RSS

Biarkan Langitku Tak Berpelangi (Sinopsis)

06 Feb

Coretan Mantan Staf (ODOP-22)

Anggi (13) dan Lesti (13) bersahabat baik di pondok pesantren terbaik di Jawa Barat. Orang tua Anggi adalah orang yang hanif dan keduanya hafidz Alquran. Mereka ingin Anggi juga menjadi hafidzah nantinya. Demi cita-cita besar itu orang tua Anggi memasukkannya kedalam pondok pesantren tersebut meskipun biaya masuk pesantren cukup mahal. Itu tidak menjadi soal bagi orang tua Anggi.

Lesti berasal dari keluarga broken home di Jakarta Barat. Orang tuanya baru saja bercerai. Pendidikan agama di keluarganya sangatlah minim. Makanya orang tuanya memilih untuk memasukkan Lesti ke pondok pesantren. Lesti menjadi remaja gaul yang kurang pengawasan orang tua. Sewaktu SD Lesti sempat mengalami suatu kejadian yang membuatnya trauma hingga sekarang. Dia pernah mendapatkan pelecehan seksual, dan itu dilakukan oleh pamannya sendiri.

Anggi adalah sahabat yang care. Lesti mendapatkan sahabat yang tepat. Kurangnya kasih sayang dari keluarga membuat Lesti sangat senang berkawan dengan Anggi. Di pondok pesantren, hampir setiap saat mereka berinteraksi. Mereka berdua makan bersama, jajan bersama dan sering saling curhat tentang permasalahan atau perasaan masing-masing. Anggi menganggap Lesti seperti saudaranya sendiri. Namun ternyata, tidak dengan Lesti. Ada sebuah perasaan spesial dari Lesti terhadap Anggi. Entah itu apa, Lesti masih merasa bingung mendefinisikannya. Hingga apa yang dirasakannya itu ditanyakan kepada guru bahasa Arab, Ustadz Abdurrahman (20).

“Rasa cinta itu anugrah. Naluri. Fitrah. Lumrahnya rasa tertarik itu kepada lawan jenis, bukan dengan sesama jenis. Jalannya adalah dengan pernikahan, bukan pacaran, atau yang lain. Tujuan menikah adalah mendapatkan keturunan, melanjutkan generasi. Bagaimana logikanya cinta sesama jenis akan menghasilkan keturunan? Yang ada nantinya malah memusnahkan generasi. Laknat Allah ta’ala atas orang yang melakukan praktik kaum Nabi Luth (kaum homo/gay atau lesbian), sebagaimana sabda Nabi SAW, “Allah melaknat orang yang mempraktikkan perbuatan kaum Nabi Luth (kaum homo/gay, lesbian)—sampai tiga kali.” (HR Ahmad). Perempuan baik-baik akan mendapatkan lelaki yang juga baik.”

Mendengar penjelasan Ustadz Abdurrahman, Lesti diam seribu bahasa.

Enam tahun menjalani kehidupan pesantren, Anggi dan Lesti melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi. Anggi masuk jurusan Psikologi UI, sedangkan Lesti dikuliahkan orang tuanya ke Amerika.

Gaya hidup liberal di Amerika telah menjadi pemandangan sehari-hari. LGBT (Lesbian-Gay-Bisex-Transgender) telah mendapat angin segar dengan legalitas hukum dari negara. Kehidupan para penganut LGBT nampak sangat menjijikkan. Vulgar. Bendera pelangi mereka kibarkan saat festival Gay Pride beberapa waktu lalu, memproklamasikan eksistensi mereka ke penduduk dunia. “Oh, Tuhan. Aku tak kuat!” teriak batin Lesti. Di Amerika, Lesti kembali teringat dengan Anggi, sosok perempuan yang tetap paling sempurna di matanya. Lesti rindu ingin bertemu Anggi. Saat liburan semester, Lesti sengaja pulang ke Jakarta. Dia minta bertemu dengan Anggi di kampus UI.

Penampilan Anggi yang nampak anggun, tertutup hijab sempurna dengan khimar dan jilbab membuat hati Lesti berdebar. Anggi begitu sempurna. Pertemuan pertama setelah berpisah selama tiga tahun itu meninggalkan kesan istimewa di hati Lesti. “Ah, apa lagi ini?”

Pertemuan kedua telah dijadwalkan dalam waktu yang tidak lama. Lesti ingin tahu lebih banyak tentang kehidupan Anggi saat ini. Dalam pertemuan singkat di mall Jakarta itu, Anggi menyiapkan kado istimewa untuk Lesti. Dalam bungkus kado kecil Anggi menghadiahi sahabat karibnya sebuah mp3 berisi murattal 30 juz suara emas Syekh Hani ar-Rifa’i. Anggi segera menyudahi pertemuan mereka karena harus menyiapkan bahan seminar proposal tugas akhir. Di pertemuan kedua itu, ada kata-kata singkat dari Anggi yang membuat Lesti tak berkomentar apapun. “Aku dikhitbah oleh Ustadz Abdurrahman,” kata lirih Anggi di telinga Lesti sambil memeluk Lesti, kemudian berlalu setengah berlari.

Dalam perjalanan pulang dengan suasana hati tak karuan, Lesti mendengarkan mp3 pemberian Anggi. Suara merdu namun tegas dari Syeikh Hani ar-Rifa’i membersamainya. Hingga sampailah dia pada surat Hud ayat ke-77 hingga 83. Hatinya tersentak. Jantung Lesti berdebar. Sesaat kemudian dia langsung memarkir mobilnya menepi. Lesti ingat betul apa arti surat Alquran yang baru saja didengarnya. Itulah balasan yang begitu pedih bagi para pelaku LGBT. Laknat Allah ta’ala atas mereka.

Tiba-tiba, BRAKKK!! Seorang pengemudi mabuk menyeruduk Honda Jazz miliknya dari arah belakang. Kedua mobil sama-sama ringsek. Si pengemudi mabuk tewas di tempat. Lesti langsung dilarikan ke IGD.

Anggi berada di samping Lesti yang baru sadarkan diri setelah koma selama dua hari. Anggi memegangi telapak tangan Lesti sambil membaca Alquran kecil yang biasa dibawanya ke mana saja.

“Aku ingin sembuh, Nggi! Aku ingin sembuh!” mata Lesti tajam menatap Anggi. Tahu apa maksud kata-kata Lesti, Anggi sesaat terdiam. Anggi tahu pasti bahwa Lesti ingin menjadi orang normal seperti kebanyakan orang. Tak terbelenggu oleh trauma masa kecilnya. Bebas dari penyakit penyimpangan orientasi seksualnya.

Dengan pandangan yang tak kalah tajam dan penuh kepastian, Anggi menimpali. “Menikahlah dengan Ustadz Abdurrahman. Dia orang baik.”

[]

Emma Lucya Fitrianty

wahdah

sumber : wahdah.or.id

 

 
Leave a comment

Posted by on February 6, 2016 in chickenSoup

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: