RSS

Remaja Berprestasi, Smart With Islam

26 Feb

Coretan Mantan Staf (ODOP-42)

Galau in the hoy? Oh No!

Galau, alias kacau balau, alias ribet plus riweh, adalah virus pikiran yang menjangkiti banyak remaja saat ini. Si sinyal galau itu, juga bisa datang tanpa diundang, en pergi nggak dianter, biasanya nggak jauh-jauh dari persoalan asmara. Sebab lain may be bisa juga karena tugas yang nggak selesai- selesai, atau masalah keluarga yang bikin pusing kepala, en sederet persoalan lainnya.

Next, Perasaan galau ini biasanya mudah berkembang biak menjadi sebuah perilaku yang aneh dan malah bisa saja heboh. Dari mulai jadi bahan baku curhatan lewat status FB, sampe-sampe ada julukan khusus bagi para tersangkanya, yaitu ratu dan raja galau. Belum selesai ampe situ ajah, galau juga menjadi bahan bakar utama buat ngerasa bete tiap hari, ato marah- marah nggak jelas.

Sista, dikit- dikit berproseslah berhenti ngebuat slogan diri kalo “nggak galau, nggak gaul”. Oke deh, emang galau nggak selalu berarti kacau, tapi minimal kalo orang udah galau, pasti walopun dikit bakal mampet tuh pikiran buat berpikir positif. Nah kalo udah gitu, gimana cerita kamu bisa bakal gaul en dame, ya nggak?.

Nggak usah pake nangis apalagi galau level akut tentang sesuatu yang udah terlanjur ancur, sante aja Sis, idup InsyAllah bakal terus lanjut, dan itu berarti akan ada sesuatu lagi yang baru yang bakal datang ke idup kamu en menyenangkan kamu.

En buat kamu yang mengartikan galau sebagai kata lain dari nggak pernah selesainya masalah kamu, coba deh kita share sebentar. Sista, namanya orang idup pasti akan ada masalah. Di dunia ini cuman orang yang udah mati yang nggak punya masalah di kehidupan mereka. Lah namanya ajah udah mati. En masalah itu datang bukan semata- mata ngejebak kamu dalam luka yang tak berujung (Lebay!!) ataupun malah ngejatuhin kamu lebih dalam, tapi justru mendidik kamu buat belajar lebih dewasa dan bijak ngejalanin idup. Satu lagi, Allah nggak akan pernah ngasih cobaan buat hamba-Nya yang diluar kemampuannya.

Katakan “No” pada Pergaulan Bebas dan Konco-konconya

Sis, pada faktanya ada remaja yang masih dapat bertahan, ada pula yang akhirnya terseret godaan. Misalnya, dengan dalih suka sama suka, sepasang muda-mudi akhirnya terjerumus dalam sebuah hubungan tanpa status atau istilah pendeknya pacaran. Nah, pas pacaran, dengan alasan pembuktian cinta dan kesetiaan, atau mungkin karena syahwat yang sudah tak dapat dibendung lagi, terjerumuslah keduanya dalam seks bebas—yang tentu saja di luar nikah. Kalau sudah begini, urusan tambah runyam deh kalo kamu yang cewek tekdung alias hamil. Udah gitu cowoknya kabur pula. Waduh!

Godaan yang lain misalnya narkoba. Barang yang satu ini, meskipun dibenci banyak kalangan dan peredarannya dilarang pemerintah, tetap aja bikin ketar-ketir para orang tua karena ternyata banyak remaja yang penasaran ingin mencicipinya. Biasanya karena ingin lari dari permasalahan hidup, remaja mengkonsumsinya. Padahal kalau kita mau berpikir lebih jauh dan matang, kebahagiaan apa sih yang akan kita dapatkan dari narkoba? Ya, mungkin kamu akan merasa bahagia. Tapi ingat, itu kebahagiaan yang semu dan hanya sebentar saja. Hanya pada saat kamu teler. Setelah sadar, masalah akan muncul lagi dan bahkan bertambah akibat menggunakan narkoba, semisal masalah kesehatan, terjerat hukum, dan lain sebagainya.

Hal lain yang saat ini menjadi tren di kalangan remaja adalah tawuran. Sudah berapa kali kita melihat dan mendengar berita tentang tawuran remaja di TV? Tentu sering ya. Mereka datang baik itu dari tingkat mahasiswa, SMA, dan SMP. Bahkan yang lebih menggelikan, anak SD pun saat ini juga ikut-ikutan tawuran. Sungguh terlalu. Wataknya sudah jadi sangar. Kalau di kalangan remaja cewek ada banyak geng cewek yang bisa saling serang, padahal masalahnya cuma sepele yang masih dapat diselesaikan tanpa jalan kekerasan. Misalnya, tawuran terjadi hanya karena saling ejek antar sekolah. Atau karena urusan pribadi salah satu siswa akhirnya merembet ke teman-temannya yang lain karena yang punya masalah mengadu ke teman-temannya. Teman-temannya tidak terima dan akhirnya menyerang lawannya dan terjadilah tawuran. Kalau misalnya saat remaja saja kamu hobi tawuran, bagaimana saat kamu beranjak dewasa nanti? Padahal remaja adalah masa depan sebuah generasi. Catet ya Sis!

Bahagia dengan Islam sebagai Obatnya

Sis, kalo sebagai remaja Islam masih saja mau terjerumus ke lembah kemaksiatan yang nista, itu sama aja kamu telah kehilangan jati diri sebagai seorang muslim. Bayangin nih, apa masih pantas dia disebut hamba Allah sedangkan bujuk rayu setan lebih diagung-agungkan daripada perintah dan larangan Allah Swt.? Apakah masih pantas bagi seorang muslim make narkoba, doyan gaul bebas, senang seks bebas, atau bahkan menjadi aktivis pembela kemaksiatan dan masih saja mengaku-ngaku sebagai hamba Allah? Tidak kawan. Dia bukan hamba Allah Ta’ala tapi sangat mungkin sudah jadi hamba setan laknatullah. Sayangnya saat ini, di tengah masyarakat, pengikut setan ini biasanya lebih banyak daripada orang-orang yang memasrahkan jiwa raganya hanya pada Allah Swt. Hati-hati Sis!

Sis, kemaksiatan yang tumbuh subur, merajalela di tengah kehidupan masyarakat sebenarnya menunjukkan bahwa masyarakat itu sedang sakit. Dibutuhkan obat untuk menyembuhkannya. Dan juga membutuhkan orang-orang yang mau dan mampu untuk mengubah kondisi terpuruk ini. Bener lho.

Lalu obatnya apa? Obatnya tidak lain adalah kembali pada Islam. Bukan kembali dengan setengah hati kawan, namun kembali pada Islam secara penuh. Dengan kata lain berpegang pada agama ini secara kaffah, menyeluruh. Sebab, Islam akan benar-benar menunjukkan perannya sebagai rahmat bagi seluruh alam jika ia benar-benar diterapkan di tengah-tengah masyarakat secara kaffah, tidak sepotong-sepotong seperti halnya yang kita jumpai saat ini.

Remaja Muslim Peduli Umat; Yes!

Nah, obatnya sudah ada yaitu Islam. Sekarang yang jadi permasalahan adalah siapa yang akan memperkenalkan dan memberikan obat ini pada masyarakat yang sakit itu? Tentu kita sebagai remaja muslim harus berperan di sini. Tengoklah sejarah. Berapa banyak perubahan-perubahan besar di tengah-tengah masyarakat yang terjadi ternyata motor penggeraknya adalah para pemuda. Jarang kita temui misalnya kakek-kakek atau nenek-nenek turun ke jalan untuk menumbangkan sebuah rezim otoriter. Para pejuang yang bertempur mengusir para penjajah dari Indonesia juga didominasi kaum muda. Tanda apa ini? Ini menandakan bahwa seorang remaja atau pemuda itu identik dengan perubahan. Mereka adalah penerus langkah sebuah generasi. Jika remajanya saja loyo dan pasrah dengan keadaan, bagaimana sebuah masyarakat bisa bangkit dari sakit atau keterpurukannya? Coba kita renungkan kawan. Yuk!

Itu sebabnya, udah selayaknya sebagai remaja Islam ‘bangun’ dari keterlenaan kita. Jangan mau dininabobokkan oleh kondisi yang menipu. Percayalah, masyarakat sedang menunggu kita. Menunggu gerak perubahan dari para remajanya. Mari singsingkan lengan baju. Pelajari Islam dengan sungguh-sungguh supaya kita tahu bagaimana caranya menjalani hidup yang benar. Setelah kita mempelajari dan memahami Islam, dakwahkan Islam ini di tengah-tengah kehidupan masyarakat hingga mereka benar-benar ‘sembuh’, lalu keluar dari keterpurukan menuju sebuah masyarakat yang penuh dengan kebaikan di dalamnya.

Sista yang dirahmati Allah, jelas sekali bahwa jika kita ingin bangkit dan membangkitkan masyarakat dari keterpurukan, maka kita harus sadar, belajar, dan berpikir. Sadar bahwasanya masyarakat membutuhkan perubahan ke arah yang lebih baik. Sadar bahwa kondisi yang ada saat ini bukanlah kondisi yang ideal bagi sebuah masyarakat, dan juga sadar bahwa kita sedang berada di tengah masyarakat yang sakit. Oleh karena itu kita harus belajar. Belajar apa? Belajar cara untuk bangkit dan membangkitkan masyarakat keluar dari keterpurukan. Dan tidak ada cara lain membawa diri dan masyarakat untuk bangkit, kecuali dengan menerapkan Islam secara menyeluruh baik itu bagi individu maupun masyarakat itu sendiri. So, kita harus senantiasa berpikir, bagaimana caranya agar Islam yang membawa rahmat bagi seluruh alam ini bisa diterima dan diterapkan di tengah masyarakat kita.

Menjadi Remaja Muslim Berprestasi? Siapa Takut!!

Coba deh kita sedikit menengok sejarah kehidupan para sahabat Rasulullah saw. Awalnya mereka adalah bagian dari masyarakat jahiliyah dan bahkan ada di antara mereka yang terlibat dalam kemaksiatan, dan yang pasti mereka juga dikenal sebagai penyembah berhala. Menyembah sesuatu yang sebenarnya tidak layak untuk disembah. Namun, datanglah obat penyembuhnya, yaitu Islam. Lalu banyak di antara mereka yang benar-benar sadar bahwa mereka jahil dan juga berada dalam masyarakat yang jahiliyah. Setelah masuk Islam, mereka sungguh-sungguh mempelajari dan mendakwahkan risalah Islam ini. Hasilnya, kondisi jahiliyah yang mengakar itu pun sirna dan berganti dengan kemuliaan. Sebuah peradaban agung lahir dan menaungi dua pertiga belahan dunia berabad-abad lamanya.

Jadi, akankah kita masih ragu untuk benar-benar mencintai, mempelajari, memahami dan mendakwahkan risalah Islam ini? Karena itulah sebenarnya hakikat menjadi muslim yang berprestasi dan smart. Prestasi yang dimaksud bukan sekedar prestasi duniawi yang seabreg, namun lebih mulia dari itu semua adalah berprestasi untuk agama Islam dan kejayaannya. Berprestasi sekaligus bangkit dari keterpurukan! Jika kita mau bangkit, tentu kita harus bersungguh-sungguh. Mau? Tentu mau dong ya. Sip! Be smart with Islam? Why not?! []

Emma Lucya Fitrianty

 
Leave a comment

Posted by on February 26, 2016 in chickenSoup

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: