contohnya. Kan dia sekarang berkerudung. Saya yakin, Diana melakukan ini semua lillahi ta’ala, bukan karena yang lain. Ya kan Din? Diana tertohok. Diana meringis, mengangguk berusaha meyakinkan diri. Kak Roni : Buat apa memakai kerudung, kalau motivasinya hanya karena ingin terlihat lebih cantik dan dipuji orang lain sebagai shalihah? Kita semua, jangan puas sampai disini saja. Kita disini belajar tentang organisasi, berinteraksi dengan yang lain. Harapannya dari situ kita akan bisa belajar banyak hal tentang kehidupan. Menjadi orang yang lebih matang.
  2. INT. Ruang rehat acara pembinaan pengurus OSIS-tengah malam. Backsound lagu Menghitung Hari Krisdayanti. Hati Diana berdesir malam itu. Diana gemetar. Kata-kata kak Roni begitu sakti, menghunjam ke ulu hati Diana, membekas, membangunkan kesadaran. Maklum, salah satu motivasi Diana berkerudung karena terpukau melihat kecantikan seniornya di OSIS, kak Ayik, yang berhijrah duluan. Diana meleleh. Diana: ya Allah! Ternyata aku belum ikhlas melakukan semua ini karenaMu!

 

H8

  1. EXT. kantin sekolah-siang hari-sambil makan baso. Diana sengaja mengajak kak Ayik ketemuan. Diana ingin tahu lebih dalam tentang apa yang sebenarnya terjadi dengan kak Ayik. Ayik: iya, apa yan dikatakan Amel itu benar. Aku memang kena herpes. Ya mungkin udah jadi takdirku Din. Jangan kayak aku ya, berhijab setelah sakit! Diana mulai merenung. Diana sadar bahwa ia terlalu over estimate dengan kak Ayik, padahal setiap orang pasti punya kelebihan – kekurangan. Diana (dalam hati): Iya ya, apa aku harus menderita sakit seperti kak Ayik? Apa iya harus nunggu sakit dulu baru berhijab dengan benar?” batin Diana bergemuruh.

 

bersambung.

-Emma Lucya F-

 

 
Leave a comment

Posted by on March 13, 2016 in chickenSoup

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: