RSS

Rahim Peradaban

20 Feb

Coretan Mantan Staf (ODOP-36)

Sungguh indah, Islam menempatkan perempuan pada posisi utama pencetak generasi dambaan. Dalam Islam, perempuan bukanlah masyarakat kelas dua seperti perkataan para liberal yang menghina. Islamlah yang justru datang menyelamatkan peradaban, di mana bayi-bayi perempuan siap dikubur hidup-hidup oleh sistem kufur jahiliyah. Namun kini, Islam dan kaum muslim menjadi bulan-bulanan. Hinaan, cercaan datang bertubi-tubi tanpa henti. Gelar muslim radikalis dan fundamentalis menjadi justifikasi tanpa bukti. Anehnya, sebagian kaum muslimin jatuh pada sikap defensif apologetik, tak punya ‘gigi’!

Para perempuan muslim pun diserang tak terkecuali. Mereka jatuh pada jurang yang dalam, kehilangan identitas dan jatidiri. Perempuan yang harusnya menjaga peran kemuslimahan, justru terjebak pada perangkap budaya Barat. Latah. Mereka malah menjadi icon identitas kejahiliahan, kembali primitif. Yang ada, malah para muslimah yang mendestruksi keshalihan mereka sendiri, sadar ataupun tidak. Kontraproduktif.

Dengan iming-iming harta dan tahta, para perempuan dengan mudahnya melupakan ideologi Islam yang harusnya mereka pegang erat-erat. Ideologi Barat sekuler kemudian menjadi pijakan mereka dalam bertutur, berbusana dan berperangai. Tak ada lagi rasa malu. Tak ada lagi yang namanya sesuatu yang tabu. Sah-sah saja, jika memang ada uangnya. Boleh-boleh saja, walaupun harus menjadi foto model tanpa busana?! Bah!

Padahal, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah bersabda, “Malu dan iman itu adalah dua sejoli. Jika salah satunya dicabut, maka yang satunya pun akan tercabut.” (HR. Al-Hakim). Maka, jika ternyata rasa malu telah tercerabut dari hati, bukankah berarti iman telah lenyap? Masih sangat lekat di ingatan, bagaimana Ummahatul Mukminin Aisyah Radhiyallahu ‘Anha menjaga rasa malunya. Setelah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan ayah beliau (Abu Bakar) meninggal dan dikuburkan di dalam rumah, beliau masuk ke dalam rumah tempat keduanya dikubur dengan melepaskan kain hijab karena mereka berdua adalah suami dan ayahnya. Namun, setelah ‘Umar Radhiyallahu ‘Anhu dikuburkan di samping makam Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan Abu Bakar Radhiyallahu ‘Anhu, demi Allah, Aisyah tidak pernah masuk ke sana kecuali dengan memakai pakaian lengkap (dengan hijab), karena malu kepada ‘Umar Radhiyallahu ‘Anhu. Masyaallah! Betapa mulia Aisyah!

Saat ini, kemanakah figur-figur perempuan mulia seperti ibunda Aisyah Radhiyallahu ‘Anha? Mereka yang menempatkan rasa malunya di atas pondasi iman yang kokoh. Mereka, para perempuan yang senantiasa menjadikan Rabb al Muddabbir sebagai pengatur segala perbuatan. Para perempuan pemilik rahim-rahim peradaban, pencetak generasi tangguh pejuang kembalinya kegemilangan Islam. Andakah bagian dari mereka? []

Emma Lucya Fitrianty

masrufah.weebly

sumber : masrufah.weebly.com

 
Leave a comment

Posted by on February 20, 2016 in chickenSoup

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: