RSS

Perempuan Akar

03 Feb

Coretan Mantan Staf (ODOP-19)

Siapa yang tak tahu sosok Khulafaur Rasyidin, mereka yang rela menjadi martir pertama bagi penegakan kalimat tauhid dan berperang di jalan Allah? Siapa yang tak kenal dengan sosok Muhammad Al Fatih, Sang panglima terbaik dari pasukan terbaik penakluk Konstantinopel? Siapa yang tak pernah mendengar nama Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Syafi’i, Imam Hambali dan Imam Ja’fari dengan karya fikihnya yang monumental? Namun tidak banyak yang tahu siapa sosok hebat yang berada di belakang mereka. Orang yang telah berjasa besar membentuk tokoh-tokoh tersebut hingga namanya tersemat di sanubari setiap mukmin. Ya, sosok bunda shalihah pencetak generasi tangguh pejuang Islam.

Mereka para perempuan mulia. Di belakang seorang anak yang hebat pasti ada tangan-tangan ikhlas seorang ibu yang gigih mendidik anak-anaknya. Pantang menyerah dengan segala keterbatasan dan aral kesulitan yang mungkin harus dijalani. Mereka telah membuka mata dunia bahwa mereka bisa melewati semua jalan berliku demi tegaknya Islam. Kehidupan mereka seperti akar, akar yang kokoh. Mereka perempuan-perempuan akar. Rela menembus tanah yang keras berbatu cadas demi mendapatkan air, demi hidupnya sebatang pohon. Mereka gigit kuat-kuat tanah itu agar tak mudah tumbang ketika badai datang. Mereka memang tak nampak, mereka tetap tenang dalam kesunyian di dalam tanah, namun dapat mengubah zaman. Mereka ikhlas. Mereka berilmu. Pembelajar. Berani. Mereka pejuang sejati. Lalu bagaimana dengan kita?

Hidup di zaman sekarang tidaklah gampang. Semua hal hampir selalu diukur dengan uang. Halal haram tidak lagi menjadi ukuran. Tak jarang, para perempuan kehilangan haluan. Minimnya pemahaman Islam membuat mereka mudah dimanfaatkan sebagai objek dagangan. Bagaimana bisa para perempuan ini melahirkan generasi unggulan jika kondisinya demikian? Dan perempuan-perempuan akar? Hanya akan menjadi angan-angan.

Pelangi memang nampak indah, namun sejatinya ia hanyalah fatamorgana. Jangan sampai kita terperdaya dengan kesenangan dunia, latah mengikuti apa yang sengaja dijajakan Barat untuk perempuan-perempuan akhir zaman, padahal penuh kepalsuan. Teringat nasihat Imam Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu. “Aku khawatir dengan suatu masa yang rodanya dapat menggilas keimanan. Keyakinan hanya tinggal pemikiran , yang tak berbekas dalam perbuatan. Banyak orang baik yang tak berakal, ada orang yang berakal tapi tak beriman. Ada lidah fasih tapi berhati lalai. Ada yang khusyuk namun sibuk dengan kesendirian. Ada ahli ibadah namun mewarisi kesombongan iblis. Ada ahli maksiat namun rendah hatinya bagaikan sufi. Ada yang banyak tertawa hingga hatinya berkarat. Ada yang banyak menangis karena kufur nikmat. Ada yang murah senyum tapi hatinya mengumpat. Ada yang berhati tulus tapi wajahnya cemberut. Ada yang berlisan bijak tapi tak memberi teladan. Ada pezina yang tampil menjadi figur. Ada yang punya ilmu tapi tak paham. Ada yang paham tapi tak menjalankan. Ada yang pintar tapi membodohi. Ada yang bodoh tapi tak tahu diri. Ada orang yang beragama tapi tak berakhlak. Ada yang berakhlak tapi tak berTuhan. Lalu, diantara semua itu dimana aku berada?!”

Wallahu a’lam bisshawab.[]

 

Emma Lucya F, S.Si

Penulis

eramuslim

 
Leave a comment

Posted by on February 3, 2016 in chickenSoup

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: