RSS

Indonesia Moderat, Untuk (Si)Apa?

02 Mar

Coretan Mantan Staf (ODOP-46)

Dalam pertemuan G20 di Antalya Turki Presiden Jokowi menyampaikan bahwa sebagai negara terbesar berpenduduk muslim, Indonesia mendorong adanya Islam yang modern, moderat dan toleran. Dalam kesempatan itu Presiden kembali menyampaikan Indonesia sebagai negara berpenduduk muslim terbesar menyatakan duka mendalam terhadap rakyat Perancis dan mengutuk keras aksi kekerasan itu (kompas.com, 26/11/2015). Jokowi menyampaikan nilai toleransi dan pluralisme Indonesia di mata dunia.

Menghadapi serangan opini tentang Islam teroris, banyak dari kaum muslimin yang bersikap keliru dengan menunjukkan sikap defensif-apologetik. Maksudnya, cenderung menghindar dan mencari jalan selamat dengan cara membangun argumen yang dirasa lebih bisa diterima oleh publik. Defensif-apologetik juga bisa diartikan sebuah sikap membela diri karena merasa diri menjadi pihak tertuduh. Cenderung membela diri, namun dengan menolak sesuatu yang sebenarnya harus kita lakukan.

Apa yang dilakukan oleh Presiden Jokowi juga termasuk dalam sikap defensif-apologetik. Terorisme jelas bertentangan dengan syariat Islam, namun jika kemudian membela ide pluralisme, menganggap semua agama benar, itu adalah sebuah kesalahan. Terhadap istilah jihad, misalnya, agar tidak terdengar menakutkan kemudian dicarikan arti yang lebih halus. Jihad yang seharusnya dimaknai qital (perang) lalu diartikan hanya bersungguh-sungguh. Kesan angker Islam hilang. Kalaupun terpaksa harus mengartikan jihad sebagai perang, biasanya ditambahkan ungkapan apologetis bahwa jihad dalam arti perang bukanlah yang utama, namun jihad yang lebih besar adalah jihad melawan hawa nafsu. Itu sangat sering kita dengar bukan?

Kemodernan dan kemoderatan Islam Indonesia yang kemudian muncul istilah “Islam Nusantara” justru mengaburkan banyak nilai-nilai originalitas Islam itu sendiri. Yang kemudian terjadi, Islam dimaknai –dan disesuaikan- dengan ide-ide ke-Indonesia-an yang belum tentu semua sesuai syariat. Harusnya nilai-nilai Indonesia yang harus disesuaikan dengan syariat Islam, bukan Islam yang diutak-atik agar ‘pas’ dengan budaya ketimuran. Kontroversi “Membaca Al qur’an dengan Langgam Jawa” atau “Azan dengan Langgam Jawa” pun seharusnya tidak perlu terjadi.

Lalu sebenarnya Indonesia Moderat itu untuk apa dan untuk kepentingan siapa? []

Emma Lucya Fitrianty

Penulis buku-buku Islami

 
Leave a comment

Posted by on March 2, 2016 in chickenSoup

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: