RSS

BUKAN PERNIKAHAN ROMEO -Secuil Obat Bagi Cinta Sehat- *

16 Nov

Apakah cinta itu? Apakah cinta adalah sebuah penyakit? Penyakit yang dapat melanda siapapun manusia yang bernafas di dunia ini? Penyakit yang selalu dan selalu menggerogoti pilar-pilar hati hingga rapuh dikala meradang? Penyakit yang membuat Romeo rela memisahkan ruh dengan raganya? Penyakit yang dapat memacu adrenalin yang tak terhingga sebagaimana Sangkuriang, Ken Arok, hingga Siti Zulaikha dengan Nabi Yusuf-nya? 

Jika cinta memang sebuah penyakit, maka bukan berarti tidak ada obatnya. Sebab segala penyakit selalu ada obatnya. Sama halnya seperti saat Alloh Subhanahuwata’ala menciptakan segala sesuatu, maka akan selalu ada pasangannya. Pun begitu juga seperti tesis, maka akan selalu ada antitesis. Begitulah sunatullah-Nya. Beruntunglah, obat yang paling ampuh untuk mengobati penyakit karena cinta adalah sesuatu yang agung. Pernikahanlah; nama obat itu.

Pernikahan. Tempat berhentinya hati yang telah lama mengembara untuk berlabuh. Tempat yang telah lama dinanti ketika semua yang haram telah dihalalkan, semua yang dilarang telah dianjurkan, dan semua perkara yang dahulu berdosa sekarang telah mengalir pahala.

Mungkin banyak sekali obat lain yang dapat digunakan untuk mengobati penyakit ini. Akan tetapi, obat selain pernikahan yang sah hanya akan mendatangkan penyakit dan merusak cinta. Apalagi obatnya kalau bukan bersatunya dua insan dalam bingkai pemikiran yang penuh barokah?

Menikah yang merupakan proses pendewasaan. Dan untuk memasukinya diperlukan pelaku yang kuat dan berani. Berani menghadapi masalah yang akan terjadi dan punya kekuatan untuk menemukan jalan keluarnya. Kedengarannya indah, tapi kenyataannya? Harus ada ‘komunikasi dua arah’, ‘ada kerelaan mendengar kritik’, ‘ada keikhlasan meminta maaf’, ‘ada ketulusan melupakan kesalahan’, dan ‘keberanian mengemukakan pendapat’, itulah pernik-perniknya.

Menikah yang bukan sekedar upacara yang diramaikan gending cinta, bukan pula rancangan gaun pengantin ala cinderella, apalagi rangkaian mobil undangan yang memacetkan jalanan. Menikah yang berarti berani memutuskan untuk berlabuh ketika ribuan kapal pesiar yang gemerlap memanggil-manggil. Menikah, proses penggabungan dua orang berkepala batu dalam 1 ruangan dimana kemesraan yang berkepanjangan hanyalah bunga.

Masalahnya bukanlah menikah dengan anak siapa, yang hartanya berapa. Bukan pula rangkaian bunga mawar yang jumlahnya ratusan. Bukan juga perencanaan berbulan-bulan yang akhirnya membuat keluarga saling tersinggung, apalagi kegemaran minum kopi yang sama. Menikah yang sangat membutuhkan keberanian tingkat tinggi, toleransi sedalam samudera, serta jiwa besar untuk ‘Menerima’ & ‘Memaafkan’. Menikah yang adalah proses pengenalan diri sendiri maupun pasangan kita. Tanpa mengenali diri sendiri, bagaimana kita bisa memahami orang lain? Tanpa bisa memperhatikan pasangan hidup kita?

Dalam Kitab Al-Qanun fi al-Thib, Ibnu Sina menggambarkan bagaimana cara menyembuhkan penyakit cinta dengan menikah. Ketika itu, Ibnu Sina diminta untuk memeriksa salah seorang kerabat Raja Hyrcania yang sedang mengidap penyakit yang membingungkan para dokter. Lantas Ibnu Sina meminta didatangkan kepadanya beberapa orang yang mengetahui betul jalan-jalan di kota dan nama-nama kota yang ada di sekitarnya. Kepada orang-orang tersebut, dimintanya untuk menyebut nama-nama jalan yang ada di kota itu dan nama-nama jalan di kota sekitarnya. Sedangkan Ibnu Sina hanya meletakkan tangannya diatas urat nadi si sakit. Tak lama Ibnu Sina berkata: “Sekarang saya perlukan beberapa orang yang mengetahui semua rumah dan nama orang yang berada di jalan-jalan dari kota tersebut.”

Satu persatu mereka menyebutkan silih berganti nama-nama rumah dan nama orang yang berada di jalan dari kota tersebut, dan ketika disebutkan nama orang yang tinggal di suatu rumah tertentu, bertambahlah denyut nadi si sakit. Lalu Ibnu Sina berkata kembali, “Pemuda ini (sedang dilanda penyakit) jatuhcinta pada seorang gadis yang tinggal di rumah itu.” Maka … (dengan seizin Alloh Subhanahu wa Ta’ala) sembuhlah penyakit pemuda itu setelah dinikahkan dengan gadis penghuni di salah satu jalan di kota tersebut.

Dengan demikian, jelas bahwa obat yang paling mujarab menyembuhkan penyakit cinta ialah pernikahan. Yakni, setelah mitsaqan ghalizha berlangsung. Ketika dengan lirih diucapkan:  “Angkahtuka wa zawwajtuka binty…” lalu disambut dengan ucapan penuh nada kepastian: “qabiltu nikakhaha.

Berbahagialah! Karena saat itu telah dibuka gerbang kehidupan baru bernama : k-e-l-u-a-r-g-a. Bukan sekedar label suami atau istri yang automatically akan disandang. Namun, lebih dari itu, sebuah konsekuensi dari perjanjian berat yang telah dilafalkan. Ya, membentuk sebuah keluarga muslim yang khas. Tempat pertama bagi setiap manusia memahami makna hidup. Tempat pembinaan generasi calon pemimpin umat. Keluarga muslim sejati, yang mengemban Islam dalam membangun kehidupan keluarganya. Ia dibangun berdasarkan ketaqwaan dalam rangka mencari ridho Alloh Subhanahu wa Ta’ala, bukan yang lain. Ia tidak diukur dari lamanya usia pernikahan, jumlah keturunan dan anggota keluarga, bahkan tidak diukur dari kesakinahan dalam rumah tangga.

Betapa indahnya pernikahan itu jika dilandasi oleh cinta yang sehat! Mencintai karena Alloh! Mencintai perbuatan -orang yang kita kasihi- yang dicintai Alloh! Rasa kasih kepada insan yang dibangun bukan atas dasar nafsu dan ungkapan cinta yang membius, memabukkan, atau bahkan terlalu mengharu biru! Picisan! Bukan pula dengan pacaran atau bahkan pacaran berkedok ta’aruf Islami!

Betapa indahnya jika kecenderungan terhadap lawan jenis (ghorizah an-nau’) itu mampu dipimpin oleh pemahaman yang benar akan arti cinta yang sesungguhnya mampu membuat kita lebih dekat kepada Allah, cinta yang membuat hidup lebih hidup, bukan cinta yang justru membunuh (logika dan keimanan kita) !!

Ya, menikah! Menjadikan suami atau istri kita sebagai sahabat. Menjadi sahabat yang berarti berani mendidik diri menjadi pengayom dan pendengar yang baik. Menjadikan suami atau istri sebagai partner, yang ketika dia jatuh dan atau terpuruk, kita mampu menyemangatinya untuk tegak berdiri kembali seperti semula. Menjadi sahabat yang berarti melengkapi, bukan merubah! Menjadi dia –apa adanya dia- yang lebih baik di mata Tuhannya.

Menjadikan suami atau istri sebagai sahabat terbaik kita, yang ketika orang lain meremehkan, merendahkan dan atau memandang sebelah mata, dengan tangan terbuka kita mau menerima dan membahagiakannya apa adanya tanpa topeng dan syarat apapun.

Betapa indah, ketika seorang suami, istri atau setiap anggota keluarga menjalankan hak dan kewajiban menurut Islam. Betapa indahnya! Islam dipakai sebagai standar dalam berbuat. Islam dijadikan landasan dalam menilai sesuatu. Tidak hanya digunakan untuk mengatur masalah ritual atau ibadah semata. Namun, Islam menjadi ruhnya! Islam menjadi penentu arah kehidupannya! Dan keridhoan Alloh Subhanahu wa ta’ala adalah ukuran kebahagiaannya, bukan kebahagiaan materi atau duniawi!

Menjadikan keluarga muslim sejati sebagai profil tumpuan peradaban! Ideologi Islam yang diemban menjadikannya sebagai mercusuar perjuangan menuju peradaban yang sejahtera dan bermartabat. Keluarga yang memperjuangkan penerapan Islam dalam masyarakat dan negara!!!

Siapa yang tak ingin keluarganya sukses seperti itu? Siapa yang tak ingin keluarganya mampu membawa pengaruh pada pembentukan peradaban dunia? Siapa yang tak ingin membentuk profil keluarga muslim sejati? Dibutuhkan komitmen kuat untuk bisa mewujudkannya, ditengah kondisi keluarga muslim saat ini yang tidak hanya mengalami disfungsi, tetapi juga mengalami disorientasi! Keluarga muslim yang saat ini bergerak menuju kehancurannya!

Perceraian keluarga mengalami tren yang setiap tahunnya meningkat, yang didominasi oleh gugat cerai dari pihak istri. Problem ekonomi keluarga, perselingkuhan, ketidakcocokan pribadi, KDRT, hingga poligami yang tidak tepat. Angka kriminalitas oleh anak, anak perokok, anak terlantar, anak jalanan, perkosaan, free sex bahkan aborsi karena kehamilan yang tidak diinginkan menjadi pajangan di etalase negeri ini yang setiap harinya menjadi barang big sale!

Disisi lain, tekanan ekonomi dan pemiskinan struktural memaksa keluarga muslim terfokus pada fungsi ekonomi, dengan keterlibatan istri sebagai kepala keluarga yang mencari nafkah. Fenomena ini bukan saja bisa memicu perceraian, namun juga terabaikannya kewajiban ibu dan keluarga sebagai pendidik dan sekolah bagi anak-anak di rumah.

Kita pun tau, secara eksternal, problem keluarga juga dipengaruhi kondisi global yang mengungkungnya. Globalisasi-kapitalisasi yang telah sukses menancapkan nilai sekulerisme dan materialisme telah menjadikan anggota keluarga menjadi sosok konsumtif, permisif dan hedonistik!!

Globalisasi-kapitalisasi yang kini mengikat masyarakat sedunia. Globalisasi-kapitalisasi yang membuat kita terjebak dalam labirin persaingan yang membabi buta. Perusahaan-perusahaan multinasional (Multinational Corporations) bersaing menunjukkan taring, demi menggaet hati konsumen dengan beribu strategi produksi dan marketing. Dengan dukungan canggihnya teknologi, masyarakat dihipnotis.

Logika hasrat (desire) dan keinginan (want) jauh lebih dominan ketimbang logika kebutuhan (need). Hasrat telah blak-blakan mengambil alih posisi rasio seseorang dalam bertindak. Inilah KONSUMERISME! Kebutuhan telah termanipulasi. Kebutuhan semu. Palsu!! Tak tahu kenapa butuh barang tersebut. Dorongan untuk membeli dan memakai sesuatu tidak sungguh-sungguh timbul dari dalam diri sendiri, tapi cuma sekedar melihat orang lain berbuat begitu. Membebek! Skizofrenik! Ya, budaya konsumerisme telah menciptakan ‘konsumen skizofrenik’, yaitu para konsumen yang larut dalam kegilaan pergantian produk, gaya, dan prestise tanpa mampu lagi menemukan kedalaman arti untuk apa mereka melakukan hal itu.

Sekali lagi, butuh komitmen kuat untuk mewujudkan profil keluarga muslim sejati yang tahan banting dalam menghadapi semua tantangan ini! Dengan demikian, mewujudkan keluarga muslim sejati tentu bukan mimpi belaka. Sebab, kaum muslim telah dimuliakan dengan Islam. Tinggal bagaimana Islam dihadirkan dalam kehidupan pernikahan, kehidupan berkeluarga, bermasyarakat dan bernegara! Itulah yang akan menentukan!

Oleh karena itu, sesungguhnya satu-satunya cara untuk menyelamatkan keluarga adalah dengan menegakkan Islam sebagai ideologi umat. Artinya, secara internal keluarga mengikatkan diri dengan Islam dalam seluruh aspeknya. Di sisi lain, umat harus mengupayakan berperannya Islam sebagai sistem kehidupan bermasyarakat dan bernegara sehingga mampu menopang tegaknya keluarga muslim sejati yang akan mengantarkan kepada peradaban yang sejahtera dan bermartabat.

Dan hanya sebuah pernikahan Ideologis yang akan mampu mengantarkan kepada rumah tangga muslim sejati, rumah tangga ideologis! Bukan pernikahan Romeo yang dibangun diatas pondasi roman picisan yang membius! Semoga kita, sebagai seorang muslim, bisa menghindari pernikahan Romeo dan menggantinya untuk mewujudkan pernikahan Ideologis.

Maka, raihlah cinta yang sehat itu dan nikmatilah obatnya!

Maka, bersegeralah untuk menikah dan tahan bantinglah! ^_^

[]

*special thx to Ima&Gilang sebagai sumber tulisan yg menginspirasi. salute!🙂

 
Leave a comment

Posted by on November 16, 2012 in chickenSoup

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: