RSS

Kebangkitan Semu Muslimah

23 May

[ dimuat di Radar Bogor (22/5/2012) ]

oleh : Emma Kaze*

Kiprah muslimah saat ini semakin beragam. Tidak hanya di sektor domestik, juga di kehidupan publik. Mulai dari profesi guru, dokter, direktur, pengusaha, politisi, akuntan, dan lain sebagainya. Bahkan profesi yang dulu hanya digeluti pria, juga dijamah wanita. Contohnya pemain bola wanita, penarik becak wanita, tukang ojek wanita, sopir taksi/busway wanita, pilot wanita, bahkan ada petinju wanita.

Sayangnya, kiprah itu tak melulu positif. Tak sedikit muslimah yang terjerat kasus kriminal. Seperti penipuan, suap, korupsi, peredaran narkoba, KDRT, bahkan pembunuhan. Ironisnya, pelakunya juga tak sedikit yang –maaf- berkerudung. Kerudung hanya dijadikan kedok untuk melakukan kejahatan.

Ya, wanita tak lagi lekat dengan sifat pemalu, lemah lembut, penurut, suka memasak, banyak anak, patuh pada suami, atau tidak banyak menuntut. Budaya permisif telah mengubah para wanita menjadi pemberani.

Berani menentang suami atas nama keadilan dan kesetaraan gender, berani buka-bukaan aurat atas nama eksistensi diri, tak malu membuka aib sendiri di hadapan banyak orang, bahkan tak ragu membunuh janin dengan dalih menjaga kecantikan diri. Apakah ini kebangkitan muslimah?

PROPAGANDA BARAT

Bila kita cermati, hingga saat ini, muslimah terus menjadi sasaran dari propaganda Barat untuk menjelek-jelekkan Islam dan kaum muslim. Segala bentuk identitas muslimah dipreteli, dan muslimah digiring untuk lebih mendekatkan dirinya dalam pemikiran dan budaya Barat yang sekuler.

Lalu, mereka mencoba untuk mengintegrasikan kehidupan Muslimah ke dalam peradaban Barat, seraya membuat penafsiran tentang Islam dan tentang Muslimah menurut persepsi mereka. Bisa jadi memang banyak muslimah yang menutup auratnya, namun hanya mengikuti tren yang sedang berkembang. Kebangkitan muslimah yang dielu-elukan masih merupakan kebangkitan semu.

Pada 2002, BBC dalam dokumennya berjudul ‘Faith in Fashion’, secara khusus membahas bagaimana seorang wanita bisa menjadi muslimah sekaligus menjadi bagian dari lingkaran fashion seperti di masyarakat Barat. Dimana, mereka memiliki keinginan untuk mengadopsi gaya pakaian Barat yang sudah ‘di-Islamkan’ –bagaimanapun bentuknya!

Karena itu, saat ini yang menjadi fokus perhatian Barat ialah mendiskreditkan dan membuat batasan baru tentang pakaian muslimah, serta penguatan konsep Barat tentang cara menetapkan apa yang benar dan apa yang salah (menurut persepsi mereka).

Iklan-iklan televisi Barat mempropagandakan slogan-slogan seperti “because I’m worth it” (karena saya layak mendapatkannya), seolah-olah ingin mengatakan bahwa wanita yang tidak menggunakan produk mereka berarti tidak menghargai dirinya sendiri.

Bukankah slogan ini juga telah merasuk ke jantung-jantung muslimah di negeri ini (disadari atau tidak)? Karena itu, tidaklah mengejutkan jika wanita-wanita muslimah –termasuk di negeri ini- menjadi semakin konsumtif, obsesif, dan begitu sibuk mengurusi penampilannya, mengalahkan masalah-masalah lain dalam kehidupannya.

Jadi tidak heran kalau banyak kita jumpai muslimah berkerudung pelaku maksiat, getol pacaran, bahkan menjadi pemeran utama video mesum dengan pacarnya. Hal ini karena pola pikir muslimah justru semakin sekuler dan liberal. Atau fakta lain, kasus penipuan atau korupsi yang dilakukan oleh seorang muslimah. Mereka melakukannya karena tergiur gaya hidup materialistis. Mereka gagal mengikatkan dirinya kepada suatu perangkat nilai-nilai Islam sesungguhnya. Inilah buah nyata serangan pemikiran Barat. Inilah ancaman ideologi Kapitalisme sekuler yang menjadikan materi dan kesenangan dunia sebagai orientasi akhirnya.

KEMBALI KE ISLAM

Kebangkitan hakiki muslimah hanya jika mereka kembali pada Islam. Tidak hanya penampilan luarnya, tapi menyeluruh. Pola pikir, pola sikap dan perilakunya harus benar-benar kembali berpegang teguh pada Islam. Mereka memiliki kepribadian Islam. Berpegang teguh pada ajaran Islam, menjalankan perintah Allah SWT dan menjauhi larangan-Nya (takwa).

Islamlah yang harus menjadi standar perbuatan seorang muslimah, bukan budaya Barat yang sangat bertentangan dengan keimanannya. Dengan Islam sebagai rujukan yang melekat di kepalanya, terlepas dari tekanan atau realitas yang ada, seorang muslimah justru akan terhormat, mulia dan meraih kebangkitan hakiki.

Standar mereka dalam menilai baik (khoir) dan buruk (syar) hanyalah Islam. Mereka menjalankan ajaran Islam bukan berdasarkan suka atau tidak suka, namun semata-mata hanya untuk mendapatkan keridhoan Allah SWT. Kebangkitan hakiki yang mereka contohkan dapat diraih jika seorang muslimah memahami posisi dan peran sesuai yang digariskan syariat Islam secara kaffah. Bukan menuntut kebebasan seperti perempuan Barat.

Kita bisa bercermin pada para muslimah di masa keemasan Islam. Sejarah mencatat nama-nama besar seperti Sayyidah Khadijah binti Khuwailid r.a., Sitti Fathimah Az-Zahra r.a., Asma binti Abu Bakar r.a., Sumayyah r.a., Ummu Habibah binti Abu Sufyan r.a., Lubabah binti al-Harits al-Hilaliyah r.a., Fathimah binti al-Khaththab r.a., Ummu Jamil binti al-Khaththab r.a., Ummu Syarik r.a., dan masih banyak lagi. Sejak bersentuhan dengan Islam, keseharian mereka hanya dipersembahkan demi kemuliaan Islam.

Merekalah pelopor dan peletak dasar pilar-pilar pergerakan muslimah yang hakiki, yang layak menjadi teladan pergerakan muslimah dari zaman ke zaman. Mereka mampu seperti itu karena hidup dalam naungan Negara Khilafah Islamiyah.[]

*) Penulis buku “Lelaki Hermaprodit”.

 
Leave a comment

Posted by on May 23, 2012 in opini

 

Tags: , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: