RSS

Pornografi Dibiarkan, Anak Jadi Korban

03 Mar

Coretan Mantan Staf (ODOP-47)

Kekerasan Anak Akibat Pornografi

Kasus kekerasan terhadap anak semakin meningkat tajam dari tahun ke tahun. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) per April 2015, mencatat, terjadi 6006 kasus kekerasan anak di Indonesia. Angka ini meningkat signifikan dari tahun 2010 yang hanya 171 kasus. Sementara pada tahun 2011, tercatat sebanyak 2179 kasus, 2012 sebanyak 3512 kasus, 2013 sebanyak 4311, dan 2014 sebanyak 5066 kasus. Dari 6006 kasus, sebanyak 1032 kasus disebabkan oleh cyber crime dan pornografi (viva.co.id, 30/07).

Sedangkan untuk data pornografi dan kekerasan seksual di Indonesia, data dari ECPAT bahwa terjadi peningkatan 450% tindak kriminal seksual online dalam 4 tahun, sampai 2012 tercatat ada 18000 kasus. Pada 2014 KPAI mencatat bahwa 90% dari pelaku kekerasan seksual terhadap anak di Flores didorong akibat konten pornografi. Kejahatan seksual lewat internet menjadi kategori kasus yang tinggi. Semisal jumlah korban kejahatan seksual terus naik. Sampai tahun 2014 ada 53 anak yang menjadi korban. Sementara anak pelaku kejahatan seksual online ada 42 anak, anak korban pornografi dari media sosial ada 163 orang. Terakhir anak pelaku kepemilikan media pornografi di video dan diunggah di media sosial ada 64 anak. (web.kominfo.go.id).

Sungguh, ini sangat memprihatinkan kita, khususnya para orang tua. Dari fakta diatas, kita bisa melihat bahwa efek pornografi itu memiliki dampak luar biasa. Anak bukan saja menjadi objek (korban) kekerasan pelecehan seksual gara-gara oknum-oknum yang suka melihat tayangan porno. Namun yang lebih miris, anak-anak sebagai subjek (pelaku) pelecehan seksual gara-gara mereka menonton tayangan porno.

Salah Kaprah Soal Seks

Munculnya pornografi (dan pornoaksi) merupakan konsekuensi logis akibat memberikan kebebasan seluas-luasnya kepada manusia, baik laki-laki maupun perempuan dalambertingkah laku. Batasannya : asalkan tidak merugikan orang lain, an sich. Maka yang namanya zina, kumpul kebo, free sex  ataupun ganti-ganti pasangan (heteroseks dan atau homoseks) dianggap sebagai hal yang lumrah. Teori milik Sigmeun Freud Propaganda yang mempropagandakan kebebasan seks menjadi pendukungnya. Ia menyatakan bahwa manusia menjalankan aktivitas dengan motivasi libido dan naluri seks yang tidak terpenuhi dapat menyebabkan kematian. Sungguh, sebuah tesis yang sangat keliru!

Padahal sejatinya, naluri seks yang tidak terpenuhi hanyalah akan menyebabkan kegelisahan, karena rangsangan naluri ini dari luar tubuh. Oleh karena itu, bangkitnya naluri seks dapat dikendalikan sepenuhnya, ditunda, dialihkan pada aktivitas lain yang menyibukkan atau dipenuhi sesuai aturan yang benar, bukan dibiarkan liar begitu saja. Ini berbeda dengan kebutuhan jasmani seperti makan atau minum. Kebutuhan jasmani ini harus dipenuhi karena rangsangannya dari dalam tubuh dan jika tidak dipenuhi maka akan menyebabkan kematian.

Pendidikan Seks bagi Anak

Pendidikan seks bagi anak harus menyatu (integral) dengan pendidikan keimanan, kepribadian dan pendidikan tentang hakikat manusia (hubungan manusia dengan Allah Subhanahu wa ta’ala). Terlepasnya pendidikan seks dengan ketiga unsur itu (baca: sekuler) akan menyebabkan ketidakjelasan arah dari pendidikan seks itu sendiri, bahkan mungkin akan menimbulkan kesesatan dan penyimpangan dari tujuan asal manusia melakukan kegiatan seksual dalam rangka pengabdian kepada Allah Subhanahu wa ta’ala.

Adapun beberapa hal yang perlu kita perhatikan dalam memberikan pendidikan seks bagi anak-anak kita:

  1. Seksualitas adalah anugerah Allah Subhanahu wa ta’ala agar manusia dapat mengemban misi hidupnya tanpa mengalami kepunahan.
  2. Seks hanya dipenuhi dengan jalan pernikahan.
  3. Sejak dini anak dihindarkan dari tayangan atau informasi yang berbau pornografi dan pornoaksi.
  4. Membiasakan izin masuk kamar orang tua sejak usia dini.
  5. Memberikan informasi yang tepat sesuai perkembangan anak (termasuk sesuai usia anak) tentang proses reproduksi dan kesehatan reproduksi.
  6. Menanamkan unsur keimanan kepada anak dalam setiap jawaban yang kita berikan untuk pertanyaan mereka.

Selain itu semua, masyarakat harus berperan mendidik dengan tidak merusak hasil pendidikan dalam rumah, masyarakat peduli terhadap anak-anak dan remaja. Yang paling penting adalah Negara menjamin regulasi komprehensif agar sistem sosial berjalan sebagai bentuk perlindungan terhadap kesehatan reproduksi remaja, bukan sebaliknya melindungi segelintir pelaku maksiat yang mendulang keuntungan dari rusaknya generasi muda dengan sengaja memproduksi tayangan porno.

Tak Cukup Sekadar Sanksi

Banyaknya kasus kekerasan terhadap anak yang muncul hingga detik ini tidak cukup diatasi dengan penangkapan dan pemberian sanksi bagi pelaku, namun perlu diatasi akar munculnya kejahatan dan maraknya penyimpangan. Pornografi sebagai salah satu pintu motif tindak kejahatan terhadap anak juga harusnya dibasmi. Gaya hidup serba bebas di semua lini kehidupan saat ini menjadi akar permasalahan munculnya banyak tindak kekerasan terhadap anak. Peran agama dikebiri dalam kancah kehidupan sosial dan malah dianggap sebagai penyulut konflik berbau SARA. Keimanan dan ketaqwaan yang harusnya menjadi sumber utama pembentuk kepribadian anak masih dijadikan sebatas ilmu di buku-buku pelajaran, tak berbekas dalam perilaku anak. Muncullah pola sikap sekuler pada diri anak. Benarlah idiom Sholat yes, maksiat jalan (tanpa disadari).

Selain itu, upaya prefentif dengan membentuk Satgas Perlindungan Anak mulai dari tingkat RT/RW, pembentukan Sistem Informasi Perlindungan Anak (SIPA), atau Kota Layak Anak (KLA) rasanya belumlah cukup. Sebab, banyak kasus pelecehan seksual terhadap anak justru dilakukan oleh orang terdekat atau keluarga sendiri. Ini memang masalah yang pelik, karena pelakunya sulit teridentifikasi. Harus ada upaya simultan dari semua kalangan, mulai dari pendidikan agama di keluarga, kontrol sosial yang baik dari lingkungan masyarakat sekitar, terlebih diperlukan peran Negara dalam menerapkan sebuah sistem jitu untuk menangkal masuknya pornografi dan gaya hidup bebas ala Barat sampai ke akarnya, bukan malah membiarkannya.

Mari, selamatkan anak-anak kita sekarang!!!

Emma Lucya Fitrianty, S.Si

Penulis buku-buku Islami dan konsultan di lembaga riset dan penelitian “Independent Statistics Center”

 
Leave a comment

Posted by on March 3, 2016 in chickenSoup

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: