RSS

Dengan Melepasmu, Aku menang

01 Nov

“Oke, kalau memang itu yang kamu mau, maka aku akan mengabulkan permintaanmu untuk yang ketiga kalinya. Maka dengan ini, aku menceraikanmu!!!!!!!”

Darrr!!! Darrr!!!

Kata-kata itu masih saja terngiang dalam benak Atikah. Siang malam dia tak mampu melupakan kata-kata talak itu. Tidak main-main. Ini adalah talak tiga yang telah dengan sadar dilontarkan oleh suaminya, Radit. Talak dimana seorang suami sudah tidak bisa rujuk atau menikahi istrinya lagi. Talak yang tidak mungkin bagi Radit untuk bisa menikahi Atikah lagi sebelum Atikah menikah lagi dengan orang lain. Dan pernikahan kedua itu sendiri juga bukanlah pernikahan main-main. Mereka juga harus bercampur terlebih dulu.

Sebelumnya, Radit telah dua kali menjatuhkan talak kepada Atikah. Hanya karena cemburu. Ya, Radit memang sangat pencemburu. Dalam dua kali talak sebelumnya, mereka berdua juga telah pisah rumah akibat pertengkaran besar. Namun, tidak sampai satu bulan setelah mereka bercerai, ternyata Radit meminta rujuk kembali. Dua kali Radit meminta rujuk. Dua kali pula Atikah kembali menjalani rumah tangganya dengan Radit.

Sebenarnya Atikah sudah sangat menjaga kehormatannya sebagai seorang muslimah dan iffahnya sebagai seorang istri. Dalam berpakaian, dia selalu menutup auratnya dengan kerudung dan jilbabnya. Tak pernah dia memperlihatkan auratnya kepada lelaki non muhrim, walaupun seujung rambut pun. Dia adalah sosok muslimah dambaan.

Sebelum akhirnya menikah dengan Radit, Atikah sebenarnya telah berta’aruf dengan seorang ikhwan bernama Atka, mereka berdua dulu sama-sama aktif di lembaga kerohanian Islam di kampusnya. Dulu, sebenarnya dari pihak Atikah dan Atka sudah ada komitmen untuk meneruskan proses ta’aruf tersebut ke tahap yang lebih serius. Keluarga Atka di Indonesia juga telah datang ke rumah Atikah untuk mengkhitbah, karena Atka sedang meyelesaikan tahap akhir tesis program masternya di Australia. Tiba-tiba saja, dari keluarga Atikah memutuskan hubungan tersebut secara sepihak.

Ternyata, ayah Atikah terlibat masalah hutang piutang yang cukup complicated dengan keluarga Radit. Dalam masalah itu, ada sebuah kesepakatan bahwa hutang piutang itu akan dianggap selesai jika Atikah mau menikah dengan Radit. Benar-benar seperti cerita Siti Nurbaya! Dengan sangat terpaksa dan nafas yang berat, Atikah menerima Radit, tanpa Atikah mempunyai hak untuk tahu seperti apa Radit itu.

….

“Mohon maaf akhi, saya tidak bisa meneruskan proses yang sudah kita jalani sampai sejauh ini. Saya mohon maaf sekali lagi,” kata Atika kepada Atka melalui telepon. Kemudian Atikah langsung menutup percakapan, tanpa penjelasan.

Tuuut…tuuut…tuuut…

“Apa? Tapi ukhti, apa yang terjadi? Ukhti… Ukhti…”

Darrr!! Darrr!! Darrr!!

Petir serasa menyambar ulu hati Atka. Bayangan akan pernikahan yang sakinah, mawaddah dan penuh rahmat yang akan dijalaninya bersama Atikah seakan mengabur. Berkali-kali Atka meyakinkan dirinya bahwa apa yang didengarnya dalam telepon dari Atikah itu hanyalah mimpi, namun berkali-kali pula Atka gagal. Dia yang sedang meyelesaikan babak akhir masternya di Australia tidak mampu berbuat banyak. Terpisah oleh jarak. Melalui informasi seorang teman di Indonesia yang dapat dipercaya, dia kemudian tahu kenapa Atikah mengatakan hal yang menyakitkan itu. Bahwa Atikah sebenarnya terpaksa melakukan hal itu. Pil pahit itu pun terpaksa harus mereka telan mentah-mentah.

Suasana rumah tangga Radit dan Atikah memang tidak pernah harmonis. Pribadi mereka berdua sungguh sangat berbeda. Ibarat matahari dengan bulan. Sungguh sangat jauh berbeda. Watak Radit sangat keras. Kekerasan fisik seringkali diterima oleh Atikah. Atikah hanya bisa pasrah. Pasrah. Berharap suaminya akan berubah menjadi lebih baik. Namun, kekerasan fisik yang terakhir ini betul-betul sudah tidak bisa ditolerir! Sudah membahayakan nyawanya.

…..

“Plakk! Plakk!”

Tidak hanya tamparan Radit yang diterima Atikah. Lebih dari itu. Wajah Atikah masih tampak tegang. Tubuh Atikah kini masih gemetar.

“Kalau begini terus caranya, aku benar-benar nggak tahan lagi, mas” kata Atikah menahan perih di mulutnya karena berdarah.

“Kenyataannya begitu kan? Kamu selingkuh dengan teman kerjamu itu! Dasar istri tidak taat! Tak ada bedanya kau dengan wanita-wanita yang menjajakan dirinya di tepi-tepi jalan itu!” pekik Radit.

“Itu semua nggak benar! Fitnah! Atas dasar apa kau mengatakan hal keji seperti itu kepada istrimu sendiri, mas? Kau kejam!” bantah Atikah karena sudah tak tahan lagi dengan fitnah keji dari suaminya itu.

“Ahh.! Sudahlah. Tak usah berkilah!” jawab Radit.

“Baik. Ceraikan saja aku, mas! Ceraikan saja aku! Sekarang juga! Aku sudah tidak mau lagi menjadi istrimu lagi!” teriak Atikah. Dia sudah tidak bisa lagi untuk bersabar.

“Oke, kalau memang itu yang kamu mau, maka aku akan mengabulkan permintaanmu untuk yang ketiga kalinya. Maka dengan ini, aku menceraikanmu!!!!!!!”

Darrr!!!

Suara bantingan pintu kamar itu begitu lantang. Gaduh. Radit kemudian melangkah keluar dari kamar menuju ruang tamu. Duduk di sofa.

Sementara itu, Atikah masih saja menangis di dalam kamar. Dia sudah tidak tahan lagi dengan semuanya. Dia pulang ke rumah orang tuanya.

Ketika datang di rumah orang tuanya dengan membawa koper besar, Atikah disambut oleh ayahnya tercinta.

“Ada apa nak? Kamu bertengkar lagi dengan suamimu?”

“Lebih dari itu ayah! Kami berdua telah resmi bercerai.”

“Apa kamu bergurau, nak?”

“Tidak ayah. Atikah tidak bergurau.”

“Kamu sendiri sudah paham nak. Kamu dan suamimu telah melakukan sesuatu yang sangat dibenci Allah! Ingat itu!”

“Maafkan Atikah. Atikah tak bisa memenuhi keinginan ayah untuk mempertahankan rumah tangga kami. Maafkan Atikah, ayah! Atikah sangat paham arti perceraian. Justru kalau pernikahan kami dilanjutkan, kedzoliman akan terus terjadi. Sekali lagi, maafkanlah anakmu ini.” Atikah duduk bersimpuh di kaki ayahnya.

Ayah Atikah melihat wajah putri semata wayangnya itu yang membiru dan lebam. Seperti baru dipukuli. Ayah Atikah mendadak menangis. Kemudian, beliau memeluk putrinya itu sebagai tanda permintaan maaf, karena beliau sangat merasa bersalah karena beliaulah yang memaksa Atikah menikah dengan Radit.

“Maafkan ayah, nak, kalau ternyata ayah yang menyebabkanmu menjadi seperti ini!”

Atikah pun menceritakan semua hal yang dialaminya, tentang perlakuan-perlakuan kasar suaminya selama ini. Ayah Atikah pun mulai menerima kepulangan putrinya itu. Ayah Atikah justru menjadi lega karena putrinya telah terbebas dari siksaan Radit.

Di rumah Radit.

Radit, yang dari tadi duduk terpekur di sofa, belum juga beranjak. Dia menyesali apa yang telah diperbuat dan dikatakannya kepada istri tercintanya. Dia menyesali rasa cemburunya yang tidak berbukti dan sangat tidak beralasan. Dia sebenarnya masih sangat mencintai Atikah. Dia kalap. Walaupun ilmu agamanya masih sangat jauh di bawah istrinya, Radit sadar bahwa talak yang telah dijatuhkannya kepada Atikah tadi adalah talak tiga. Dia tidak akan bisa rujuk lagi. Radit sangat ingin kembali menikahi Atikah. Tentu saja dia tak bisa menyuruh Atikah untuk menikah dengan orang lain kemudian menyuruh untuk bercerai dengan orang lain tersebut. Radit mengeluh.

Rasa putus asa Radit semakin menjadi! Dia memeras otak memikirkan siapa orang yang bisa menikahi Atikah secepatnya. Dan secepatnya pula Atikah bisa bercerai dengan orang itu sehingga dia bisa segera kembali menikahi bekas istrinya itu.

Saat itu, dia memandangi foto Atikah di meja kamar. Disamping foto itu, ditemukannya sebuah buku telepon plus alamat email teman-teman Atikah. Dia buka lembar demi lembar buku itu dengan pandangan kosong. Hingga dia melihat dan terhenti pada sebuah nama yang tidak asing baginya: Atka. Atka? Ya, dia masih sangat ingat, Atka adalah orang yang dulu pernah dia sakiti karena telah ‘merebut’ Atikah dari Atka. Muncul ide Radit untuk segera menghubungi Atka. Siapa tahu Atka masih menyimpan perasaan kepada Atikah. Siapa tahu Atka mau menikahi Atikah, selayaknya dulu, sehingga endingnya Atikah akan kembali kepadanya setelah Atikah dan Atka bercerai. Sungguh, ide gila!!

Semua alamat kontak Atka dihubungi oleh Radit, baik nomor telepon maupun email. Bak gayung bersambut. Beberapa minggu kemudian, ada balasan email dari Atka kepada Radit. Agak lama Atka membalasnya karena baru saja membereskan tesisnya di Australia dan pulang ke Indonesia.

Atka adalah tipe orang yang selalu berfikir positif. Dia selama ini tak pernah menaruh dendam kepada Radit. Sama sekali tidak. Karena Atka sudah sangat paham bahwa apa yang telah terjadi sudah merupakan qadha’ dari Allah Subhanahuwata’ala. Dan dia tak pernah menyesali semua ikhtiyarnya untuk menikah, menyempurnakan separuh agamanya. Atka tak pernah membenci Atikah maupun Radit, walaupun dia tak memungkiri bahwa dia sempat kecewa. Namun dia tak mau perasaan itu ada dalam hatinya berlarut-larut. Dia berusaha bersikap positif walau dia sebenarnya sempat hancur.

Radit kemudian bertemu langsung dengan Atka.

“Ngomong-ngomong, bagaimana kabar pernikahan mas Radit dengan Atikah? Sudah umur berapa momongannya?” pertanyaan Atka menohok Radit tepat di tenggorokannya.

“Ehm.. sebetulnya itu juga yang ingin saya sampaikan kepada mas Atka sekarang. Kami…kami.. telah resmi bercerai. Sudah talak tiga dan sudah tak bisa rujuk kembali,” jawab Radit.

“Apa? Bagaimana bisa terjadi?”

“Ini semua adalah kesalahan saya. Saya terlalu cemburu kepada istri saya sendiri. saya baru menyadari yang sebenarnya, bahwa istri saya adalah wanita baik-baik. Sholihah. Bisa menjaga diri ketika suaminya tak ada di rumah. Saya yang telah menuduhnya yang bukan-bukan. Saya telah bersikap sangat kasar kepadanya. Saya…” Radit tak mampu melanjutkan kata-katanya. Ia kemudian terisak. “…dan untuk maksud pertemuan kita kali ini, saya ingin mas Atka mau menikahi Atikah. Karena saya tahu, mas Atka akan bisa menjadi suami yang baik untuk Atikah. Terus terang, saya sebenarnya masih sangat mencintai Atikah. Tolonglah saya mas Atka!”

Atka terbelalak mendengar pernyataan Radit. Atka tak bisa berkata apa-apa lagi.

Radit sendiri sengaja tidak mengatakan maksud dia yang sebenarnya, tentang kenapa dia meminta Atka menikahi Atikah.

Atka, yang masih kaget dengan permintaan Radit tadi, terduduk di kursi beranda rumahnya. Banyak hal yang difikirkannya. Atka memang menyibukkan diri selama ini dan tidak memikirkan masalah pernikahan karena dia masih sedikit trauma dengan apa yang dulu dialaminya dengan keluarga Atikah. Kini, perasaannya bercampur baur antara senang dan sedih. Senang karena ini adalah kesempatan yang ditunggu-tunggunya dari dulu untuk bisa menikahi Atikah. Sedih karena wanita yang pernah dicintainya ternyata tidak bahagia. Gamang.

“Apakah tidak terlalu cepat jika aku memulainya sekarang?! Apakah Atikah tidak akan tersinggung dan marah jika aku menyampaikan niatku ini?! Apakah etis jika aku memintanya untuk mau menikah denganku sementara aku tahu persis hatinya sekarang terluka?! Apakah orang tuanya akan menerimaku juga?! Apakah..Apakah..Ahh….!!!!!!!”

Atka kemudian mengambil air wudhu. Sholat istikharah dua rokaat. Dia ungkapkan semua kebingungannya kepada Rabbul ‘Izzati yang Maha Mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-Nya.

“Ya Rahman, sungguh berikanlah kami pilihan yang terbaik menurut ilmu-Mu. Engkau sungguh Maha Kuasa sedangkan kami tidak. Engkau Maha Tahu sedangkan kami tidak, bahkan Engkau Maha Mengetahui segala sesuatu yang ghoib. Ya Rahiim, Engkau Maha Tahu sekiranya pernikahan ini baik bagi kami, baik untuk agama kami, baik untuk urusan dunia kami, baik untuk kehidupan kami, baik untuk segala persoalan yang kami hadapi, baik menurut-Mu untuk sekarang dan masa mendatang, maka berikanlah kami keputusan terbaik dalam persoalan ini. Amin.”

….

Dua tahun berlalu…

Di sebuah mall yang sedang ramai pengunjung. Radit tidak sengaja bertemu dengan Atka. Mereka berdua sama-sama berusaha untuk bersikap biasa dan tidak canggung satu sama lain. Ngobrol dengan santai. Benar, bahwa Atikah telah menjadi istri Atka sejak hampir dua tahun yang lalu.

Lalu dari kejauhan muncul sosok anak kecil yang sangat imut berlari-lari kecil menghampiri Atka.

“Papa!!!!!!!!!”

Anak kecil itu merangkul Atka. Atka pun menyambut dengan pelukan kasih sayang seorang ayah. Dari belakang anak kecil itu nampak sosok wanita dewasa berkerudung dan berjilbab sangat santun. Ya, dialah Atikah dan anak kecil yang memanggil ‘papa’ itu tadi adalah buah hati Atikah dan Atka.

Melihat hal itu, Radit terdiam. Lama. Serasa ada hujan yang sangat deras di dalam hati Radit. Hatinya menangis. “Ya Tuhanku, apa yang aku cari selama ini? Untuk apa aku tetap memikirkan usaha untuk bisa kembali menjadi suami Atikah kembali? Suami seperti apa aku ini? Apakah ini semua hanya nafsu dan obsesiku saja? Apakah aku akan tega melihat anak kecil itu kehilangan kebahagiaannya karena orang tuanya bercerai? Anak mana yang bisa bahagia melihat orang tuanya bercerai, walau dengan alasan apapun? Keluarga kecil yang ada di depanku ini begitu bahagia. Ya Allah, jangan biarkan anak kecil itu menderita dan kurang kasih sayang orang tua, sepertiku. Ya Allah, ampunilah aku.”

Keinginan Radit untuk menyuruh Atka menceraikan Atikah pupus. Radit tidak merasa kalah dari Atka! Tapi justru dia merasakan sebaliknya. Dikuburnya asa itu. Demi melihat orang yang pernah dicintainya bisa bahagia. Itu saja sudah cukup!. Kini dia telah tersadar []

-k@ze-

(adaptasi dari sebuah novel hikmah berjudul ‘Jangan Miringkan Sajadahmu’ karya Muhammad B. Anggoro, Diva Press, 2008)

 
Leave a comment

Posted by on November 1, 2011 in cerpen

 

Tags: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: