RSS

Menemukan Makna [Resensi Buku (3)]

17 Feb

Coretan Mantan Staf (ODOP-33)

Di bagian tiga dari buku seri parenting karya Ida S Widayanti berjudul “Belajar Bahagia, Bahagia Belajar” ini kita diajak untuk menemukan makna dari benda-benda di sekitar kita dan kejadian sehari-hari. Peristiwa yang tampaknya sederhana, namun jika direnungi dengan sungguh-sungguh dapat memberi makna yang luar biasa. Tafakur; merenungi, melihat dan meyakini bahwa segala sesuatu adalah ciptaan Sang Pencipta. Contoh yang berkaitan dengan peristiwa fisika, ternyata ada pelajaran yang bisa kita ambil dan kaitkan dengan hakikat penciptaan. Sehingga kita dapati keyakinan yang semakin kuat bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak pernah menciptakan segala sesuatu dengan sia-sia.

Dari Hukum Newton III kita bisa belajar tentang aksi-reaksi. Dalam Islam, ada konsep pahala dan dosa. Pahala atas setiap kebaikan, dosa atas setiap kemaksiatan. Allah yang Mahateliti tak pernah salah menghisab perbuatan manusia. Maka, harusnya kita berhati-hati dalam berbuat karena segala sesuatu ada balasannya.

Dari konsep garis lurus di bidang matematika kita juga bisa belajar tentang kehidupan. Garis lurus adalah jarak terdekat antara dua titik. Jarak antara manusia dengan Sang Pencipta pun akan lebih dekat jika hidup kita senantiasa berada dalam jalan yang lurus. Berada dalam jalan yang lurus adalah berada pada jalan kebenaran. Berkata lurus adalah menyatakan kebenaran. Untuk selalu berada di jalan lurus berarti harus siap menghadapi risiko. Mungkin risiko itu berupa tidak disukai teman, harus berbeda dengan lingkungan, atau bahkan mungkin harus keluar dari pekerjaan.

Dari besi pun ada pelajaran menakjubkan tentang konsep parenting. Sepotong besi yang dipanaskan, kemudian didinginkan menghasilkan efek berbeda antara yang didinginkan secara perlahan dengan yang cepat. Besi yang didinginkan secara perlahan bisa menjadi lebih lunak dari kondisi semula. Sedangkan yang didinginkan secara cepat akan menjadikan besi semakin keras. Begitupun manusia. Jika anak sejak kecil diperlakukan dengan penuh kelembutan, tidak dengan teriakan, bentakan dan pukulan insyaAllah anak tersebut tidak akan menjadi anak yang keras kepala dan kasar. Maka ketika seorang anak menjadi keras sifatnya, tengoklah cara mendidik dan memperlakukannya sejak dini. Disitulah sesungguhnya letak permasalahannya.

Di bagian tiga buku ini juga diulas tentang kualitas hidup manusia (intan vs arang), kita diajak untuk banyak melakukan muhasabah diri, menghitung dosa, dan kekurangan diri, bukan hanya menghitung-hitung kekayaan. Selain itu, juga dijelaskan tentang pentingnya keteladanan kita sebagai orang tua.

Emma Lucya Fitrianty

2016-01-18 03.32.33

 
Leave a comment

Posted by on February 17, 2016 in resensi

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: