RSS

Bahagia Belajar [Resensi Buku (2)]

28 Jan

Coretan Mantan Staf (ODOP-13)

Bagian dua buku seri parenting karya Ida S Widayanti ini mengupas tentang konsep “Bahagia Belajar”, tentang bagaimana kita sebagai orang tua hendaknya membuat suasana belajar yang positif dan penuh kegembiraan. Ini penting karena dalam kondisi bahagia maka anak-anak akan lebih dapat belajar secara maksimal. Porsi kita adalah menciptakan rasa aman secara fisik dan emosi pada diri anak agar otaknya siap untuk belajar.

Saya teringat kejadian waktu masih duduk di bangku SMP. Waktu itu matapelajaran Pendidikan Kewarganegaraan. Seperti biasa Pak Guru menjelaskan materi. Sampai pada detik di mana ada seorang teman cowok yang berbuat ulah (atau bagaimana ya dulu, saya agak lupa) kemudian diingatkan Pak Guru. Eh, lalu teman cowok saya itu bilang ke teman sebangkunya “Yang waras, ngalah!” Pak Guru ternyata mendengar ucapan teman saya yang kebetulan duduk di bangku depan. Mungkin karena merasa diledek atau bagaimana, beliau naik pitam. Beliau langsung melayangkan tamparannya ke pipi teman saya. Sontak seisi kelas terdiam. Yang ada kemudian adalah rasa takut dan was-was setiap pelajaran yang diampu oleh Pak Guru tersebut. Saya yang tidak ditampar saja merasa kurang berkonsentrasi dalam menangkap pelajaran, apalagi teman saya itu. Bisa jadi teman saya itu merasa kaget, sedih, malu sekaligus kesal. Suasana belajar menjadi tidak kondusif karena kami belajar dalam suasana ketakutan. Dari kejadian waktu itu, sekarang saya memahami bahwa ternyata kita harus menciptakan suasana yang kondusif dan positif untuk anak-anak (termasuk anak didik) agar apa yang kita sampaikan/ajarkan kepada mereka lebih mudah ditangkap dan dicerna. Suasana hati sangat berpengaruh terhadap kinerja otak. Otak akan bekerja optimal saat dalam keadaan emosi yang positif.

Kita perlu memberikan dorongan dan apresiasi pada usaha-usaha kecil yang sudah dilakukan anak-anak kita. Contoh kecil tentang membuang sampah. Kita berikan motivasi kepada anak untuk membuang sampah pada tempatnya. “Ayo, bantu ummik buang sampah ya biar rumahnya tidak kotor. Adek kan anak pintar.” Dengan sigap biasanya si adek Abdullah Muhammad Arsyad (1 tahun 7 bulan) langsung membuang sisa bungkus makanan, tissue kotor atau barang-barang ringan lainnya ke tempat sampah di dapur. Tepat. Maka perlu kita apresiasi dengan mengucapkan “Terima kasih! Adek Arsyad pintar!” atau yang serupa. Atau pada kesempatan lain ketika ada diantara kami yang memberikan stimulus dengan berkata “Haus”, maka si adek akan langsung lari ke dispenser untuk mengambilkan minum air putih. Ucapan terimakasih sudah sepatutnya mereka terima sebagai bentuk apresiasi kita.

Rumah kami hampir tak pernah rapi karena setelah dirapikan, ada saja ulah anak-anak (semoga bukan karena emaknya yang malas bersih-bersih rumah ya, hehe). Kadang mereka bermain air minum dan menuang begitu saja ke lantai, membuang sisa makanan, mencoret-coret dinding, dan yang lainnya. Saya biarkan mereka bermain, belajar banyak tentang kehidupan, tentang kemandirian, kepemimpinan, kerjasama, keberanian. Mengutip tulisan bu Ida “Banyak orang tua yang lebih senang rumahnya rapi serba teratur, daripada menjadi arena bermain atau menjadi ‘ruang praktikum’ tempat anak-anak melakukan berbagai percobaan. Banyak orang tua marah jika anak-anaknya mencoreti dinding atau lantai, yang padahal merupakan bibit-bibit tumbuhnya kreativitas”. Karena rumah adalah kanvas. Kalau begitu, biarlah anak-anak “berkreasi” ya. Kalau kotor ya nanti disapu/dipel. Kalau dinding dicoreti, biar nanti dicat lagi secara berkala. Hehe.

Bahagia belajar, termasuk memahamkan arti yang hakiki dari bahagia itu sendiri. Bahagia tidak selalu dengan mainan yang mahal atau baju yang selalu baru. Namun berbuat baik, membantu ummik buang sampah, mengambilkan minum, berbagi makanan/jajanan dengan teman itu lebih mendatangkan kebahagiaan. Maka kita sendiri harus lebih dulu peka apa makna bahagia, bukan bertumpu pada materi, pangkat, jabatan, atau popularitas.

Masa kecil anak sebenarnya sangat singkat. Mungkin butuh waktu pendampingan sampai 14-15 tahun saja (bahkan ada yang kurang dari usia ini) sampai mereka baligh. Itu tidaklah lama dibandingkan konsekuensi panjang yang harus mereka jalani setelah baligh, saat di mana mereka telah siap menerima konsekuensi syahadat mereka. Saat itu mereka dianggap mampu oleh Allah untuk melaksanakan taklif hukum syara’. Saat anak kita dewasa kelak, mungkin tak banyak yang bisa kita lakukan. Mereka telah memiliki dunia sendiri. Pengaruh kita saat itu pasti tak sebesar semasa mereka kecil. Maka saat ini, saat mereka masih dominan berada dalam pengasuhan, pendidikan, dan pengawasan kita inilah Allah menghadiahi kita ladang amal yang teramat luas. Jadi, janganlah kita sia-siakan berlalu begitu saja. Ya, kita inilah, ibunya.

Kenapa harus kita, ibunya? Karena kita yang (seharusnya) paling dekat dan paling bisa mengerti apa kemauan anak. Karena kita lah yang (seharusnya) paling ingin anak-anak kita pandai dan berakhlak mulia. Karena kita –ibunya- yang (seharusnya) paling lama berada dekat dengan anak-anak kita.

Belajar itu luas maknanya. Kita akan banyak belajar dari penciptaan manusia, alam semesta dan kehidupan ini. Jika kemudian kita mampu mengaitkan ketiga hal (penciptaan manusia, alam semesta dan kehidupan) dengan kehidupan sebelum –dan sesudah- dunia ini insya Allah kita akan menemukan kebahagiaan yang hakiki. Sungguh Allah subhanahu wa ta’ala tidak menciptakan semua ini dengan sia-sia (TQS. Ali Imran (3): 191). Selamat belajar. Selamat berbahagia.[]

 

Emma Lucya Fitrianty,S.Si

Penulis

2016-01-18 03.32.33

 
Leave a comment

Posted by on January 28, 2016 in resensi

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: