RSS

(Bagai) Mengukir di Atas Batu

22 Jan

Coretan Mantan Staf (ODOP-7)

Siapa orang tua yang tidak ingin anaknya menjadi salih-salihah? Siapa yang tak ingin keturunannya menjadi qurrata a’yunin? Bukankah di setiap doa kita memohon kepada Sang Pemilik Jiwa “Rabbanaa hablanaa min azwaajinaa wa dzurriyatinaa qurrata a’yunin waj’alnaa lil muttaqiina imaamaa” (Wahai Rabb kami, karuniakanlah pada kami keturunan serta istri-istri kami penyejuk mata kami. Jadikanlah pula kami sebagai imam bagi orang-orang yang bertakwa) (QS. Al Furqan: 74). Dan adalah kebahagiaan tak bertepi jika kemudian anak-anak kita, tanpa sepengetahuan kita, mengangkat kedua tangannya di setiap sujud panjangnya dan berdoa “Ya Allah, haramkan wajah ibuku dan ayahku dari disambar oleh api neraka. Karuniakanlah kepada keduanya surga tanpa hisab”. Sungguh nikmat iman itu tak terbeli dengan apapun di dunia ini.

Pun, untuk membentuk karakter anak-anak kita menjadi seperti itu tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Butuh ilmu, butuh pengorbanan, butuh perjuangan. Benar kalau dikatakan bahwa membentuk kepribadian anak sehingga menjadi matang dan nantinya siap menjalankan taklif hukum syara’ itu bagaikan mengukir di atas batu. Perlu tenaga, perlu sarana-prasarana, perlu repeat (ulangan), dan yang pasti perlu kesabaran. Namun ketika telah berhasil membentuk sebuah ukiran di atas batu maka akan terbentuk sampai kapanpun. Apa yang telah kita ajarkan kepada mereka secara berulang-ulang akan tertanam dalam pikiran anak dan dibawanya sampai dewasa kelak. MasyaAllah, betapa ini semua tidak mudah. Saya pribadi bermohon kepada Allah agar diberikan kemampuan dan kekuatan untuk itu. Semoga Allah melembutkan hati anak dan keturunan kami agar ringan dalam menjalankan segala bentuk ketaatan dalam Islam dan menjauhi apapun yang dilarang oleh agama.

Beberapa hari yang lalu hati saya disejukkan oleh tingkah anak saya yang pertama, Naira Asfa Kamila (2 tahun 8 bulan). Ketika melihat video bunga-bunga bermekaran di handphone dia tunjukkan kepada saya sambil berkata “Mik, Allah..Allah” (dengan kata-kata yang masih cadel, belum sempurna betul mengatakan Allah). Saya pun langsung menangkap pesan dia dan menimpali “Oh, yang menciptakan bunga-bunga itu Allah ya Mbak?” dia kemudian menjawab “He’eh (iya)”. Lalu menunjuk gambar burung di bajunya dengan pernyataan yang sama “Allah..Allah” sambil menunjuk ke arah baju yang dikenakannya. Ini kejutan buat saya. Hadiah besar bagi saya. Alhamdulillah. Dengan si kakak yang mengutarakan pikirannya itu saja saya sudah dibuat senang bukan kepalang. Ya, sesederhana itu. Paling tidak saya bisa menghibur diri (hehe) bahwa konsep “Siapa Pencipta makhluk di dunia ini” sudah masuk kedalam pemahaman anak. Satu poin kami lampaui. Saya berharap semoga proses penancapan aqidah Islam kepada anak-anak kami dapat berjalan dengan sukses, meskipun indikator-indikator kesuksesan pendidikan anak yang lain di usia 0-3 tahun masih harus kami kejar. It’s ok. Let’s enjoy it. []

 

Emma Lucya Fitrianty, S.Si

Penulis

mengukir diatas batu

 

 
Leave a comment

Posted by on January 22, 2016 in chickenSoup

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: