RSS

Belajar Bikin Sinopsis (Part-1)

26 Jan

Coretan Mantan Staf (ODOP-11)

KERINDUAN

Basic Story :

Adzan mengalun merdu dari Masjid Al Muhadjirin dekat komplek rumah susun di pusat kota Jakarta. Membangunkan lamunan seorang perempuan tua yang hidup sebatang kara. Segera ia letakkan keranjang bunga dagangannya di atas meja. Dipandanginya lekat-lekat wajah sang cucu yang menghilang 10 tahun yang lalu saat dalam perjalanannya menuju perantauan. Foto yang tergantung pada dinding usang itu seperti kembali menuntunnya pada masa lalu. Segera ia sapu air mata yang menetes dari kedua matanya lalu bergegas sambil tergopoh-gopoh menuju masjid.

 

Sinopsis:

Wati Kusuma (25) akhirnya memiliki seorang anak perempuan bernama Narni setelah sembilan tahun pernikahannya dengan Hadi (30). Suaminya seorang buruh tani di Desa Tegalwaru Jawa Tengah. Kehadiran seorang putri kecil dalam rumah tangganya benar-benar membawa kebahagiaan. Membuktikan kepada tetangga sekitarnya bahwa dia bukan wanita mandul, hanya selama ini Gusti Allah belum mengijinkannya menimang jabang bayi darah dagingnya. Setelah penantian selama tujuh tahun dan ikhtiyar ke sana kemari, semua itu terwujud. Pak Hadi sebagai suami sangat bangga karena dirinya mampu menjadi seorang Bapak. Ah, tak ada yang mereka inginkan lagi. Semua sudah terasa lengkap. Hingga musibah itu pun datang. Rumah berdinding bambu tempat mereka merenda hari terkena longsor karena letaknya yang bersebelahan langsung dengan bukit, setelah hujan beberapa hari. Pak Hadi meninggal setelah tertimbun tanah longsor. Sungguh, betapa hati bu Wati hancur berkeping-keping. Suaminya tercinta meninggalkannya tak lama setelah mereka mengecap kebahagiaan keluarga.

Bagaimana pun, perjuangan hidup harus tetap dilanjutkan. Bu Wati seorang pekerja keras. Demi anaknya beliau bekerja sebagai buruh tani, sesekali menjadi buruh cuci dan setrika jika ada tetangga yang meminta bantuannya. Narni pun tumbuh menjadi wanita dewasa yang cantik. Dia anak yang patuh kepada ibunya dan taat dalam beribadah. Jadilah dia kembang desa. Hal itu menarik hati seorang pemuda bernama Nugroho. Mereka pun akhirnya menikah di usia muda dan dikaruniai seorang putra setelah setahun menikah. Cucu dari nenek Wati diberi nama Anugrah.

Nugroho bekerja sebagai petani. Ada sebidang sawah warisan keluarga yang bisa dijadikannya sumber matapencaharian. Alhamdulillah, cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Selain itu, Nugroho juga menjadi takmir masjid di kampungnya. Anugrah yang bertumbuh kembang menjadi balita cerdas sangat senang ikut ayahnya ke masjid. Dia menjadi cucu kesayangan nenek Wati.

Sampai akhirnya Allah subhanahu wata’ala mempunyai rencana sendiri atas keluarga kecil nenek Wati. Motor bebek yang dikendarai Hadi dan Narni ditabrak truk sepulang dari menghadiri walimahan temannya. Mereka tak tertolong karena luka yang terlalu parah. Innalillahi wa inna ilaihi raaji’uun. Anugrah yang kebetulan saat itu bermain di rumah dan tidak ikut ayah ibunya, dipeluk oleh nenek Wati sangat erat. Begitu erat. Kini, hanya Anugrah kecil temannya satu-satunya. Duh Gusti..!

Suatu hari nenek Wati (47) dipanggil oleh tetangga langganan dia cuci-setrika bernama bu Ira. Merasa kasihan, bu Ira menawarkan pekerjaan kepada nenek Wati menunggu kios bunga miliknya di kota Jakarta dan diijinkan untuk tinggal bersama saudaranya di sebuah rumah susun di Jakarta dekat dengan kios bunga tersebut. Anugrah juga akan diangkat menjadi anak bu Ira. MasyaAllah, tawaran tersebut diamini nenek Wati. Berharap cucunya akan mempunyai masa depan yang lebih baik di Jakarta. Dengan bermodal keyakinan dan uang saku secukupnya dari bu Ira, nenek Wati berangkat ke Jakarta bersama Anugrah. Nenek Wati ingin berangkat sendiri dengan naik kereta ekonomi biasa karena tidak ingin merepotkan bu Ira dan agar bisa menghemat uang pemberian bu Ira. Nenek Wati hanya minta diberi catatan agar naik-turun kendaraan di mana, agar tidak tersesat.

Di tengah kereta -yang seperti pasar karena banyaknya orang lalu lalang berjualan- nenek Wati memegang erat tangan Anugrah yang sesekali ingin bermain dan berlari-lari. Akhirnya mereka diberi tempat duduk oleh seorang penumpang yang baik hati. Alhamdulillah. Nenek Wati yang sudah begitu payah tak sengaja tertidur di dalam kereta, meskipun beliau sebenarnya berusaha agar tidak terlelap. Hingga sampailah di stasiun tujuan, Stasiun Pasar Senen. Nenek Wati yang masih terlelap. Penumpang yang kebetulan duduk di depan nenek Wati membangunkan beliau. Nenek Wati terkaget-kaget. Innalillahi wa inna ilaihi raaji’uun. Anugrah terlepas dari genggaman. Dia raib dari tempat duduk di sampingnya. “Allahu Rabbi! Apalagi ini? Cucuku satu-satunya Engkau ambil juga dari pelukanku??!” Kepala nenek Wati terasa berputar-putar. Semua kemudian tiba-tiba gelap. Penumpang lain tersebut kemudian membopong tubuh nenek Wati ke tempat duduk di stasiun. Direbahkannya tubuh nenek Wati, kemudian dia menghubungi nomor handphone yang tertulis di lembaran kertas kusut di dalam genggaman nenek Wati. Nomor handphone bu Ira menjadi jalan penolongnya.

Adzan mengalun merdu dari Masjid Al Muhadjirin dekat komplek rumah susun di pusat kota Jakarta. Membangunkan lamunan nenek Wati (52) yang hidup sebatang kara. Segera ia letakkan keranjang bunga dagangannya di atas meja. Dipandanginya lekat-lekat wajah sang cucu yang menghilang 10 tahun yang lalu saat dalam perjalanannya menuju perantauan. Foto yang tergantung pada dinding usang itu seperti kembali menuntunnya pada masa lalu. Segera ia sapu air mata yang menetes dari kedua matanya lalu bergegas sambil tergopoh-gopoh menuju masjid.

Anugrah, dia ditemukan seorang pemulung di jalanan dan tinggal di sebuah rumah kardus di bawah jembatan, sudut kota Jakarta. Kehidupan anak jalanan yang keras harus dia lakoni. Hingga dia bertemu dengan seorang wartawan bernama Soni yang kemudian menawarkan kepada anak-anak jalanan tersebut untuk ikut sekolah di kelas taman bacaan. Dasar pribadi Anugrah yang memang baik hasil didikan nenek Wati dan almarhum orang tuanaya dulu, Anugrah mampu unggul dibandingkan anak jalanan lainnya. Dia pun menjadi ‘siswa’ kesayangan Soni dan disekolahkan hingga lulus SMA.

Sungguh ini semua tak mudah bagi Anugrah (14). Kehidupan anak jalanan begitu kelam. Anak-anak usia SD hingga SMP itu hobinya ngelem, merokok, minum minuman keras, sampai ada yang mengonsumsi narkoba. Parahnya, mereka menjadi sasaran empuk orang-orang sadis penikmat seks jalanan. Ngeri! Benar-benar tragis nasib anak-anak itu. Untung ada Soni. Dialah yang sering mengingatkan Anugrah agar tidak terjerumus di jurang kelam seperti kawan-kawannya.

Dunia kepenulisan yang digeluti Soni dilirik oleh Anugrah. Dengan bekal tekad kuat, Anugrah memenangi sebuah perlombaan menulis dengan hadiah beasiswa kuliah sarjana. Empat tahun kemudian, dia pindah dari rumah kardus di bawah jembatan tersebut dan memulai babak baru dalam hidupnya, bekerja sebagai jurnalis di sebuah stasiun TV. Dengan keuletannya Anugrah (25) didaulat menjadi pembawa berita sekaligus produsernya. Dia menjadi orang terkenal. Banyak media memberitakan namanya.

Meskipun di usianya yang telah senja, nenek Wati adalah wanita tangguh. Ia masih kuat berjalan dengan cukup sigap meskipun tak segesit semasa mudanya. Gigi-giginya yang masih tertinggal masih cukup kuat untuk makan jagung rebus, meskipun harus dikunyah perlahan-lahan. Masa lalu telah membentuknya menjadi wanita yang tak mudah mengeluh. Ia masih mampu menunggu toko bunga.

Suatu hari, nenek Wati (63) yang setengah melamun melihat TV di toko bunga, terperanjat melihat sosok pemuda tampan tengah diwawancara di sebuah acara talkshow bertajuk “Dari Anak Jalanan Menjadi Kantoran”. MasyaAllah, dialah Anugrah cucu semata wayang yang selama ini sangat dirindukannya. Akankah nenek Wati mau mengungkapkan jati dirinya? []

 

 
Leave a comment

Posted by on January 26, 2016 in chickenSoup

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: