RSS

“Life Begins at Forthy” ?

01 Nov

Tergelitik dengan ungkapan dari iklan di salah satu stasiun televisi swasta. Iklan sebuah perusahaan yg bergerak di bidang otomotif yg telah berdiri di negeri ini sejak 40 tahun lalu: life begins at forthy. Hidup dimulai sejak usia 40 tahun. Benarkah?

[Saya pindah alihkan objek pembicaraan kali ini, dari dunia otomotif kepada manusia.] oke, saya lanjutkan;

Tentu saja kata ‘hidup’ dalam kalimat tersebut nggak bermakna mentah-mentah hidup dalam arti bernapas, bergerak dan berkembang sebagaimana makhluk hidup di muka bumi ini. Namun, yg dimaksudkan adalah lebih kepada makna hidup ‘kehidupan’, tentang bagaimana manusia mengerti makna hidup, tentang mengisi hidup dan berkontribusi dalam hidupnya. Setuju kan dengan prolog saya ini. Saya pastikan Anda setuju! (maksa.com ^_^)

Manusia yg tumbuh, berkembang biak, bergerak dapat dikatakan hidup, bukan mati. Itulah hidup secara biologis. Apakah arti hidup secara biologis sudah cukup bagi seseorang? Ternyata nggak. Dan permasalahannya adalah tak semua orang dapat menemukan arti hidupnya yg sebenarnya, disebabkan karena kedangkalan berpikir.

Berpikir dangkal adalah hanya memindahkan fakta ke dalam otak, tanpa membahas fakta lainnya, juga tanpa ada usaha mencari informasi-informasi lain yg berkaitan dengan fakta. Setelah itu keluarlah keputusan yg dangkal terhadap fakta tersebut. Pemikiran seperti ini kerap ada di berbagai kelompok manusia, orang-orang yg rendah taraf berpikirnya. Nah, berpikir dangkal itu bahaya bagi bangsa mana pun, karena ia nggak akan mengantarkan pada kebangkitan. Penyebab kedangkalan berpikir adalah lemahnya penginderaan, lemahnya informasi, dan lemahnya pengaitan informasi dengan fakta pada otak manusia.

Pemikiran dangkal ini bukan sesuatu yg alami pada manusia, meskipun ia merupakan pemikiran yg primitif. Pada dasarnya, kebanyakan manusia senantiasa mendapatkan informasi baru setiap hari, meskipun mereka orang-orang ummi yg nggak bisa membaca dan menulis. Kecuali orang-orang yg menyimpang (abnormal), yaitu orang-orang yg nggak mempunyai perhatian pada apa pun, yg nggak menghargai informasi yg disampaikan kepada mereka atau informasi yg mereka pelajari sendiri. Pemikiran yg dangkal bukanlah pemikiran yg alami tetapi suatu penyimpangan dalam berpikir.

Meski demikian, memang ada individu-individu tertentu yg terbiasa berpikir dangkal dan rela dengan hasil berpikirnya itu serta nggak merasa memerlukan sesuatu yg lebih berharga daripada yg telah ada pada diri mereka. Maka hal ini menyebabkan berpikir dangkal menjadi kebiasaan mereka, sehingga mereka pun senantiasa berpikir dengan cara seperti itu. Mereka menyenanginya serta merasa puas dengannya. Parah! Apakah mayoritas masyarakat kita adalah orang-orang yg terbiasa dan –dibiasakan- berpikir dangkal? Hehehe

Setuju atau nggak, kita harus menghilangkan kedangkalan berpikir ini. Caranya ialah, pertama, menghilangkan kebiasaan berpikir dangkal dengan mendidik dan membina masyarakat. Kedua, memperbanyak percobaan/pengalaman pada diri masyarakat atau di hadapan mereka serta menjadikan mereka hidup di tengah banyak fakta serta mengindera fakta-fakta yg beragam, senantiasa baru, dan berubah-ubah. Ketiga, menjadikan mereka hidup bersama kehidupan dan terjun dalam kehidupan itu. Dengan tiga hal tersebut maka mereka akan dapat meninggalkan kedangkalan, atau mereka ditinggalkan oleh kedangkalan, sehingga mereka menjadi nggak dangkal dalam berpikir.

Nah, selain meninggalkan cara berpikir dangkal, kita juga memerlukan model berpikir yg lain, yaitu berpikir mendalam dan berpikir cemerlang. Berpikir mendalam adalah mendalam dalam berpikir. Maksudnya mendalam dalam mengindera suatu fakta, dan mendalam dalam informasi yg berkaitan dengan penginderaan tersebut untuk memahami suatu fakta. Jadi berpikir mendalam nggak hanya sekedar mengindera sesuatu dan nggak cukup dengan hanya informasi awal untuk mengaitkannya dengan penginderaan, seperti halnya pada berpikir yg dangkal. Berpikir mendalam merupakan langkah kedua setelah berpikir dangkal. Berpikir mendalam merupakan pemikiran para ulama (intelektual) dan para pemikir, meskipun nggak harus merupakan pemikiran kaum terpelajar. Jadi, berpikir mendalam adalah mendalam dalam penginderaan, informasi, dan pengaitan. (jangan bosan dulu membaca tulisan ini ye, he9, monggo dilanjut…)

Adapun berpikir cemerlang adalah berpikir mendalam itu sendiri ditambah dengan memikirkan segala sesuatu yg ada di sekitar fakta dan yg berkaitan dengan fakta untuk bisa sampai kepada kesimpulan yg benar. Dengan kata lain berpikir mendalam adalah mendalam dalam berpikir itu sendiri, sedangkan berpikir cemerlang adalah selain mendalam dalam berpikir, juga memikirkan segala sesuatu yg ada di sekitar fakta dan yg berkaitan dengan fakta, untuk sampai kepada tujuan tertentu, yaitu kesimpulan yg benar. Karena itu setiap proses berpikir cemerlang merupakan proses berpikir mendalam. Tetapi nggak mungkin proses berpikir cemerlang berasal dari berpikir dangkal. Dan nggak setiap berpikir mendalam merupakan berpikir cemerlang.

Sebagai contoh adalah seorang ahli atom yg meneliti pembelahan atom, ahli kimia yg meneliti susunan segala sesuatu (senyawa), serta seorang fakih yg membahas penggalian hukum dan pembuatan undang-undang. Mereka dan orang semisalnya, ketika membahas benda-benda dan hal-hal tersebut, mereka membahasnya dengan mendalam. Andaikata nggak terdapat kedalaman dalam berpikir tentu mereka nggak akan mendapat kesimpulan yg gemilang. Tetapi meski demikian mereka nggak termasuk para pemikir yg cemerlang. Juga pemikiran mereka nggak disebut pemikiran cemerlang.

Karena itu, nggak mengherankan jika Anda menemukan seorang ilmuwan atom telah menyembah kayu (salib), padahal bila ia berpikir secara cemerlang sedikit saja, dia akan menyimpulkan bahwa kayu tersebut nggak bisa memberikan manfaat atau mudharat, dan bahwa kayu bukan termasuk sesuatu yg layak disembah. Begitu juga bukan hal yg aneh jika Anda menemukan orang yg ahli undang-undang yg mempercayai adanya orang-orang suci dan dia menyerahkan dirinya kepada orang suci tersebut agar bisa mengampuni dosa-dosanya. Hal ini disebabkan kedua macam orang tersebut dan yg semisalnya memang berpikir mendalam tapi nggak cemerlang. Andaikata mereka berpikir secara cemerlang, maka meraka nggak akan menyembah kayu dan nggak akan mempercayai adanya orang-orang yg suci dan meminta ampunan dari mereka.

Benar, orang yg berpikir mendalam hanyalah mendalam pada objek yg dia pikirkan, bukan pada yg lainnya. Maka bisa saja seseorang berpikir mendalam ketika memikirkan pembelahan atom atau pembuatan undang-undang, tetapi berpikir dangkal dalam hal lainnya. Benar faktanya memang begitu. Tetapi ketika seseorang membiasakan berpikir mendalam, ini akan menjadikannya berpikir mendalam pada hal-hal lain di luar objek yg dia pikirkan, terutama pada perkara-perkara yg berkaitan dengan masalah besar atau cara pandang dalam kehidupan. Tapi tiadanya kecemerlangan dalam berpikir, akan menjadikannya terbiasa berpikir mendalam saja, atau terbiasa berpikir dangkal, dan bahkan akan terbiasa berpikir rendah (at-tafkir as-sakhif, stupid thinking).

Meskipun kecemerlangan bukan keharusan untuk sampai pada kesimpulan yg benar dalam berpikir, seperti halnya dalam ilmu eksperimental, ilmu hukum, ilmu kedokteran, dan yg lainnya, tetapi ia merupakan satu keharusan untuk meningkatkan taraf berpikir. Kecemerlangan juga satu keharusan agar proses berpikir bisa menghasilkan para pemikir.

Karena itu bangsa ini nggak mungkin bangkit dengan adanya para intelektual dalam ilmu eksperimental, para ahli fikih, pakar undang-undang, para dokter, para insinyur, dan yg sejenisnya, an-sich. Bangsa ini hanya akan bangkit ketika terdapat kecemerlangan dalam proses berpikir mereka. Dengan kata lain, bangsa ini akan bangkit ketika terdapat para pemikir yg cemerlang di tengah-tengah mereka.

Kembali ke permasalahan utama kita, bahwa tak semua orang dapat menemukan arti hidupnya yg sebenarnya. Maka dengan berpikir mendalam dan cemerlang, seseorang akan menemukan arti hidupnya itu. Dan nggak perlu menunggu ketika usianya 40 tahun, hehehe. Ketika memang saat ini kita mau untuk berpikir cemerlang, maka sebenarnya saat ini pun kita akan menemukan arti hidup kita. Tentang dari mana kita hidup? Mau melakukan apa dalam hidup ini? Dan kemana setelah hidup ini? Tiga pertanyaan besar (al-uqdatul qubro) ini harus dapat kita jawab. Atau jangan-jangan, kita tak pernah memikirkan ketiga pertanyaan besar ini? Hmmm..kalau demikian, maka kita benar-benar menjadi orang yg dangkal dalam berpikir! Gaswat!

Pertama, dari mana kita hidup? Ada Sang Pencipta yang menciptakan kita dari ketiadaan. Alloh Azza wa Jalla.

Kedua, mau melakukan apa dalam hidup ini? Bersenang-senangkah? Mencari segebok rupiah atau mendapatkan jabatan atau prestise, yang seluruh waktu hidupnya digunakannya untuk mengejar itu-itu saja? Hmm..terlalu murah hidup ini jika demikian. Ada cerita, seorang anak kecil ditanya: untuk apa hidupmu? Lalu dengan gayanya yang memang masih anak-anak dia menjawab: ‘hidupku bukan untuk main-main!’ dan mulai saat itu, benar, anak kecil itu tak pernah membuang waktu hidupnya untuk hanya bermain-main saja. Dia habiskan waktunya untuk melakukan kebaikan, mempelajari ilmu agamanya, menghafal banyak hadits. Dia lakukan semua itu semata-mata untuk beribadah kepada Tuhannya dan mencari ridho-Nya. Cerita lain, seorang pak tua, pensiunan, berusia sekitar 60 tahun ditanya: Bapak, usia bapak berapa? Lalu bapak tua itu menjawab: Usia saya baru 7 tahun. Si penanya dengan raut mukanya terheran kembali bertanya: Lho, kenapa bapak menjawab 7 tahun? Bapak tua itu berkata: iya, nak! Bapak baru berusia 7 tahun. Karena baru 7 tahun ini saya mengerti arti hidup saya dan mengenal Islam yang sesungguhnya. Saya memang kaya, pangkat terakhir saya sudah poooll malah, eselon saya sudah yang tertinggi, tapi selama itu saya tak pernah mengetahui tujuan hidup saya yang sebenarnya. Saya memang muslim, tapi saya tak pernah beribadah dengan sesungguhnya. Ya begitulah orientasi hidup saya selama ini, hanya seputar materi duniawi. Saya tak pernah mau menghiraukan kata hati kecil saya untuk kembali kepada Alloh. Saya tak pernah membaca ayat-ayat Alloh. Saya akui, saya memang masih bernapas, tapi sebenarnya saya sudah mati selama itu. Hidup, tapi mati! Saya menyesal, nak! Sungguh, saya sangaaaat menyesal! Bapak tua itu lalu membuka kacamata beliau, dan mengusap air di matanya yang sudah keriput.

Ketiga, kemana setelah hidup ini? Kita semua, makhluk Alloh yang serba terbatas dan lemah, akan kembali kepada-Nya, mempertanggungjawabkan apa saja yang sudah kita pikirkan, rasakan, dan lakukan selama hidup di bumi-Nya.

Maka dapat saya katakan: Life begins before forthy! It begins now! Karena ketika berpikir cemerlang, ketika seseorang dapat menjawab tiga pertanyaan besar (al-uqdatul qubro) dalam hidupnya, maka itulah titik awal dalam kehidupan yg sangat berharga. Setiap orang yg berakal, selayaknya akan dapat menemukan jawab atas hal itu! Mulailah ‘hidup’mu sekarang, Kawan! Jangan sia-siakan hidupmu! Jangan mau disebut sebagai ‘stupid moron!’. Maka mulai saat ini, berpikir cemerlanglah!

[]

-k@ze-

 
Leave a comment

Posted by on November 1, 2011 in chickenSoup

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: