RSS

Memotivasi [Resensi Buku (4-habis)]

21 Feb

Coretan Mantan Staf (ODOP-37)

Di bagian empat dari buku seri parenting karya Ida S Widayanti berjudul “Belajar Bahagia, Bahagia Belajar” ini terkumpul kisah-kisah yang memotivasi dan dapat mengantar anak-anak mencapai kesuksesan. Di sana ada peran ibu yang sangat besar.

Setiap anak itu unik. Mereka istimewa. Masing-masing memiliki potensi unik yang kadang pada awalnya berwujud hal minus atau kita secara kasat mata menyebutnya sebagai sebuah kekurangan. Ya, kekurangan pada anak itu ternyata bisa dibalik menjadi sebuah kelebihan. Dan yang bisa melakukannya adalah : ibunya.

Dikisahkan di dalam buku ini, ada seorang anak yang terancam tidak naik kelas. Namun, sang ibunya menjelaskan bahwa itu semua adalah konsekuensi logis dari anaknya yang selama ini memang tak pernah belajar dan menyepelekan sekolahnya. Satu kata yang dilontarkan sang ibu : HADAPILAH! Ternyata kata tersebut kemudian menjadi ‘mantra’ ajaib yang mampu membuat sang anak siap menghadapi apapun rintangan hidupnya.

Cerita lain, seorang anak menangis dan mengadu pada ibunya. Dia menjadi minder (rendah diri) karena diolok-olok temannya dengan panggilan “si dower”. Sang ibu kemudian menatapnya dan berkata dengan tegas, “Sini, nak. Benar kata teman-temanmu, mulutmu memang dower! Tapi meskipun begitu, kamu akan menjadi pembicara hebat. Kamu akan diundang kemana-mana untuk berbicara. Dengan mulutmu yang dower, kau akan ceramahi orang-orang yang menghinamu. Mereka akan takjub dengan apa yang kau sampaikan.” Terdengar lucu kata-kata sang ibunya ya. J namun dengan motivasi ibunya itu, dia seperti dilambungkan ke masa depan yang penuh harapan, melesat bagai anak panah. Masyaallah! Si anak sekarang menjadi penulis best seller yang bukunya cetak ulang berkali-kali. Anda tahu siapa beliau? Ya, dialah Muhammad Fauzil Adhim.

Dukungan seorang ibu begitu penting bagi kesuksesan anak. Apapun yang diberikan pada anak kita, apapun benda itu, akan berpengaruh besar terhadap perjalanan hidup buah hati kita, baik yang bermanfaat ataupun yang merusak. Untuk memompakan semangat kepada anak kita, maka kita pun harus memiliki cita-cita. Cita-cita akan membuat kita senantiasa bergairah dalam menjalani hidup, dengan tetap menjalankan peran utama kita sebagai ibu rumah tangga. Karena, bagaimana mungkin seorang ibu akan mampu memompakan semangat tinggi kepada anak untuk meraih cita-cita jika ibunya sendiri sudah tak lagi memiliki cita-cita?

Emma Lucya Fitrianty

2016-01-18 03.32.33

 
Leave a comment

Posted by on February 21, 2016 in resensi

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: