RSS

Ijinkan Aku Menikah (Cerbung-1)

24 Feb

Coretan Mantan Staf (ODOP-40)

Di sudut kampus, tepatnya di kantin Perpustakaan kampus yang baru saja direnovasi menjadi gedung dengan interior dan eksterior yang cukup sedap dipandang mata. Aku menunggu pesanan nasi goreng dan segelas jus alpukat dari salah satu outlet yang menjadi penunggu tetap kantin perpustakaan. Sejak perpustakaan ini dibangun lebih mewah, ada banyak pedagang yang menyewa outlet milik kampus ini, menjadi semacam pujasera. Harga makanan di kampus juga jatuhnya lebih mahal dibandingkan dulu sebelum kantin ini dibangun. Dulu, banyak pedagang yang mangkal di taman masing-masing fakultas. Ada penjual nasi goreng, bakso, batagor, macam-macam. Namun setelah kampus ini beralih status menjadi BLU alias Badan Layanan Umum, hampir semua fasilitas berharga mahal. SPP mahal. Makanan mahal. Bahkan untuk masuk ke dalam lingkungan kampus dengan mengendarai motor atau mobil juga harus bayar uang parkir, semacam masuk jalan tol. Pendidikan benar-benar menjadi komoditas untuk diperjualbelikan dengan bandrol harga yang fantastis.

Cukup lama aku menunggu pesanan datang ke mejaku. Cukup padat pengunjung pujasera siang itu, karena meskipun harga makanan atau minuman di situ jauh lebih mahal, para mahasiswa pengunjung perpustakaan malas untuk keluar kompleks kampus. Toh nanti ketika masuk kampus juga harus bayar uang parkir. Dari musik dari sudut ruangan terdengar sayup syair lagu yang sedang in di kalangan muda-mudi yang sedang kasmaran.

Sendiri ku diam

Diam dan merenung

Merenungkan jalan yang kan membawaku pergi

Pergi tuk menjauh darimu yang mulai berhenti…

Berhenti mencoba bertahan untuk terus bersamaku

Ku berlari kau terdiam

Ku menangis kau tersenyum

Ku berduka kau bahagia

Ku pergi kau kembali

Ku coba meraih meraih mimpi kau coba tuk hentikan mimpi

Memang kita tak kan menyatu…

Bayangkan… bayangkan ku hilang tak kembali

Kembali tuk pertanyakan lagi cinta

Cintamu yang mungkin tak berarti untuk ku rindukan!

Aku teringat sosok ikhwan yang dulu pernah ta’aruf. Sebuah cerita masa lalu yang selalu saja terasa sakit untuk diingat, karena ikhwan itu telah memilih orang lain yang jauh lebih kaya dariku.

Aku berdialog dalam diam.

Fatikha, menurutmu apakah al isyk itu? Mahabah? Cinta? Adakah di dunia ini cinta sejati?! Cinta yang tahan karat, tahan banting, tahan segalanya?! Janganlah bertanya lagi, Fatikha! Cinta bukan untuk ditanyai, bukan untuk diadili, bukan untuk dibela. Cinta akan ada. Cinta itu ada dan akan tetap ada. Cinta untuk hidup. Dan hidup adalah untuk cinta sejati, hanya kepada Allah. Keduanya tak terpisahkan seperti kembar siam yang memiliki satu jantung.

Arghh..kenapa aku menjadi mellow seperti ini? Bukankah itu semua adalah masa lalu? Ikhwan itu adalah masa lalu. Lupakan dia Fatikha! Lupakan! Jangan kau kotori hatimu dengan memikirkan seseorang yang bukan hakmu.

“Ukhti Fatikha!” panggilan Kak Dewi membuyarkan lamunanku.

Oh, astaghfirullah. Kata istighfar tercetus di hatiku. Kenapa aku memikirkan sesuatu yang tidak penting?! Masyaallah. Aku harus mengakhiri semua ini. Benar-benar selesai. Aku harus menjadi lebih baik. Fatikha! Luruskan niatmu sekarang untuk berubah menjadi lebih baik. Lakukan itu semua bukan sekedar untuk mendapatkan pasangan hidup yang juga baik. Bukan! Lakukan semua ini demi Sang Pemilik Jagad! Demi Sang Maha segalanya! Maha Pemilik Cinta!

Kak Dewi mendatangi mejaku.

“Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikum salam.”

“Tumben sendirian. Nggak ada kuliah?” tanya Kak Dewi.

“Iya, tadi habis ada seminar hasil kawan. Lapar. Dan langsung ke sini saja. Ana sudah tidak ada kuliah, sekarang sudah skripsi.”

“Oh, Alhamdulillah.”

“Ya beginilah kerjaan mahasiswa tingkat akhir. Dikejar deadline lulus. Hehe.”

“Hehe. Iya, kalau ana baru tahun depan bisa ambil skripsi karena SKS ana belum mencukupi. Dan ada beberapa matakuliah yang harus ana ulang. Eh, ngomong-ngomong, setelah lulus nanti mau ke mana? Pulang kampung?”

“Belum tahu ukhti. Mungkin ana akan bekerja untuk membantu mencari ma’isyah [sumber penghasilan/pekerjaan, red] untuk ayah ana. Kondisi ekonomi keluarga ana mengharuskan ana bekerja untuk sementara waktu. Semoga tidak untuk selamanya kondisi ekonomi keluarga kami seperti ini. Karena walau bagaimana pun, bukankah seorang perempuan itu tidak wajib untuk bekerja? Betul begitu bukan?!”

Kak Dewi tersenyum dan sambil meraih tanganku.

“Semoga anti dan keluarga anti bisa bersabar menghadapi ujian ini. Semoga akan menjadi tabungan amal sholihah anti”

“Amin.”

 []

BERSAMBUNG

Emma Lucya Fitrianty

 
Leave a comment

Posted by on February 24, 2016 in chickenSoup

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: