RSS

Sepeda Jengki Pak Sabar

20 Nov

Sepeda jengki butut warna biru adalah teman sejatinya setiap hari. Selama empat jam dia harus mengayuh sepeda bututnya itu dari rumah hingga sampai ke tempat kerjanya ini. Tiap hari! Empat jam, bahkan lebih! Jika tiba-tiba di tengah jalan, ban sepedanya bocor, kondisinya akan lebih parah lagi. Berjam-jam dia harus berjuang melawan crowd jalan dan kotornya udara luar. Dari jam 5 pagi dia harus mencari pengganjal perut sampai dengan senja, bahkan gelapnya malam senantiasa menemaninya mengayuh sepeda hingga sampai ke rumah. Dia pun tetap mengayuh sepeda bututnya itu. Setiap hari.

Namanya Pak Sabar. Seorang pria paruh baya yang sudah mengabdi di tempat kerjaku* ini hampir selama 30 tahun. Sebenarnya, saat ini dia sudah pensiun. Namun, tuntutan ekonomi memaksanya harus tetap bekerja. Jadi, saat ini dia menjalani kerja serabutan dengan mengantar surat, fotokopi berkas, atau pekerjaan-pekerjaan yag dirasa orang lain remeh-temeh! Dan dari situlah dia mendapatkan upah.  He is absolutely different!  Ya, dia memang berbeda. Beda sekali dengan orang-orang kebanyakan di tempat kerjaku ini.

Dia memang beda. Hampir semua orang berasumsi bahwa tempat kerjaku ini adalah tempat yang bergengsi untuk bekerja, meningkatkan prestise gitu loh, katanya, tempat gawe-nya orang-orang berduit!

Disini, hampir semua orang menilai segala sesuatu dengan parameter materi. Keberhasilan diukur dengan uang! Uang! Dan uang! Sebuah tolok ukur  ‘jongkok’! Ya, di sinilah tempatnya. Disini, siapa yang tak ingin dianggap kaya? Siapa yang tidak mau dianggap tak ber-uang? Rata-rata, hampir semua orang ingin dicap seperti itu. Meskipun harus menghutang kesana kemari, untuk beli mobil -mewah-, rumah -elit-, atau barang-barang tersier lainnya. Meski dengan cara yang ‘abu-abu’ (bahkan meng-‘hitam’), entah dengan riba atau bahkan menghalalkan segala cara dengan, tak perlu minta maaf, korupsi!

Namun Pak Sabar tetaplah Pak Sabar. Tak pernah berubah meski seisi dunia seakan berbondong-bondong mencari dunia. Berduyun-duyun mengumpulkan harta dan kekayaan. Dia hanya mencari tambahan sesuap dua suap nasi untuk menyambung hidup keluarga kecilnya, sekali lagi dengan sepeda bututnya.

Bagiku, dialah orang yang paling terhormat di tempat ini, sepeda bututnya adalah icon! Icon  untuk melawan paradigma berfikir materialis yang (mungkin) tak -mau- dipahami oleh orang lain! Senyumnya yang renyah setiap kali bertemu dengan orang lain bahkan jauh lebih ikhlas dan mampu menghujam di hatiku dibandingkan esensi retorika-retorika para parlente di tempat ini, mereka yang masih menganggap orang-orang sepertiku sebagai ‘kaum buruh’ (kata yang kudengar sendiri dari seorang dari mereka).

Harta Pak Sabar, bagiku, jauh lebih berharga dibandingkan harta mereka yang kebanyakan tak jelas jluntrungan (asal, red)-nya dari mana. Uang receh milik Pak Sabar jauh lebih bernilai dibandingkan lembaran ratusan ribu rupiah yang ‘mungkin’ diberikan oleh ‘orang-orang berduit’ itu kepada dia. Hati Pak Sabar mungkin lebih steril dibandingkan hati kita yang sudah banyak menelan mentah-mentah racun dan bakteri. Doa Pak Sabar mungkin lebih ikhlas dibandingkan doaku, doamu dan doa mereka kepada Tuhan. Dan -bisa jadi- Pak Sabar akan lebih dulu menyapa para ahli jannah Adn (surga Adn, red) dengan mengendarai limusin keluaran terbaru.

Bagaimana denganku?

(sekali lagi,, curhatan ‘dia’ yang hampir terhempas)

[]

*tempat kerjaku adalah sebuah ‘imperium’.

 
Leave a comment

Posted by on November 20, 2011 in chickenSoup

 

Tags: , , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: