RSS

Passion

19 Nov

Setiap orang pasti punya cita-cita, sesuatu yang ingin diraih dalam hidupnya. Aku juga. Setiap orang pasti punya keinginan kuat untuk memiliki. Be have. Aku pun juga. Siapa sih di dunia ini yag tak ingin memiliki sesuatu yang diinginkannya dalam hidup? Memiliki, yang kemudian membentuk The Have, manusia-manusia yang bisa dengan gampang memiliki apapun yang dia ingini, directly, pada saat itu juga.

Namun, ternyata tak semua orang punya keinginan untuk ‘menjadi’, To Be. Banyak orang yang hanya ingin mengejar materi..materi dan materi..’memiliki’, bagaimanapun caranya, entah dengan cara yang dia suka, benci, dengan cara yang manusiawi, bahkan dengan cara seperti binatang melakukannya. They don’t care anymore about how the way is! Tak peduli apapun itu, asalkan yang dikejar dapat dimilikinya. Hedonis! Itu.

Sekarang, pola pikirku bisa dikatakan telah berubah. Setelah pertarungan pemikiran selama kurang lebih lima tahun  dengan orang-orang cerdas dan dengan pemikiran yang telah kurasakan membuatku mampu menginjak bumi [lagi], tak terbelenggu lagi oleh fantasi-fantasi To Have yang melangit, yang selama ini telah membuatku menjadi workaholic atau bahkan menjadi mumi yang berjalan, hanya sekedar mengumpulkan segebok rupiah setiap minggunya.

Aku, di sini, sekarang, tidak berorientasi pada materi, apalagi seperti mereka yang sex-oriented, yang ujung-ujung pembicaraannya selalu seputar paha, atau pada topik perbincangan sekitar sex appeals lain yang dimiliki seorang perempuan. Owwgghh…No!!! Aku bisa gila kalau selalu harus berhadapan dengan mereka. Para pemilik om-es alias otak mesum. Bah!

Ya, orientasiku sudah berbeda. Bukan lagi materi, atau seks apalagi.

Aku ingin ‘menjadi’. To Be. Karena dengan aku ‘menjadi’, maka aku bisa memiliki apa yang ingin kumiliki. Bukan juga berarti ujung-ujungnya materi. Tidak kawan! Karena di bumi ini, ternyata ada yang jauh lebih berharga dibandingkan materi, uang, jabatan, pangkat atau apalah turunannya. Kini, tidaklah materi yang kukejar, namun aku ingin mendapatkan bahagia. Bahagia, yang menurutku parameternya tidak lagi materi, tentunya. Kalau gitu (jika parameternya materi) mah, podo wae [sama saja]. Bahagia menurutku, adalah ketika Tuhanku bisa tersenyum ketika melihat apapun yang kulakukan.

To be. Tentang menjadi apa dan siapa. Sosok yang kuingini. Tentang sesuatu yang ingin kukejar dan kuraih. That’s my passion, kawan. Passion!

Apa yang menjadi passion-ku? Aku menerawang, berpikir tentang apa yang sudah kujalani selama hampir 6 tahun ke belakang.

Dulu, selepas SMA, dengan susah payah, dengan sangat payah aku memaksa orang tuaku. Pokoknya aku ingin kuliah! Titik! 4 tahun kujalani dengan tidak mudah. Sekali lagi, tidaklah mudah, kawan. Ya, aku diterima di Program Studi Statistika Jurusan Matematika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, di salah satu universitas ternama di Kota Malang. Waktu-waktu kuliah yang tak mudah bagiku. Pernah aku kerja serabutan, menjual jajanan pasar di kos-kosan, menjual donat door to door dari satu kos ke kos yang lain, menitipkan roti buatan temanku di kos teman, menjadi guru privat dengan berjalan kaki sejauh hampir 3 kilometer (karena pada saat itu aku tak memiliki sepeda atau motor sendiri). Aku masih sangat ingat, ketika itu hujan deras sekali. Dibawah guyuran hujan, aku tetap teruskan berjalan…dan berjalan…padahal kurasakan kakiku terasa sangat sakit yang hampir aku tak mampu menahannya. Ngilu! Ya Tuhan,, aku lakukan semua itu demi aku bisa lulus kuliah. Hanya itu keinginanku pada saat itu. Pasrah sepasrah-pasrahnya kepada Tuhanku, kawan. Aku yakin, suatu saat nanti, Tuhanku akan mengabulkan asaku yang terpendam selama bertahun-tahun.

4 tahun yang penuh liku dan tantangan untuk aku tetap bertahan, survive dan terus berharap. Hingga saatnya aku memakai toga kebesaranku, aku diwisuda. Sebuah pencapaian yang cukup besar, kala itu, bagiku.

Belum sampai 24 jam setelah prosesi wisuda selesai, tuntutan hidup sudah menyapaku terlalu awal. Penggggg!!! Ubun-ubunku terasa pusing seketika. Tuntutan kerja dari orang tuaku, ya…kerja! Sudah waktunya aku membalas pengorbanan orang tuaku, katanya. Namun apakah juga harus kubalas dalam bentuk materi? Ha?

Setelah 2 tahun bekerja serabutan, aku melihat, sepertinya menjadi seorang pegawai negeri akan membuatku aman dan nyaman nantinya, kerja yang tak begitu memforsir tenaga. Menjadi orang kantoran.

Asaku ternyata dikabulkan Tuhanku (Tuhanmu juga kan kawan?!) Bahkan waktu itu, aku diterima di 2 instansi yang berbeda. Kuminta ibuku untuk memilihkan. Ibuku, orang yang telah perjuangannya tak mungkin dapat kubalas dalam hidupku.

Kata orang, hidup itu pilihan. Ya benar. Namun pada saat itu, pilihan untuk bekerja bukanlah pilihan yang mudah. Bolehkah aku bilang aku terpaksa? Sementara di sisi kehidupan yang lain di luar diriku, sudah terlalu banyak orang yang tak mampu menyokong hidupnya sendiri, kelaparan, bahkan mati terkapar busung lapar!! Betapa tidak bersyukurnya aku jika aku bilang kondisiku ‘terpaksa’ bekerja? Oh..my!!!

Okelah, aku menjalani fragmen hidupku saat ini.

Maka kini, hampir 2 tahun aku menjalani pekerjaanku disini. Di tengah suasana kerja dengan ritme yang sangat lamban, dengan mesin ketik yang [maaf] sudah aus dan berusia puluhan tahun. Bekerja dengan mengenakan seragam setiap hari. Semuanya terasa stagnan! Aku semacam merangkak di tempat. Berjalan saja tidak bisa, apalagi berlari???? Owwgghhh…Tidak!!! Aku hampir gila pada masa awal-awal harus beradaptasi disini. Apakah ini adalah passion-ku? Jiwaku yang sebenarnya menyukai ritme kerja yang dinamis dan berpetualang. Bolehkah aku keluar dari pekerjaanku ini kawan? Tapi…tapi…bagaimana dengan ibuku dan air matanya yang sudah kadung tumpah ketika beliau dengan sangat girang (dulu) mendengar kabar bahwa aku diterima sebagai seorang pegawai negeri? Orang tua yang selalu menginginkan anak-anaknya berada dalam wilayah ‘aman’. (ceritaku ini mungkin membuatmu bosan, tapi tidaklah salah jika kau teruskan membaca note-ku ini sampai selesai …^^)

….

Suatu siang, aku disodori sebuah novel oleh bosku. ‘9 Summers 10 Autumns Dari Kota Apel ke The Big Apple’, cerita hidup Iwan Setyawan, seorang lulusan Statistika juga. Di IPB Bogor. Dia yang anak seorang sopir telah berjuang dan membuktikan kepada dunia bahwa dia mampu menembus New York City, the Big Apple. Ya, dia. Dia yang telah mengejar dan mewujudkan passion-nya. Sebuah tamparan buatku, bahwa sebenarnya aku pun mampu mewujudkan passion-ku sendiri. Seharusnya!😦

Namun, bukanlah pilihan yang mudah, kawan, untuk memilih keluar dari pekerjaan ini! Maka, disini, aku hanya ingin berbagi denganmu. Berhati-hatilah dalam memilih pilihan hidupmu, kawan, pikirkanlah lagi selagi kamu memiliki pilihan yang lain. Karena ketika kamu menentukan sebuah pilihan, maka bisa jadi kamu akan menghabiskan sisa hidupmu dalam pilihanmu itu. Selamanya. Maka sekali lagi, pikirkanlah baik-baik setiap pilihan hidupmu!

Hmm..lalu, bagaimana denganku? Akankah aku mengejar passion-ku?

Dalam waktu dekat, aku hanya ingin memiliki keluarga kecil yang bahagia, memiliki anak, menjadi istri sekaligus ibu yang baik untuk keluarga kecilku nanti. Itu keinginanku sekarang. Sederhana, bukan? Dan mungkin bagimu, keinginanku ini tidaklah setinggi dan sebesar cita-cita seorang Iwan Setyawan. Tapi bagiku, keinginanku yang ini tak ternilai harganya.

Semoga Tuhan mengamini. Semoga Tuhan juga tersenyum padaku.

[22nd October 2011, curhatan ‘dia’; ketika uang tak lagi bergeming]

[]

 
Leave a comment

Posted by on November 19, 2011 in chickenSoup

 

Tags: , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: