RSS

Perempuan Jepang

05 Oct

Alhamdulillah, saya berkesempatan untuk mengunjungi negeri Sakura, tepatnya kota Kyoto pada pertengahan bulan Agustus 2012 lalu hingga awal bulan September 2012. Pada saat itu bersamaan dengan musim panas. Musim panas yang benar-benar panas. Kata suami saya, jika siang hari di dalam glass house, suhunya bisa ekstrim hingga 50 derajat Celsius, jadi air bisa setengah matang. Kali ini saya belum akan berbicara soal keindahan dan keelokan Jepang, khususnya Kyoto-shi. Saya akan sedikit berbicara tentang perempuan Jepang, tentang apa yang saya lihat dan amati.

Bicara soal perempuan Jepang, sedikit pengalaman di Jepang yang mungkin juga memberikan sedikit penilaian terhadap perempuan Jepang : cantik-cantik, ramah-ramah. Tidak ada perempuan Jepang yang tidak cantik. Tidak ada perempuan Jepang yang tidak ramah. Cantik? Iya! Mereka sangat memperhatikan penampilan, dalam hal ini sangat mengikuti perkembangan fashion masa kini. Karena menurut pengakuan mereka sendiri, fashion bagi mereka adalah nomor satu. Fashion mampu membuat mereka bersemangat dalam hidup. Fashion dan good performance mampu membuat hidup mereka (maaf) lebih ‘bergairah’. Bahkan tampaknya etalase toko sudah berpindah tempat ke jalan-jalan. Semua jenis dan model pakaian plus bagaimana cara berdandan terpampang secara live dengan para model yang benar-benar hidup, yaitu para perempuan Jepang itu sendiri. Sedikit kesimpulan awal saya : “Jepang ini negeri di timur tapi ‘barat’ banget!”

Di sisi lain, melihat secara langsung para perempuan Jepang itu sebenarnya membuat salah tingkah sendiri. Auratnya ke mana-mana. Kalau sesama perempuan mungkin masih bisa disiasati dengan tidak menundukkan kepala saja, karena minimnya pakaian yang mereka kenakan. Tapi kalau bagi laki-laki, tidak akan bisa berkutik! Atas, bawah, kiri, kanan aurat semua! Gawat! Bisa-bisa bermaksiat setiap hari. Bisa-bisa hafalan surat Al Qur’an hilang secara teratur setiap hari. Dan bisa-bisa, banyak doa yang tidak terkabul karena melihat banyak hal yang tidak boleh dilihat. hehehe. Susahnya hidup di jaman modern-kapitalisme ini. Sebenarnya tidak hanya di Jepang, fenomena buka aurat di Indonesia saja juga tidak sedikit, bukan?! Aurat para perempuan disuguhkan secara gratis di jalan-jalan, toko atau swalayan, dan di tempat-tempat yang tidak seharusnya terlihat. Dan parahnya itu semua menjadi hal yang biasa-biasa saja dan tidak menjadi masalah lagi. Astaghfirullah.

Mungkin ini yang dinamakan pengaruh cara pandang kapitalisme itu. Perempuan menjadi komoditas, dengan rela atau pun terpaksa. Para perempuannya rela menjadi semacam office tart-look yang ‘didandani’ seminim mungkin untuk menampakkan sex appeal nya. Weleh.. Karena bisa jadi, naluri seksual bagi mereka adalah sama dengan kebutuhan jasmani yang akan membuat mereka mati jika tidak memenuhinya, entah dengan cara bagaimana pun. Begitu teori Sigmeun Freud yang salah kaprah itu berbicara. Dia menyatakan bahwa naluri seks yang tidak terpenuhi dapat menyebabkan kematian. Sungguh, sebuah tesis yang sangat keliru!

Pada masyarakat asli Jepang, hubungan antara laki-laki dan perempuan tanpa adanya status pernikahan sudah menjadi hal yang biasa. Mereka melakukan semua itu sesuka mereka. Sampai jangka waktu mereka menginginkan untuk menikah, mereka akan menikah secara formal di hadapan Negara. Jika belum mau menikah, meskipun sudah memiliki beberapa anak, mereka tidak akan menikah. Begitulah gaya hidup bebas mereka. Jadi, ketika kita bercakap-cakap dengan orang Jepang, menanyakan perihal keluarga adalah sesuatu yang tabu. Beda sekali dengan kebiasaan kita, orang Indonesia ini yang seringnya SKSD alias Sok Kenal Sok Dekat. Misalnya biasanya kita ketika bertemu dengan orang yang belum atau belum terlalu dikenal, kita menanyakan asal, kabar keluarga dan lain-lain. Namun berbeda halnya ketika kita berhadapan dengan orang Jepang. Menanyakan perihal keluarganya adalah sesuatu yang tabu, karena bisa jadi ‘dia’ tidak memiliki ayah kandung yang jelas, ibu kandung yang jelas, atau lebih parah lagi tidak tahu perihal kedua orang tua kandungnya. Itulah sisi lain dari kehidupan orang Jepang yang diopinikan sebagai sebuah peradaban yang maju itu. Sebuah sisi kehidupan yang menyimpan banyak keburukan sistem kehidupan, karena memang bukan sistem kehidupan yang berasal dari Sang Pencipta alam semesta, yaitu Allah Subhanahu wata’ala. Bagi peradaban barat yang serba bebas ini, lost generation sudah di depan mata mereka. Itulah yang mereka khawatirkan saat ini. Maka saya berbangga dengan Islam saya, karena Islam sangat menjaga kehormatan dan kejelasan nasab (keturunan), sehingga kelangsungan generasi Muslim akan tetap terjaga sampai kapan pun.

Saat di Kyoto, paham kebebasan (liberalisme) yang selama ini hanya saya pelajari di buku-buku telah terpampang di depan mata saya. Karena paham kebebasan itu bukan berasal dari Islam, akibat yang ditimbulkannya juga tidak akan membawa kepada kebahagiaan yang hakiki. Maka tidak sedikit angka bunuh diri di Jepang karena mereka tidak memahami bahwa ada kehidupan yang sebenarnya setelah dunia ini. Mereka memisahkan kehidupan dunia ini dengan kehidupan akhirat (sekuler, fashluddin anil hayah). Mereka tidak memahami bahwa ada akhirat tempat mereka dan kita semua kembali.

Kembali ke topik soal perempuan Jepang yang berbusana minim itu. Kalau ada teman saya yang muslim berkomentar ‘ya wajar mereka berpenampilan seperti itu karena sekarang sedang musim panas’, atau ‘ya wajar kalau aurat perempuan Jepang itu ke mana-mana, lha wong mereka memang bukan muslim. Tidak kenal Islam. Tidak ngerti apa itu aurat’, saya tidak membenarkan komentar itu sepenuhnya. Saya berpikir, kasihan sekali para perempuan Jepang yang sebenarnya berpikir dangkal, tidak seperti perempuan Islam yang mau menjaga kehormatannya dengan menutup auratnya di hadapan nonmuhrim. Bagaimana ya untuk mengubah gaya hidup mereka jika paradigma berpikir mereka berawal dari akidah yang berbeda? Saya berpikir bahwa untuk mendakwahi mereka memang tidak cukup ‘gerak’ dari individu atau sebuah lembaga. Suatu saat nanti, saya yakin Khilafah Islamiyah yang dijanjikan Rasulullah SAW itu akan mampu mendakwahi para perempuan itu secara kolektif tentang bagaimana cara membuat dirinya -benar-benar- terhormat dalam konteks kemanusiaan. Hmm, mungkin topik yang terakhir ini (tentang Khilafah Islamiyah) menjadi tidak menarik lagi atau belum menarik bagi sebagian orang yang memang belum memahaminya dengan mendalam. It’s just the matter of time. Saya hanya percaya bahwa apa yang disabdakan Rasulullah SAW akan kejayaan Islam suatu saat nanti “…Tsumma takuunu khilafah ats-tsaniyah ala minhajin nubuwwah (kemudian aka nada Kekhilafahan yang kedua berdasarkan manhaj kenabian)”  (HR. Ahmad) akan mampu membuat para perempuan, tidak hanya di Jepang, tapi di seluruh dunia menjadi lebih terjaga kehormatan dan kemuliaannya.

Dan tetap saja, sosok ‘perempuan’ itu akan menjadi topik yang selalu saja menarik untuk diperbincangkan sampai kapan pun. Betul begitu?🙂

 

 

 
2 Comments

Posted by on October 5, 2012 in chickenSoup

 

Tags: , , ,

2 responses to “Perempuan Jepang

  1. tomi psyga

    February 21, 2014 at 6:33 pm

    sudahlah negara jepang salah satu negara maju di dunia dan jepang mayoritasnya bukan agama islam,warga jepang sangat toleransi dengan agama apa pun asal tidak mengikat mereka menjadi tidak bebas dalam menjalani hidup. disiplin,aman,bersih,tertib walau pun tidak mengenal agama

     
    • emmakaze

      February 21, 2014 at 9:28 pm

      dalam konsep Negara (daulah) Islam ada yg namanya dzimmi-mu’ahid (kafir yang telah dilindungi oleh Negara Islam karena telah mengadakan perjanjian damai dengannya dan siap membayar jizyah (pungutan) sebagai gantinya). mereka akan dilindungi oleh Negara. so, jangan khawatir. Islam menjamin hidup orang nonmuslim selama mau memenuhi aturan kemasyarakatan yang diberlakukan Negara. orang-orang nonmuslim itupun tidak serta-merta dipaksa untuk masuk Islam atau dibunuhi (misalkan) karena tidak mau masuk Islam. No! Islam itu rohmatan lil ‘alamin. Islam itu manusiawi. ISlam itu sebenarnya agama damai. adapun pencitraburukan Islam seperti sekarang ini adalah hasil perbuatan tangan orang-orang yg dengki/benci kepada Islam. wallohu a’lam bisshowab.

       

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: