RSS

Belajar Bahagia [Resensi Buku (1)]

18 Jan

Coretan Mantan Staf (ODOP-3)2016-01-18 03.32.33

Buku seri parenting berjudul “Belajar Bahagia, Bahagia Belajar” karya bu Ida S Widayanti ini bagus. Menghadirkan banyak fakta keseharian yang umumnya kita anggap sepele, padahal ada hal-hal kecil yang pengaruhnya sangat besar terhadap kesuksesan kita mendidik anak. Buku setebal 186 halaman ini terdiri dari empat bagian. Bagian pertama mengupas tentang Belajar Bahagia.

Mengutip salah satu tulisan bu Ida yang bertajuk “Makna Bahagia”, “Suatu hari kita membelikan baju yang bagus dan mahal untuk anak, lalu ketika anak mengotorinya, kita memarahinya. Bahagiakah buah hati kita? Apakah maksud kita membelikan baju bagus itu benar-benar untuk kebahagiaan anak kita atau demi kebahagiaan kita sendiri?”

Dari banyak fakta yang disajikan dalam buku ini saya berpikir berulang kali, apakah betul selama ini saya sudah berusaha membuat anak-anak saya bahagia? Atau semua ini hanya untuk kesenangan saya pribadi atau kepuasan semata? Atau lebih parah lagi, hanya demi pencitraan publik agar dicap sebagai ibu yang sempurna? No! Semua upaya kita akan useless jika ternyata itu tujuannya.

Ada banyak kisah hidup orang ‘terkenal’ dipaparkan dalam buku ini. Ternyata mereka tertatih-tatih mengejar kebahagiaan dalam hidup. Christina Onassis, pewaris tunggal pengusaha Yunani, orang terkaya di dunia pada masanya yaitu Aristotele Onassis. Deposito, saham, koleksi seni, real estate, danau, pulau pribadi, perusahaan penerbangan, armada laut serta kapal-kapal pesiar mewah menjadi miliknya. Tetapi apa yang terjadi? Ia ditemukan tewas bunuh diri meninggalkan seorang anak perempuan berusia tiga tahun. Ada lagi, Whitney Houston. Ia dijuluki “The Voice” karena memiliki jangkauan suara lima oktaf serta bersuara indah dan kuat. 415 penghargaan diraihnya dan lebih dari 170 juta albumnya laris manis di pasaran. Namun apa yang kemudian terjadi? Suaminya, Bobby Brown, melakukan KDRT terhadapnya. Ia dan anaknya dijerumuskan suaminya menjadi pengguna narkotik, kokain dan ganja. Ia lalu bercerai. Penyanyi pop legendaris tersebut akhirnya meregang nyawa di kamar sebuah hotel Beverly Hills.

Memang uang (materi) itu kita perlukan dalam hidup ini, tapi uang bukan segalanya. Kisah hidup Christina Onassis dan Whitney Houston mengajarkan kepada kita bahwa materi bukanlah penentu bahagia tidaknya kita. Alangkah menderitanya seseorang jika materi (money) menjadi standar kebahagiaannya. Itulah yang disebut orang-orang kapitalis. Dalam bahasa Arab dinamakan ra’sumalliyun (ra’sun = kepala, mall = harta, uang). Jadi kapitalisme adalah sebuah paham yang menjadikan materi sebagai puncak tujuan hidup dan standar kebahagiaanya adalah jika memiliki materi berlimpah. Didalam kepalanya yang dipikirkan ya uang, uang dan uang. Menurut mereka, orang yang miskin harta adalah orang yang menderita. Parahnya, orang-orang yang berpemahaman kapitalis mau melakukan apa pun asalkan tujuannya tercapai. Tak peduli halal-haram. Tak peduli orang lain terdzolimi atau tidak.

Betapa lelahnya hidup orang-orang yang seperti itu. Materi belum tentu didapat, apalagi kebahagiaan!

Setelah membaca tema ini saya bertanya kepada diri sendiri. Apakah saya telah bahagia? Karena jika saya sendiri tidak bahagia, bagaimana saya bisa menularkan kebahagiaan kepada anak-anak saya? Kalau saya-nya galau melulu, mana bisa membuat anak-anak ceria? Karena ternyata saat-saat anak bahagia itulah moment di mana potensi mereka bisa dilejitkan secara optimal. Sangat disayangkan (bahasa Jawanya eman banget) kalau momen ini dilewatkan begitu saja hanya gara-gara emaknya terus-menerus berdiam diri dalam kesedihan, bahkan menikmati kesedihannya.

Jadi, menjadi bahagia itu pilihan kita. Belajar bahagia itu pun pilihan. Demi anak-anak, kita harus berjuang mengubah mindset dari tidak (kurang) bahagia menjadi (lebih) bahagia. Jika sebelumnya kita sempat bersedih dengan apa yang terjadi, maka pasrahkan semua kepada Sang Pemilik Takdir. Allah subhanahu wa ta’ala lebih tahu apa yang terbaik untuk kita, yang paling pas untuk hidup kita. Tak perlu iri pada kehidupan orang lain. Karena kita tak tahu apa yang telah diambil darinya. Dan kita tak perlu bersedih dengan cobaan yang kita terima karena kita tak tahu hadiah apa yang akan Allah berikan kepada kita besok. Bersyukur. Bersabar. Semua butuh proses. Yuk belajar bahagia! []

 

Emma Lucya Fitrianty,S.Si

Penulis

 

 
Leave a comment

Posted by on January 18, 2016 in resensi

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: