RSS

Nasi Kotak

01 Feb

Coretan Mantan Staf (ODOP-17)

Alhamdulillah, rizki memang tak ke mana. Pas. Tepat waktu. Tak tertukar!😀

Begitu kira-kira kalimat yang bisa mewakili kejadian sore ini. Pas butuh, pas ada. Pas laperr, datanglah nasi kotak. Hehe. Sore ini kebetulan suami pulang lebih awal karena krucils rada rewel. Di kampus lagi lembur garap persiapan akreditasi, biasanya memang dikasih makan, snack dan minuman sama pihak kampus. Yahh, seperti biasa lah. Tapi sore ini terasa lebih spesial karena ternyata Allah ngasih apa yang saya minta, padahal masih di pikiran saja. Waktu saya kepikiran untuk membelikan lauk untuk teman makan malam, suami membuka nasi kotaknya. Ya Alhamdulillah. Meskipun cuma nasi kotak, tapi begitu bernilai harganya (lebai ya, hehe).

Bagi saya sih, saya belajar banyak dari kejadian sore ini. Ya, dari nasi kotak itu saya belajar tentang konsep rizki. Di dalam nasi kotak itu ada nasi, ayam kecap, sambal, lalapan, tahu, tempe bacem, tak ketinggalan kerupuk udang. Betapa hebat upaya dari masing-masing item makanan ini untuk mendatangi kami (terutama saya). Ambil contoh nasi. Betapa berat usaha setiap biji beras ini untuk melewati petani, tengkulak, pedagang, hingga sampai ke tangan tukang jual nasi catering ini, suami saya, hingga sampai ke tangan saya. Berapa ribu kilometer jarak yang ditempuhnya hingga sampai ke mulut saya. Ikhtiyarnya begitu dahsyat dan saya tinggal menunggunya dari dalam rumah. Contoh item lain, ayam kecap. Coba bayangkan, jenis ayam dan peternak yang mana yang menjual ayam tersebut, lalu pindah tangan ke penjual daging ayam, hingga sampai ke tangan saya. Mau potongan dada, paha, atau sayapnya itu semua sudah spesifik dan tak tertukar. Belum item yang lain seperti sambal, lalapan, tahu, tempe bacem, dan juga kerupuk udang. Perjalanan mereka panjang dan lama. Sementara saya? Siapa juga yang menyangka kalau yang menyantap mereka pertama kali justru saya yang menunggui suami datang, bukan malah dia yang sedari tadi malam lembur menyiapkan bahan akreditasi hari ini di kampus.

Begitulah konsep rizki yang dapat saya ambil pelajarannya. Bahwa rizki itu ketetapan. Meskipun kita pergi meninggalkannya, maka rizki akan lari menjemput kita, seperti halnya ajal akan mengejar kita ke mana pun kita akan bersembunyi. Maka saya pun tak perlu iri dengan rizki orang lain. Rizki kita tak akan pernah tertukar. Mungkin saya tak tahu di mana rizki saya, tapi rizki saya tahu dimana saya berada.

Dari belahan bumi yang jauh sekalipun, Allah Ta’ala telah memerintahkannya menuju kepada saya. Allah Ta’ala yang menjamin rizki saya, sejak 4 bulan 10 hari saya dalam kandungan ibu saya. Rizki datang menghampiri tak pernah salah tempat dan waktu.

Keliru besar jika bertawakkal rizki dimaknai dari hasil bekerja. Karena bekerja itu ibadah, sedangkan rizki itu urusan-Nya. Melalaikan kewajiban utama demi mengkhawatirkan apa yang dijamin-Nya, adalah kekeliruan yang sangat besar. Hal ini yang semakin mengokohkan keyakinan akan keputusan saya selama ini. Menjadi stay-at-home-mom (SAHM) sampai anak saya beranjak baligh sudah menjadi keputusan paling tepat yang ada pada diri saya. Buat apa membanting tulang demi angka simpanan gaji, yang mungkin esok akan ditinggal mati, sementara kewajiban saya sebagai al-umm wa rabbatul bait malah tak tertunaikan dengan baik.

Kita (saya, Anda) mungkin lupa bahwa hakikat rizki bukan apa yang tertulis dalam deretan digit angka di slip gaji, tapi rizki itu apa yang telah kita nikmati. Makanan dan minuman yang masuk ke tubuh kita hari ini itulah rizki kita. Baju yang melekat di badan kita hari ini itulah rizki kita. Termasuk kemudahan-kemudahan lain dari Allah Ta’ala yang kita rasakan hari ini, itulah rizki kita. Rizki tak selalu terletak pada pekerjaan kita, Allah memberikannya dari jalan yang tak kita sangka-sangka.

Ikhtiyar itu wilayah perbuatan, sedangkan rizki adalah kejutan. Namun yang perlu diingat, tiap hakikat rizki akan ditanya kelak. “Darimana dan dipergunakan untuk apa?” Jawaban untuk pertanyaan ini yang lebih penting untuk kita persiapkan kelak di hadapan Allah Ta’ala.

Jadi, kita tak perlu iri terhadap rizki orang lain karena rizki kita tak akan pernah tertukar. Maka jangan pernah berusaha mengambil hak rizki orang lain dengan paksa (korupsi, tipu daya dalam berniaga, mark-up laporan keuangan, dan sebagainya) karena pasti di hari lain bagian rizki orang lain itu juga akan diambil balik paksa dari kita oleh Allah. Impas! Karena memang itu bukan hak kita. Rizki hanyalah “hak pakai”, bukan “hak milik”. Semua akan kembali (dan dipertanggungjawabkan) di hadapan-Nya. Begitu kira-kira. Wallahu a’lam bisshawab.[]

 

Emma Lucya Fitrianty,S.Si

Penulis

2016-02-01 18.54.442016-02-01 18.51.30

 
Leave a comment

Posted by on February 1, 2016 in chickenSoup

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: