RSS

Senyum Bunda

24 Oct

Pagi itu sekitar pukul 04.00 pagi. Aku terperanjat, seolah ada yang baru saja membangunkanku dari tidurku. Menginap di rumah seorang sahabat di luar kota. Setelah sekian tahun tidak bertemu, kuluangkan waktu untuk sekedar bersilaturahmi ke rumahnya di luar kota. Sambil melepas penat dari rutinitas kerja seorang perempuan karir.

Aku bermaksud untuk pulang pagi itu. Lalu diantarlah aku oleh sahabatku itu ke jalan raya, naik bus kecil sebelum ke terminal utama di kota tersebut. Di tepi jalan, ada sebuah bus kecil yang kumaksud  sedang menunggu penumpang. Aku pun naik, mengucapkan salam perpisahan kepada sahabatku. Aku pikir belum ada penumpang, tapi ternyata aku salah. Aku lihat sudah ada seorang penumpang perempuan di bangku belakang, aku lihat lagi seorang perempuan lain di sebelah bangku kosong yang akan aku duduki. Kulihat lagi sosok perempuan paruh baya yang lain lagi di bangku samping. Perempuan lagi dengan beberapa ikat sayuran yang siap jual ke pasar. Perempuan lagi.  Dan perempuan lagi. Owwghhh… bus kecil itu penuh sesak dengan perempuan!! dan sayuran…!!!

Ku mulai berpikir.

Kenapa semua penumpangnya perempuan?? Dimanakah para lelaki? Dimanakah para bapak yang harusnya mencari nafkah? Kenapa justru yang kutemui adalah para perempuan perkasa? Ditambah lagi, di waktu sepagi ini, disaat hampir semua orang terlelap, bahkan tikus pun mungkin masih terkantuk-kantuk.

Okelah,, aku tidak akan berbicara masalah gender kali ini. Terus terang aku sudah sangat muak membicarakan yang namanya emansipasi perempuan, kesetaraan gender, atau apalah lagi embel-embel kata pemanis yang justru merendahkan martabat perempuan itu!! Terserah pula apakah kau sepakat denganku atau tidak! Kali ini, aku hanya teringat sosok bundaku.

Bundaku, yang dari rahimnya aku mbrojol (dilahirkan, red) ke dunia yang semakin absurd ini. Aku katakan absurd karena menurutku, di dunia ini sudah sangat kabur mana yang benar dan yang salah, sangat absurd.

Ya, bundaku. Sosok perempuan yang sampai usiaku yang sudah seperempat abad ini masih berjuang demi aku. Beliau yang sudah berkorban banyak untuk anak-anak dan keluarganya ini. Bundaku bahkan pernah menjadi penjaga toko, berjualan nasi pecel, bahkan (yang membuatku tidak bisa ngomong lagi) beliau pernah menjadi pembantu rumah tangga seorang majikan Chinese yang kaya raya hanya demi aku dan adikku bisa lanjut sekolah, kala itu. Bukan berarti aku malu memiliki ibu seperti bundaku. Tapi lidahku sudah kelu untuk menyatakan betapa tidak teganya aku, anaknya, melihat orang yang melahirkanku menderita. Tidak tersayatkah hatimu, kawan, jika kamu menjadi anaknya?? Namun tetap saja, bundaku bukanlah pejuang gender, argghh… menyebut kata g.e.n.d.e.r saja masih grathul-grathul (tidak fasih, red) apalagi memperjuangkannya. Yang beliau tahu, dia berjuang untuk keluarga. Itu saja.

Ya, seperti itulah bundaku.

Dan kini, aku?? Orang bilang aku sudah mapan. Aku yang saat ini -tidak dengan latah- menjadi wanita karir. Sekali lagi, aku tidak latah, kawan! [Ada sebuah alasan kuat, kenapa aku memilih bekerja. Arrgghh..kalau mau diskusi lanjut tentang ini, ayo! Kuladeni!]

Iya benar, orang bilang aku sudah hidup tidak kekurangan. Ya, menurut kacamata kapitalis-materialism, justifikasi itu tidaklah salah. Namun apa yang aku cari dalam hidupku? Materi-kah? Kekayaan? Jabatan? Rasa-rasanya, jika aku mengejar semua itu, niscaya aku mungkin bakal menghabiskan seluruh waktu hidupku, bahkan mungkin sisa hidupku tidaklah cukup. Dan rasa-rasanya, untuk mendapatkan semua hal yang berbau materi itu tidaklah sulit, kawan. Tinggal menunjukkan loyalitas saja kepada atasan, beres! Seperti keloyalan sebagian besar orang kepada atasannya yang menurutku adalah sebuah loyalitas buta. Dasar penjilat! Rasanya, untuk menjadi seperti itu sangat tidak sulit. Namun bukan!! Bukan semua itu yang aku cari! Bukan materi atau malah jabatan. Tidak! Lalu apa yang aku cari??

Kalau berbicara masalah ke-aku-an, ya inilah aku. Aku bisa meraih semua itu dengan segala daya upayaku (ketika kesombongan mencapai titik nadir. Arrghh..Tidaklah!). Sesulit apa sih untuk meraihnya? Namun, apakah dengan bekal ke-aku-an itu kita akan memenangkan semua perlombaan dalam hidup?!!

Bagiku, ke-aku-anlah yang justru telah banyak melenakan sebagian besar orang di dunia ini. Lupa bahwa dibalik kesuksesan dan kemenangan dalam hidup kita, ada banyak orang yang telah berkorban banyak untuk kita. Berkat mereka kita ‘ada’! Mereka yang tidak kita sadari bahkan mengalah untuk kita, bukan kalah. Ya, berkat mereka!

Dan dalam hidupku, aku tersadar bahwa aku tidak berjalan sendiri. Aku ‘bisa’ bukan karena ke-aku-an. Aku telah disadarkan tentang semua itu oleh sahabatku, karena ke-aku-anku yang melangit. Bahwa bisa jadi, dibalik kesuksesan ini, bundaku setiap saat mendoakanku. Bisa jadi, bundaku berdzikir demi yang terbaik untuk anaknya ini. Bisa jadi, beliau bangun di tengah malam merintih memohon kepada Sang Khalik agar memberikan apa yang diminta oleh anaknya ini. Bisa jadi pula, aku ‘ada’ karena mendapatkan ‘senyum’ dari bunda untuk hidupku. Senyum yang setiap detiknya mengalir ikhlas diantara muara-muara doa dan tasbihnya. Tidakkah itu pula yang terjadi padamu, kawan? Apakah kamu masih merasa bahwa ke-aku-anmulah yang telah membesarkan dirimu hingga sekarang? Ha??

03.05 a.m.

Sekarang, bundaku masih terlelap. Ingin rasanya aku mengecup keningnya yang mulai dijalari kerut. Ingin rasanya aku bersimpuh diatas kaki beliau atas semua pengorbanannya selama ini, untukku. Aku yang mungkin tidak akan bisa berdiri tegak menatap cakrawala jingga dihadapanku, jika tanpa beliau. Aku terlalu nothing untuk bisa sombong dan angkuh dalam hidup!

Aku sayang bundaku, walau bagaimanapun kondisi beliau dan pikiran orang lain tentang beliau. Aku sayang bunda! Sekali lagi, aku sayang bunda! Lalu, adakah diantara kamu yang masih berani menentang bundamu, kawan? Adakah diantara kamu yang ingin mengecewakan bundamu?

Maka, busuklah jika kamu berani melawan bundamu!

Maka, menjijikkanlah jika kamu menyakiti bundamu!

[]

k@ze

 
Leave a comment

Posted by on October 24, 2011 in chickenSoup

 

Tags: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: