RSS

Nabi Isa dan Nenekku

27 Oct

Telepon kos di Malang berdering. Bapak nelpon dari rumah di Kediri, memintaku untuk pulang secepatnya karena mbah [nenek] ku sakit mendadak.

Maunya nggak khawatir, tapi tetap saja aku khawatir. Karena beliau adalah nenekku satu-satunya yang masih ada di dunia ini. Beliaulah yang ngopeni [merawat] aku dari orok [bayi] sampai usia SD.

Kedekatan emosional antara aku dan mbah -pastinya- jauh lebih berasa dibanding dengan ibu kandungku sendiri. (Kasihan sekali aku ya? Kurang kasih saying ibuku sendiri). Beliaulah yang –paling- sayang kepadaku. Lebih sering aku tidur di rumah mbah, dibanding di rumahku sendiri. Meskipun rumah kami juga cuma disela dua rumah milik tetangga, yang juga masih kerabat sendiri.

Setiba di rumah mbah, aku langsung menuju kamar mbah yang letaknya paling depan, mengarah ke jalan raya. Dari balik jendela kaca riben kamar mbah, nampak dengan jelas orang-orang yang berlalu lalang di jalan. Walah, ternyata, mbah terkena asma mendadak. Sempat jatuh di kamar mandi. Nafasnya terengah.

Melihat cucu sulungnya ini datang, beliau tersenyum cukup manis seketika, nampak sebagian besar gigi beliau yang sudah mrothol [tanggal]. Aku adalah cucu cewek satu-satunya yang tertua, sementara adik-adik sepupuku cowok semua. Masih krucil-krucil. Kucium tangan beliau, seperti biasa. Tanpa bertanya tentang sakitnya, aku pun langsung memijat ringan kaki beliau.
Beliau tiba-tiba saja meneteskan air mata. Tes..tes.. Hatiku ngilu melihatnya.

“Sampun mbah, sampun dados penggalih.” [Sudahlah mbah, jangan terlalu dipikirkan]

Aku penasaran. Kuingin tahu isi kepala beliau. Apa yang dipikirkan mbah? Ibuku membisiki. Hmmm.. ternyata, karena tak bisa membayar utang tiga ratus ribu ke tetangga. Entah untuk apa beliau meminjam uang itu, kami tak tahu. Ya, tiga ratus ribu, jumlah yang ‘tidak hanya’ bagiku, yang masih ngemis ke orang tua, maha-siswa. Tipe mbah yang juga nggak mau dibayari ibu!! Keras kepala!! Mungkin sifatnya yang satu ini benar-benar tertransfer ke cucu sulungnya ini. Tak sudi dikasihani orang!!!!

Kuputuskan untuk tidur di rumah mbah malam hari itu.
Keesokan paginya, setelah sarapan bubur ayam, kutemani beliau. Bercakap ringan. Tiba-tiba beliau bertanya sesuatu yang tak pernah ku berada pada topik pembicaraan seperti ini, dengan mbah, sampai usiaku yag hampir dua puluh tahun ini hidup dekat dengan beliau.

“Nduk, kamu tau Isa??”

“Isa?? Nabi Isa maksudnya??” aku menegaskan.

“Ya, dia. Sebenarnya dia itu siapa??”

“Dia itu ya Nabi, mbah. Seperti juga Nabi kita, Nabi Muhammad. Beliau diutus Alloh Subhanahu wata’ala ke dunia untuk nyebar agama Tauhid. Mengesakan Alloh. Supaya kita hanya nyembah ke Alloh saja. Tapi, agama mereka yang sekarang sudah tidak seperti aslinya ketika Nabi Isa hidup, mbah. Sampun [sudah] berubah. Sesat. Salah.”

“Kenapa orang-orang itu nyebut Isa Tuhan??” tanya mbah lagi.

“Oooo… orang-orang yang bilang kalo Tuhan banyak itu?? Karena orang-orang itu bodoh, mbah. Tidak mau menggunakan akalnya untuk memantabkan iman mereka. Padahal sedikit saja mereka mau mikir dan nggak angkuh, mereka akan semakin menemukan jawab kalo agama mereka itu salah. Tapi kesombongan mereka telah mengalahkan akal mereka sendiri. Mereka katakan : ‘agama itu tak perlu dipikirkan!’. Mereka takut menemukan kesalahan pada agama mereka, mbah. Agama yang benar sekarang ya Islam. Islam sudah sempurna. Mereka itu sesat, karena menganggap Tuhan ada tiga, tiga dalam satu, satu dalam tiga. Isa itu mereka anggap sebagai Tuhan anak, Alloh dikatakan Tuhan Bapak, dan Malaikat Jibril sebagai roh suci. Aneh ya mbah, Tuhan kok banyak. Lek tukaran trus pripun [kalo bertengkar trus gimana], yang satu pengen cuaca cerah trus yang satu pengen hujan. Rusak to mbah, hehe” kata-kata kupilih sesederhana mungkin, yang bisa diterima beliau.

“Awakmu iki iso-iso wae nduk [kamu ini bisa saja, nduk],” kata mbah sambil senyum lagi. Aku senang, paling nggak untuk sekarang, beliau sudah bisa tersenyum, dan tak nampak terbebani dengan utangnya itu.

“Siapa dulu dong, cucunya mbah gitu loh, hehe.. Lha iya kan mbah. Kok nyebut Nabi Isa itu Tuhan. Mosok [masa’] Tuhan makan, minum, (maaf) berak alias buang hajat?? Beraknya di jamban, trus jambannya dimana lho?? Tuhan kok sama dengan yang diciptakan. Nopo nggih?, menungso ingkang ndamel springbed niki nggih sami kaleh springbed?? Nopo ngaten?? [apa iya?, manusia yang bikin springbed ini sama dengan springbednya?? Apa ya gitu?? (sambil aku menggoyang-goyang springbed tempat kami berdua beristirahat)]. Trus, mereka kan juga punya banyak macem kitab Injil, tergantung pengarangnya ada Injil Lukas, Injil Matius, bahkan tiap negara ya beda-beda isinya. Hasil rapate menungso [hasil perjanjian manusia]. Ada perjanjian lama, ada perjanjian baru. Kathah sanget kan mbah, kok mboten setunggal mawon pedomane, nambah mbingungi tiyang ajenge milih kitab Injil sing pundi, sak karepe dewe, amburadul dadose [banyak banget kan mbah, kok nggak satu saja pedomannya, bikin orang bingung saja mau milih kitab Injil yang mana, sekehendaknya sendiri, amburadul jadinya]. Mboten mudheng kulo mbah [nggak habis pikir aku mbah].”

“Oalah..ngono to nduk??? [oalah..begitu ya nak???]”

“Setunggal maleh, mbah. Nabi Isa riyen sejatosipun dereng sedo disalib, tapi diangkat Alloh dateng langit [Satu lagi, mbah. Nabi Isa dulu sebenarnya belum mati disalib, tapi diangkat Alloh ke langit]. Yang mati itu Yudhas, manusia lain yang diserupakan Alloh mirip sekali dengan Nabi Isa. Alloh berkuasa atas segala sesuatu. Dan hanya Alloh yang tau beliau sekarang dimana. Nanti sebelum kiamat, nabi Isa akan mengatakan bahwa orang-orang penyembah tiga Tuhan itu telah sesat sesesat-sesatnya, hanya Islam yang benar. Wallohu a’lam bishowab.”

Setelah kata-kataku itu, mbah terdiam. Menerawang ke langit-langit kamar. Entah apa yang beliau pikirkan.

Itulah mbahku. Sebuah pertanyaan beliau yang tak pernah kupikirkan sebelumnya. Penjelasanku kepada beliau mungkin tak selengkap penjelasan orang-orang yang pakar dan ahli dalam ilmu agama. Tak secanggih seorang ustadzah. Tak secerdas bang Doni Osmon dalam bukunya ‘Iman dalam Secangkir Kopi (Akidah Three in One)’ untuk menjelaskan logika ‘Trinitas’. Prinsip Trinitas orang-orang Nasrani itu mirip dengan secangkir kopi, yang pasti terdiri dari air, kopi dan gula.

Menurut orang-orang Nasrani, secangkir kopi tidak akan dikatakan secangkir kopi jika tanpa air dan gula. Ketiga unsur ini harus ada secara bersamaan, kata mereka. Satu dalam tiga, tiga dalam satu.

Seperti itulah konsep trinitas yang mereka yakini. Tapi apakah analogi itu benar? Weleh, tunggu dulu!

Padahal…hmmm…sedikit saja mereka mau berpikir, istilah ‘air’, ‘kopi’ dan ‘gula’, yang ketika kita sebut masing-masingnya akan memberikan asosiasi (gambaran) tertentu dalam benak mereka. ‘Air’ adalah benda yang menempati ruang dan ciri-ciri lain (sesuai teori fisika yang ada), sama halnya ketika mendengar ‘kopi’. Kopi ya yang rasanya pahit dan berwarna coklat-hitam. Dan saat mendengar ‘gula’, tergambar asosiasi sebuah benda yang rasanya manis dan seterusnya sifat yang melekat padanya (anak taman kanak-kanak atau playgroup aja tau apa itu gula ^^). Masing-masing punya asosiasi spesifik dalam otak kita. Memang gitu, secara fitrahnya. Kalo nggak, bisa-bisa seseorang yang kita suruh ambil air (misal) malah menyodorkan bubuk kopi. Kekacauan yang akan terjadi! Apapun itu, kata-kata ‘air’, ‘kopi’ dan ‘gula’ emang harus mewakili fakta spesifik dan tidak boleh saling dipertukarkan. Air ya air. Kopi ya kopi, dan gula ya gula. Masing-masing berdiri sendiri. Masing-masing (air, kopi dan gula) terpisah secara fisik.

Analog dengan itu, pembahasan trinitas juga sama. Berlaku hukum penunjukan spesifik seperti dijelaskan diatas. Pada kata ‘anak’, ‘bapak’ dan ‘ruh kudus’. Masing-masing kata ini (mau nggak mau) pasti menunjuk pada satu objek (fakta) tertentu. Masing-masing tak bisa dipertukarkan seperti anak adalah bapak dan sekaligus anak. Tak bisa juga disatukan dengan ruh kudus (Malaikat jibril) yang pastinya, yang namanya Malaikat itu merupakan objek/makhluk Tuhan yang juga diciptakan oleh Tuhan. Tidak mungkin Tuhan menciptakan Tuhan (dirinya sendiri) dalam waktu yang bersamaan. Nggak bisa seperti itu!!

So.. MUSTAHIL Tuhan itu berbilang!! MUSTAHIL Tuhan itu ada dua, tiga, empat, lima dan seterusnya. Konsepsi yang terlalu dibuat-buat atas nama Tuhan!! Jadi tertolaklah kalo ajaran akidah ini dikatakan berasal dari Tuhan. Ini adalah bentuk pengingkaran (kufur) kepada Tuhan dan para Rasul-Nya. Hal ini seiring dengan apa yang dikatakan Alloh Subhanahu wata’ala dalam Al-Qur’an: “Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata bahwa Alloh adalah salah satu dari yang tiga, padahal tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Tuhan Yang Esa.” [TQS. Al-Maidah: 73]

Esa artinya tunggal, tak ada sekutu, tak berbilang (berbilang = berjumlah lebih dari satu), bukan juga berarti satu. Karena satu merupakan hasil penjumlahan bilangan-bilangan. “Satu” bisa berupa (½+½), (1/3+1/3/+1/3) atau (1/4+3/4). Tuhan itu Esa. Tak ada sekutu bagi-Nya. Dia tak membutuhkan sama sekali bantuan dari yang lain.
Penjelasan yang maknyus buatku! Thanks Bang Doni!
….

Melihat kondisi mbah yang kelihatannya membaik, aku lalu balik ke Malang karena kebetulan akan ujian tengah semester.
Beberapa minggu di kos. Aku tak mendengar kabar tentang kambuhnya sakit mbah. Alhamdulillah.

Namun, malam itu seakan berulang. Bapak telepon lagi dari rumah.

“Nduk, pulanglah besok pagi sebelum subuh ya. Mbah butuh kamu! Pokoknya harus pulang, nggak boleh ditunda! Apapun alasannya.”
Aku terpaksa mengamini kata-kata bapak. Pulang kampong. I have no choices!

Pagi di esok harinya, aku pulang naik bus (pastinya). Aku hampir sampai rumah. Aku berdiri mendekat pintu bus Puspa Indah, mendekat ke kondektur bus untuk turun.

Awan gelap seakan menyelimuti pagi itu. Hatiku meracau, kacau. Aku bahkan bisa mendengarkan degup jantungku sendiri. Kulihat iring-iringan jenazah keluar dari gang jalan rumahku, tengah menyeberang jalan menuju ke sebuah pemakaman yang tak jauh dari perempatan jalan. Iring-iringan itu melintas tepat di depan bus yang kutumpangi. Seorang demi seorang yang kukenal memikul keranda jenazah berwarna hijau bertuliskan kalimat tauhid, ada bapak, om dan tetangga-tetanggaku. Allohu akbar!!! Aku turun dari bus, seketika duduk di tepi jalan, lemas tak berdaya.

Sesaat itu semua menjadi nampak gelap.

“Mbah, aku belum sempat mengucapkan maafku dan mencium keningmu..”

Selang beberapa minggu, baru kutahu yang sebenarnya, bahwa nenekku dulunya seorang Katolik.
[]

k@ze

 
Leave a comment

Posted by on October 27, 2011 in chickenSoup

 

Tags:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: