RSS

Kenapa Menulis, Strong Why?!

05 Feb

Coretan Mantan Staf (ODOP-21)

IPK S1 saya sedikit meleset dari perkiraan. Saya kira bisa cumlaude, eh ternyata setelah diakumulasi masih kurang 0,01 yang cuma 3,50 dengan predikat Sangat Memuaskan. Ya sudahlah, mungkin memang belum rizkinya, karena juga bukan itu yang dulu dikejar selama kuliah (menghibur diri, hehe). Bisa lulus kuliah sarjana saja sudah Alhamdulillah. Ini telah membuktikan kepada keluarga besar saya dulu yang pernah bilang : Opo iso? Opo bapakmu iso nguliahne awakmu? (Apa bisa? Apa ayahmu mampu menguliahkanmu?). Ya waktu lulus SMA sempat ada perang dingin di keluarga karena saya disuruh langsung bekerja saja usai SMA, nggak usah kuliah segala. Toh ujung-ujungnya juga bekerja tho? Begitu kata mereka. Sampai akhirnya surat balasan dari Universitas Brawijaya datang. Saya diterima di Program Studi Statistika melalui jalur Penelusuran Minat-bakat dan Kemampuan (PMDK).

Lalu apa selanjutnya setelah lulus kuliah? Balas jasa ke orang tua? Mencari pekerjaan mapan agar dapat penghasilan tetap setiap bulan? Hmm… telalu naïf mungkin ya kalau kita menyebutnya balas jasa. Karena kita tahu pasti bahwa jasa orang tua kepada hidup kita nggak akan bisa terbalas. Apalagi diganti dengan uang, tak ternilai besarnya. Namun kalau di posisi saya waktu itu, keinginan saya bekerja bukanlah soal perhitungan balas jasa atau ganti rugi (jahat banget ya penyebutannya) kepada orang tua. Tapi karena memang sedang butuh uang untuk membantu mencari tambahan ma’isyah keluarga. You know lah ya..

Mumpung masih single juga waktu itu, insyaallah tidak banyak dilema yang akan dihadapi jika dibandingkan sudah berkeluarga (dan berbuntut, :D ). Setahun pertama fresh graduate saya bekerja sebagai konsultan Statistika. Membantu orang-orang yang sedang penelitian, mulai dari akademisi (S1,S2,S3) hingga praktisi dari banyak departemen. Mulai dari mahasiswa ecek-ecek dari kampus tak terkenal hingga para doctor yang penelitiannya bisa bikin rambut njingkrak, hehe lebai. Alhamdulillah saya juga belajar banyak dari mereka. Sambil nyoba daftar-daftar di departemen milik pemerintah. Ternyata belum rizkinya. Selain itu, saya mulai jatuh hati dengan dunia kepenulisan dan sering menulis untuk buletin yang disebar di kampus. Tahun berikutnya saya mencoba mendaftar lagi sebagai PNS. Hasil istikharah saya memilih ke Kementerian Pertanian pusat dan Pemerintah Kabupaten Kediri. Saya juga ikhtiyar untuk apply beasiswa S2 ke Australia, bahkan sempat bertemu langsung dengan seorang dosen lulusan salah satu kampus terbaik di Ausy.

Suatu ketika ada training motivasi dari seorang pembicara terkenal di kampus. Waktu itu brandingnya sebagai trainer Asia Tenggara (kalau saya nggak salah tulis ya). Yup, benar. Felix Siauw. Kalau pakai bahasa populernya mbak Syahrini, penyampaian beliau Cetar Membahana! Dari setrum yang beliau tularkan kepada para peserta, saya pribadi kemudian berazam untuk sungguh-sungguh menjadi seorang penulis Islami, memulai kiprah dakwah bil qalam di kota Kediri. Sungguh-sungguh!

Dan ternyata, tak perlu waktu lama bagi Allah untuk menjawab azzam saya. Berhubungan dengan pekerjaan, esok paginya saya mendapat sms dari kawan lama yang suaminya bekerja di Kementrian Pertanian. “Selamat ya, Emma! Kamu ketrima PNS di Kementan!” What??? Lalu saya memberi sedikit sureprise kepada Bapak (alm) waktu itu. “Pak, gimana kalau aku ke Jakarta?” bla bla bla. “Aku ketrima PNS, Pak!” Bapak begitu bahagia kala itu. Saya yakin beliau akan langsung sujud syukur di rumah. Doa-doa dan tetes air mata bapak-ibu diijabah oleh Allah. Bapak sempat bilang, “Engko dhisik (Nanti dulu). Ditunggu dulu yang Pemkab Kediri, siapa tahu juga ketrima. Besok kan pengumumannya.”

Saya pun menunggu di kos. Hari berganti. Hari masih pagi, mata saya masih belum benar-benar terbuka. Sms dari kawan lama saya, sesama alumni Statistika UB. “Selamat ya Em, kamu ketrima di Pemkab Kediri! Aku di Pemkotnya.” Allahu Akbar! Azzam saya untuk melanjutkan estafet perjuangan di Kota kelahiran saya terjawab sudah. Setelah ibu saya istikharah, saya memilih Kediri. Apply beasiswa S2-nya saya pending.🙂

Beberapa tahun kemudian, banyak yang terjadi. Saya telah memiliki keluarga baru. Banyak kewajiban baru yang harus saya tunaikan. Ada prioritas. Ada pertimbangan hukum syara’ mulai dari yang wajib-sunnah-mubah-makruh-haram. Dan dengan banyak pertimbangan, pemikiran, memilah, memilih, dan akhirnya untuk kesekian kalinya harus mengambil sebuah keputusan besar. Sekarang, saya memilih untuk menjadi stay-at-home-mom, mengantarkan anak-anak (semoga) menjadi sosok yang matang dalam menjalankan hukum syara’, menyiapkan masa balighnya kelak. Namun sembari insyaallah memegang azzam untuk terus menulis. Menulis. Menyampaikan yang haq. Amar ma’ruf nahi munkar.

Apa yang saya tuliskan ini hanyalah pengingat bagi saya pribadi bahwa untuk sampai pada titik saat ini banyak sekali yang terjadi. Maka sangat disayangkan, jika kemudian saya letoi dan menyerah di tengah jalan. It’s all ‘bout “Strong Why?” dalam menulis. Karena saya ingin! Itu saja.[]

 

Emma Lucya Fitrianty

#BelajarNulis

inspirably

sumber gambar : inspirably.com

 
Leave a comment

Posted by on February 5, 2016 in chickenSoup

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: