RSS

“Abi, Ati-ati ya Bi!”

09 Feb

Coretan Mantan Staf (ODOP-25)

Hampir setiap pagi sebelum ayahnya krucils berangkat kerja, Mbak Naira (Naira Asfa Kamila, 2y8m) dan Dek Arsyad (Abdullah Muhammad Arsyad, 1y7m) berlari-lari kecil ke teras depan bermaksud mengantarkan ayahnya ke depan. Setelah ayahnya mengucapkan salam, anak-anak salim (cium tangan) dan ‘adegan’ yang selalu membuat hati saya maknyess itu saat Mbak Naira bilang dengan suara tipisnya “Abi, ati-ati ya Bi!” (abi, hati-hati ya, bahasa Jawa). Kemudian dek Arsyad juga nggak mau kalah. Waktu ayahnya sudah di luar pagar rumah hendak men-starter kendaraan, adek juga bilang “Bi, ti..ti..!” (abi, hati-hati, bahasa Jawa) sambil membuka sedikit bagian ujung plastik penutup pagar depan rumah.

Adegan singkat dan rutin tersebut mungkin biasa saja bagi orang lain. Tapi bagi saya, adegan ini terasa begitu istimewa. Berharga. Betapa sudah cukup lama kami (saya pribadi) menginginkan bisa setiap hari seperti ini. Mengantarkan suami berangkat kerja, menyiapkan segala sesuatunya semampu saya. Ya, semampu yang bisa saya lakukan. Alhamdulillah semua ini telah saya dapatkan meskipun cost-nya juga lumayan. Hehe. Tidak gampang lho, mengalahkan ego pribadi sebagai wanita karir dengan segenap alasannya dari A sampai Z. termasuk menyiapkan mental keluarga besar dengan keluarnya saya dari pekerjaan tetap. Jangan langsung bilang : “ah, nggak segitunya juga!” sungguh, dengan kondisi ekonomi keluarga besar saya yang masih belum betul-betul mandiri dan perlu bantuan dari saya, keputusan resign itu tidaklah mudah.

Ibu bekerja fulltime itu memang penuh dilema, apalagi jika kondisinya seperti saya. Dengan dua balita dan tanpa asisten rumah tangga. Ketika ayahnya krucils berangkat, saya kembali membayangkan, bagaimana keseharian kami jika saya jadi ambil pekerjaan fulltime yang harus berangkat jam 7 pagi dan pulang menjelang maghrib. Pasti pagi saya akan terasa buru-buru (seperti dahulu) dan sore hari hanya ada tenaga dan waktu sisa saya untuk krucils. Anak-anak pun ikut diburu waktu, sesuatu yang idealnya tidak terjadi dalam masa Golden Age mereka. Entah bagaimana jadinya. Yang saya khawatirkan cuma anak-anak.

Masih melekat di benak, ketika dulu masih bekerja fulltime dimana masa cuti akan segera habis. Di satu sisi, si Adek juga belum mau minum ASI perah dari botol. Sungguh itu dilema sekali. Sembari melatih si Mbak untuk bermain di Day Care, saya juga harus berjuang melatih si Adek minum ASI dari botol. Saya pun pontang-panting mencari Day Care yang sekiranya dekat dengan tempat kerja, yang amanah, si Adek bisa nyaman, saya pun tenang. Ternyata hasilnya Zonk! Sempat juga saya beraqad ijarah dengan teman dekat untuk menjaga anak saya selama saya kerja. Ternyata ada saja masalah dengan orang tua kami. Bahkan, saya pernah membawa serta Mbak Naira ‘ngantor’ selama dua minggu. Sampai diledek oleh teman kantor “Dek, kamu nanti minta gaji ya ke ummikmu!”  Wah., banyak deh.. nanti saya ceritakan lebih lanjut di space yang lebih luas. Intinya, waktu itu saya gundah. Gelisah dengan semua kondisi yang sebenarnya saya tidak ingin seperti itu. Tidak ingin menitipkan anak ke pihak lain, namun juga belum mampu untuk mengambil keputusan besar untuk “OUT” dari pekerjaan. Makanya, bersyukur sekali saat ini kami bisa berkumpul kembali. Dan Alhamdulillah, saat ini kami sedang belajar melaksanakan hak dan kewajiban masing-masing secara proporsional, meski dalam perjalanannya pasti ada riak-riak kecil. Doakan kami.😀 []

Emma Lucya Fitrianty

alonrider

sumber gambar : alonrider.wordpress.com

 
Leave a comment

Posted by on February 9, 2016 in chickenSoup

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: