RSS

Tak Sekadar Berkebun

29 Jan

Coretan Mantan Staf (ODOP-14)

Salah satu indikator keberhasilan pendidikan anak usia dini adalah memiliki motorik halus dan motorik kasar yang berimbang sehingga memiliki kesiapan untuk berlatih disiplin. Untuk motorik halus diarahkan untuk melakukan sesuatu yang membutuhkan kehati-hatian, kesabaran, fokus. Misalnya menuang air ke dalam gelas (atau botol) tanpa tumpah, menggunting kertas, membuat garis, mewarnai, mengekspresikan diri dengan karya seni, dan sebagainya. Sedangkan untuk motorik kasar diarahkan agar fisiknya mampu melakukan gerakan-gerakan yang membutuhkan space lebih luas seperti gerakan melompat, berenang, berlari, naik-turun tangga/ubin, mendaki, menirukan gerakan senam, mengangkat yang ringan-ringan, dan sebagainya. Seimbangnya kemampuan motorik halus dan kasar pada anak usia dini sangat berguna untuk menyeimbangkan kemampuan dirinya dalam proses belajar selanjutnya, sehingga anak-anak mudah bersikap sesuai adab yang diajarkan di usia sekolah.

Pagi ini kami bertiga (saya dan dua krucils) belajar berkebun. Memindahkan tanaman pucuk merah dari polybag ke dalam pot bunga yang lebih besar. Selain itu, juga memindahkan bibit nangka yang Alhamdulillah sudah menunjukkan tunasnya. Semoga akan tumbuh subur ya.

Selain itu, stimulasi berpikir anak usia dini sangat bisa diarahkan untuk mengoptimalkan fungsi keempat komponen berpikir, yaitu otak, indera, fakta, dan informasi sebelumnya. Saat menanam pohon/ berkebun, kita bisa mengoptimalkan fungsi keempat komponen berpikir tersebut dan menstimulasi naluri anak-anak sebagai basis aqidah mereka.

Misalkan, materi tentang tanaman. Pertama kita bisa meminta anak-anak untuk membantu menambahkan sedikit demi sedikit sekam yang sudah kita siapkan sebagai media tanam kedalam pot bunga, dengan catatan tidak tercecer. Itu untuk melatih motorik halus anak. Kemudian kita bisa jelaskan sifat-sifat tanah, air, dan kegunaannya. Kita jelaskan siapa pencipta itu semua dan mengaturnya untuk kehidupan manusia, hewan dan tumbuhan. Hal ini sedikit demi sedikit saya sampaikan kepada anak-anak, belum semuanya dan belum sempurna betul.

Lebih jauh lagi, kita bisa menanamkan pemahaman kepada anak bahwa Allah Maha Pencipta. Kemudian kita minta anak-anak untuk memindahkan bibit nangka kedalam pot (posisi bibit nangka bisa diletakkan di tempat agak jauh dari posisi pot agar ada space bagi krucils untuk berjalan guna melatih motorik kasarnya). Kita jelaskan pula bahwa jika tanaman kita akan tumbuh membesar, subur dan menghasilkan bunga atau buah maka manfaatnya juga akan kembali kepada manusia. Sebagai bentuk syukur dari semua itu maka kita harus merawat tanaman itu dengan menyiramkan setiap hari agar tidak layu atau mati.

Dalam setiap aktivitas apapun sebenarnya sangat memungkinkan mengintegralkan konsep aqidah Islam dalam pembelajaran motorik anak. Tinggal pintar-pintarnya kita yang meramu hal sederhana menjadi pelajaran bermakna yang membekas dalam hati dan pikiran anak-anak kita. Jadi ya memang emaknya harus juga pintar.🙂

Mari belajar membersamai anak-anak kita dengan basis aqidah, bunda!🙂

 

Emma Lucya Fitrianty,S.Si

Penulis

2016-01-29 10.51.45

2016-01-29 10.52.29 2016-01-29 10.52.19

 
Leave a comment

Posted by on January 29, 2016 in chickenSoup

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: