RSS

Aku Lesbi ??!

24 Oct

Huh…gimana sih?! Masa’ MP5 baru beli kemarin udah rusak kaya’ gini. Payah!” gumam Vivie.

Pa… papa… MP5 60 giga-ku udah rusak! Bisa nggak papa belikan Vivie MP4 yang baru??” tanya Vivie pada papanya, Pak Burhan, yang sedang asyik baca the newest news, hobinya tiap sore, di ruang tamu.

Apa nggak bisa diperbaiki dulu?!!” timpal papanya bertanya.

Ahh… papa! Masa’ Vivie pake barang yang udah rusak?!? Nggak seru ah papa ini! Vivie malu dong sama temen-temen Vivie. Please pa!” Vivie berusaha meyakinkan papanya.

Okelah kalo gitu! Besok papa belikan yang baru. Apa sih yang nggak buat anak papa tersayang ini?!” jawab sayang papanya.

Makasih pa. Papa memang the best!” Vivie lalu pergi begitu saja meninggalkan Pak Burhan di ruang tamu.

Pak Burhan meneteskan air mata setelah Vivie, putri kesayangannya, pergi. Pak Burhan sangat menyayanginya. Vivie adalah putri semata wayangnya yang beliau didik dengan jerih payahnya sendiri. Tanpa seorang istri di sampingnya. Single Parent! Segala apa yang diminta Vivie selalu tak kuasa ditolak Pak Burhan.

Namun di sisi lain, dengan tak adanya sentuhan seorang ibu yang mendidiknya, Vivie menjadi terbiasa dididik dengan gaya hidup laki-laki. Dia tumbuh menjadi anak yang tomboy. Dia juga lebih sering bergaul dengan teman-teman cowoknya. Bergabung dengan teman-teman wanita justru membuatnya bosan.

(petang hari di depan TV di ruang tamu)

Papa nonton acara apa sih? Kelihatannya kok seru banget!” tanya Vivie kemudian duduk di sebelah papanya, pak Burhan.

Oh..ini,dari tadi kok beritanya tentang penangkapan remaja karena narkoba, pemerkosaan, dan free sex. Waduh, jaman sudah semakin edan saja! Oya, papa mau ngingetin. Kamu sekarang udah gede. Udah dewasa. Jaga diri baik-baik ya nak. Jaga pergaulanmu dari hal-hal negatif seperti narkoba dan free sex. Papa yakin, kamu sendiri udah paham dengan apa yang papa sampaikan ini,” pak Burhan menjelaskan.

Oke bos! Hehe.. papa nggak usah khawatir, Vivie bisa jaga diri. Vivie ‘kan jagoan!” jawab Vivie dengan sangat percaya diri. Kali ini dia tidak main-main. Ya inilah buah dari belaian tangan seorang ayah, sekali lagi single parents.

Nevertheless, Vivie sering keluar malam. Dugem dengan teman-teman sekolahnya. Bahkan pernah sampai pulang pagi. Papanya hanya menegur dan mengingatkan saja. Tak lebih. Rasa sayang Pak Burhan rasanya terlalu berlebihan.

Sampai suatu hari Vivie pulang dalam kondisi tak sadarkan diri dengan dibopong oleh teman-temannya di pagi buta ke rumah. Jam dua pagi. Parahnya, pakaian Vivie pada saat itu dalam kondisi berantakan. Sesaat kemudian dia sadarkan diri dan ketika ditanya oleh Pak Burhan tentang apa yang sudah terjadi, Vivie hanya diam, kedua kelopak matanya menutup dengan kuat. Hanya gemuruh sesak di dada yang bersuara dan gerimis air mata telah menghiasi setiap sudut matanya. Kemudian salah satu teman Vivie yang mengantarkannya pulang saat itu mengaku kalau Vivie telah mendapat perlakuan tidak senonoh dan hampir diperkosa oleh orang yang tak dikenal di tempat dugem mereka. Hingga Vivie shock dan pingsan.

Pak Burhan kemudian memanggil dokter pribadi keluarganya.

Aku benci laki-laki! Aku benci laki-laki!” Vivie berteriak sangat keras. Kedua tangannya terus memukul segala apa yang ada di depannya. Semua yang hadir terdiam.

Aku benci laki-laki!” teriak Vivie sambil menahan isak tangis.

Pak Burhan langsung memeluk putri kesayangannya itu.

Papa…tolong Vivie. Laki-laki itu telah berbuat tidak senonoh kepadaku! Dia telah memaksaku dan menggerayangiku. Dia mau memperkosa Vivie! Hanya papa, satu-satunya laki-laki yang aku sayangi di dunia ini! Aku benci mereka papa! Aku benci…..!!!!

Tenang nak. Ada papa di sampingmu. Ada papa!” Pak Burhan berusaha meyakinkan dan menenangkan Vivie. Pak Burhan juga tidak kalah kalutnya melihat penderitaan Vivie.

Papa…kenapa ini semua terjadi pada Vivie? Kenapa?” tangis Vivie semakin menjadi-jadi sambil dia memukul-mukul tubuhnya sendiri.

Sabar anakku. Sabar…

Pak Burhan bingung, apa yang harus diperbuatnya untuk menolong Vivie. Sepertinya, putrinya itu menderita trauma yang sangat. Selang beberapa hari setelah proses penanganan dari dokter, pak Burhan akhirnya memutuskan mengirimkan Vivie ke pesantren untuk membantu proses penyembuhan mental putrinya itu.

****

—-di pesantren—-

Pesantren tempat Vivie melakukan rehabilitasi mental cukup nyaman. Lokasinya cukup jauh dari pusat kota, jauh dari kebisingan –aktivitas dunia-. Jaraknya mencapai 150 kilometer dari kota Surabaya. Udara di tempat itu cukup dingin karena lokasinya memang berada di lereng pegunungan. Dia berusaha menikmati masa-masa penyembuhan –mental-nya itu.

Di tempat itu, Vivie berusaha mati-matian untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan barunya, terutama dengan teman-temannya yang sekarang. Pak Burhan sengaja tidak mengizinkannya untuk membawa barang-barang mahal yang biasa dia gunakan. Itu semua untuk melatihnya supaya bisa berlaku hidup sederhana. Sebuah pelajaran berharga bagi Vivie.

Jadwal kegiatan Vivie di pesantren cukup padat. Bangun tidur jam tiga pagi untuk sholat tahajud, kemudian membaca Al-Qur’an sampai masuk waktu sholat shubuh. Aktivitas bersih-bersih diri yang dilanjutkan dengan kegiatan belajar mengajar tsaqofah [pemahaman/pengetahuan] Islam sampai siang. Dan seterusnya

Geeezzz!! Rasanya aku memang manusia bodoh ya?!” gumam Vivie pada dirinya sendiri.

Vivie yang terbiasa hidup nyaman dalam ‘safe zone’ dengan segala kemewahan dan fasilitas yang diberikan oleh papanya, pada awalnya, cukup shock dengan kebiasaan sehari-hari di pesantren. Dia belajar banyak akan arti kesederhanaan.

Great!! These are the things I’m looking for so far!

Yups. Betul sekali. Hati Vivie yang selama ini dibiarkannya kering begitu saja, kini telah berubah. Dia menjadi tahu apa arti dan tujuan hidupnya yang sebenarnya sekarang.

Nothing impossible on this world! Yeach…

Inchi demi inchi dari setiap apa yang telah diperbuatnya selama ini, dia telaah satu per satu. Setahap demi setahap dia memperbaiki dirinya.

I wanna be good girl. Not really like before. No more!

***

Di pesantren itu dia mendapatkan nafas baru. Di pesantren itu pula, dia menemukan sahabat sejatinya, Aisya.

Aisya seorang yang ramah. Sangat cantik. Smart! Bisa dikatakan, Aisya adalah santriwati idaman di pesantren itu. Banyak yang memujinya, tapi Aisya tetaplah Aisya yang rendah hati. Low Profile. Aisya pula yang membuat Vivie tetap bertahan di pesantren itu. Setiap kali Vivie ada masalah, Aisya-lah tempat menumpahkan segala keluh kesahnya.

Vie, seorang muslimah selayaknya berpakaian seperti muslimah sejati. Seorang muslimah sejati, kalau dia keluar rumah harus menutup aurat yang memang –layak dan harus- ditutup. Itu semua juga tidak dilakukan atas dasar keuntungan yang didapat. Namun, itu semua dilakukan semata-mata untuk mendapatkan ridho Alloh Subhanahu wata’ala yang telah memberikan kenikmatan, khususnya kecantikan. Silakan Vivie lihat firman Alloh Subhanahu wata’ala dalam Al-Qur’an surat An-Nur ayat (31) dan surat Al-Ahzab ayat (59). Ukhibbuki fillah [aku mencintaimu karena Alloh] Vivie,” perkataan Aisya dengan suara lembutnya bak kembang gula, nyeess rasanya.

Kata-kata Aisya kedengaran sangat halus. Tapi memang sarkasme bagi Vivie. Sebuah tamparan keras bagi Vivie. Plakkk!! Vivie yang kecowokan dan super tomboy akan mengenakan kerudung dan jilbab?

Oh, My!!

Namun demikian, Vivie tak marah sedikitpun kepada Aisya yang selalu nampak cantik di mata Vivie. Aisya is a perfect girl! That’s all!

Wow…begitu cantiknya Aisya. Dia selalu ada untukku. Andaikan aku menjadi suaminya, aku akan sangat beruntung. Aisya memang cantik, cantik sekali, huuuhh,” celetuk hati Vivie sambil menghela nafas panjang.

[Aisya menjumpai Vivie di asrama putri]

Vie, kamu ada jadwal siang ini? Aku ingin mengajakmu ke toko buku untuk membeli buku agenda muslimah. Berdua saja! Just both of us!” ajak Aisya kepada Vivie, sambil mengerlingkan mata ke arah Vivie.

DEG..DEG..DEG…

Apa?? Cuma kita berdua? Aku tidak salah dengar kan? Wow!!” Vivie canggung.

Iya, Cuma kita berdua? Memangnya, ada yang salah dengan kata-kataku?” Aisya bertanya heran.

Eh..Eh..eng..enggak kok, Aisy. Nggak ada yang salah kok dari kata-katamu barusan,” Vivie berusaha menutupi gugupnya.

Tapi, kamu nampak agak pucat, Vie. Kamu sehat-sehat saja kan?” Aisya bertanya dengan sedikit mencemaskan Vivie. Tangan Aisya yang lembut membelai pipi dan dahi Vivie. Manusia yang dihadapannya kini telah jadi patung es. Dingin dan membatu.

Eng..enggak papa. Beneran. Aku sehat-sehat saja,” Vivie berkilah lagi. Saat ini wajahnya semakin terlihat seperti mayat hidup, tanda kekurangan suplai darah akut.

Ya sudah kalo gitu, aku tinggal dulu ya,” Seperti biasa, Aisya menyalami Vivie dan cipika cipiki alias cium pipi kanan – cium pipi kiri sebagai tanda persaudaraan sesama muslimah. Tidak lebih.

DEG..DEG..DEG..DEG

Jantung Vivie bisa dibilang nyaris tak berdetak, ritmenya semakin lambat dan mulai tak bersuara. Beberapa malam, Vivie selalu gelisah dan susah memejamkan matanya untuk tidur. Insomnia! Di benaknya selalu terlintas sosok Aisya, Aisya dan Aisya.

Cukup! Hentikan!” teriak Vivie dalam hatinya.

Kenapa ini? Oh, Tuhan! Apa yang aku rasakan ini seperti bukan hal biasa. Apakah ini karena kekagumanku kepada Aisya yang terlalu berlebihan? Apa yang sebenarnya aku rasakan ini? Aku menyukai Aisya? Aku menyukai Aisya! Apa aku ini lesbi? Oh…tidak! It shouldn’t be happened! Tuhan, maafkan aku. Apakah aku salah memiliki rasa ini yang terasa begitu riil dalam jiwaku? Setiap kali aku bersama Aisya, perasaan ini semakin tak jelas kemana arahnya. Oh, Tuhan, Help me!

Vivie berusaha keras [lagi] melawan semua apa yang sesaat dia rasakan.

Aisy..maafkan aku. Sebaiknya kita tidak bertemu lagi. ” kata Vivie

Why?” tanya Aisya dengan wajah penuh tanya.

Maafkan aku Aisy. Aku tak bisa menjelaskan alasannya. Maafkan aku.” jelas Vivie dengan mata menatap tajam ke bumi.

Iya, tapi maaf untuk apa? Kamu tidak punya salah kepadaku, Vie. Tolong, jelaskan kepadaku agar aku tak kebingungan seperti ini? Bukankah kamu selalu menceritakan masalahmu kepadaku dan kita sudah seperti sahabat sendiri, bahkan seperti saudara?” Aisya penasaran.

Sungguh, aku tak bermaksud memutuskan tali silaturahmi di antara kita. Karena..karena..aku..aku..,” kata-kata Vivie terhenti. Kini dia memberanikan untuk mengangkat mukanya dan matanya menatap lekat mata Aisya.

Karena aku apa??” Aisya semakin penasaran. Sorot matanya juga tidak mau kalah. Lekat dan tajam dia memandang vivie.

Karena aku mencintaimu.” Vivie tertunduk, dia tak mau melihat wajah Aisya yang mempesona.

Iya, sama. Aku juga. Aku juga mencintaimu seperti saudara kandungku sendiri, Vivie,” tangan aisya kini telah terdampar di kedua lengan vivie. Dia mencoba meyakinkan dan meluruskan penyataan vivie tersebut.

Tapi, aku..aku..cinta..cintaku..Ahhhh………

Vivie sudah tidak tahan lagi. Dia berlari begitu saja meninggalkan Aisya terbengong dan tak mengerti dengan apa yang dimaksud oleh Vivie.

It’s all confusing! &*#@&*%$#@%$#

Vivie memutuskan untuk diam. Tak mengatakan apapun kepada orang lain, termasuk kepada ayah semata wayangnya, Pak Burhan. No one! Dia semakin bingung. Gelisah.

Aku sudah gila! Mana mungkin aku mencintai seorang perempuan, sementara aku sendiri juga seorang: PEREMPUAN?????? Aku sudah gila!” vonis Vivie kepada dirinya sendiri.

***

Vivie meninggalkan pesantren dan kembali ke rumah dengan alasan yang sebenarnya belum bisa diterima oleh ayahnya. Namun sekali lagi, Pak Burhan tidak bisa menolak keinginan putrinya itu.

Suatu sore Vivie mendengarkan radio dari handphone-nya. Dicarinya frekuensi yang pas yang dari tadi tidak ketemu juga. Sampai dia di frekuensi 95.8 FM, pas ada forum konsultasi dibawah asuhan seorang ustadz muda jebolan pesantren yang tak jauh dari pesantren tempat Vivie ‘berobat’ dulu. Karena saking butuhnya Vivie terhadap jawaban dari segala gundah di hatinya, Vivie mencatat nomor telepon ustadz tersebut. Keesokan harinya, Vivie langsung menghubungi ustadz tersebut.

Konsultasi berlanjut namun tetap dijaga agar tetap syar’i. Jadi ketika setiap kali konsultasi yang membutuhkan pertemuan langsung, ustadz tersebut selalu membawa teman supaya terhindar dari khalwat (berdua-duaan selain dengan muhrimnya). Ustadz menjelaskan dengan detil apa yang sebaiknya dilakukan Vivie. Vivie pun berusaha jujur dan tidak menutupi perihal latar belakangnya yang tomboy dan trauma yang pernah dirasakannya sampai sekarang.

Vivie yang dirahmati Alloh Subhanahu wata’ala, rasa kasih dan sayang bukanlah hal yang salah. Itu adalah fitrah. Namun, rasa kasih sayang itu harus dikendalikan sehingga tetap berada pada jalur yang benar. Itu bagian dari potensi manusia berupa naluri, khususnya naluri untuk melanjutkan keturunan (ghorizah an-nau). Seperti yang Vivie ketahui, untuk melanjutkan keturunan, selayaknya seorang laki-laki menikahi perempuan, bukan laki-laki menikahi laki-laki, ataupun perempuan menikahi perempuan. Karena secara logika pun, sesama laki-laki maupun sesama perempuan tidak akan pernah bisa menghasilkan keturunan untuk melestarikan jenis manusia. Bukankah demikian?” penjelasan Ustadz sebagai prolog.

“Iya, Ustadz, tapi saya sangat kagum kepada Aisya!” nada bicara Vivie meninggi.

“Kalau Vivie menyukai Aisya sebatas kagum yang sewajarnya akan kepandaian, kecantikan (sesama perempuan) atau kesholihannya itu tidaklah dilarang. Itu sama sekali tidak melawan kodrat manusia. Namun, jika yang terjadi justru sebaliknya yaitu Vivie menyukai Aisya seperti layaknya rasa suka laki-laki kepada perempuan, maka itu jelas tidak sesuai dengan syari’at Alloh Subhanahu wata’ala. Haram!” Ustadz menegaskan.

“Iya tapi..tapi ini adalah hak asasi saya! Ustadz mau melanggar HAM dan saya laporkan kepada KOMNAS-HAM?”Vivie masih juga belum puas dengan jawaban Ustadz, bahkan kali ini  dengan nada mengancam.

“Tenang dulu, Vie! Coba Vivie pikirkan, apa yang akan terjadi di dunia ini jika ‘cinta terlarang’ yang Vivie rasakan dibiarkan berkembang entah atas nama kebebasan atau hak asasi manusia,, hmmm..jelaslah akibatnya: KEPUNAHAN MANUSIA. Dunia ini akan hancur, Vie!”

“Tapi…tapi…saya sudah terbiasa dibesarkan seperti laki-laki. Ini takdir saya untuk memiliki jiwa laki-laki. Apakah saya salah?” Vivie tetap bersikukuh.

“Maaf, saya hanya ingin mengingatkan juga bahwa latar belakang Vivie yang dibesarkan dengan didikan tangan laki-laki [saja] yaitu ayah Vivie, hal itu tidak boleh dijadikan dalih untuk me-legalkan Vivie berubah menjadi laki-laki. Sebagai muslim, ada yang namanya aturan Islam yang bisa kita jadikan kontrol dan ‘rem’ jika sesuatu yang kita lakukan telah keluar dari koridor syariat. Semua itu demi kebaikan manusia,” Ustadz meyakinkan.

“Saya capek, Ustadz!! Saya ingin melawan kecenderungan -abnormal- dalam diri saya, tapi saya belum bisa. Saya capek! Saya ingin hidup normal.” Vivie mulai menangis.

“Lawanlah ‘rasa tidak wajar’ itu semaksimal mungkin. Karena hal itu masih dalam wilayah yang dikuasai manusia. Butuh pembiasaan mulai sekarang. Tak ada kata terlambat. Cobalah Vie. Saya yakin, Vivie mampu menjalani semua ini. Ingat Firman Alloh Subhanahu wata’ala yang berbunyi ‘la yukallifullohu nafsan illa wus’aha’ [(Alloh) tidak akan membebani seseorang, kecuali sesuai dengan tingkat kemampuan seseorang itu]. Percayalah kamu bisa!” Ustadz meyakinkan lagi.

***

Komunikasi antara Vivie dan ustadz tersebut masih berlangsung. Nampaknya Vivie semakin bisa mengendalikan kecenderungan perasaannya.

[komunikasi antara Vivie dan ustadz via telepon]

Assalamualaikum Ustadz.

Waalaikumsalam. Bagaimana kondisi Vivie sekarang? Apakah masalah yang dulu itu sudah terselesaikan? Apakah perasaan Vivie kepada Aisya sudah berubah dan terkendali?

Alhamdulillah Ustadz, perasaan Vivie sudah berubah. Vivie juga sudah menjalin komunikasi dan silaturahmi lagi dengan Aisya serta menganggapnya sebagai saudara Vivie sendiri. Sekarang, Vivie sudah bisa lebih tenang dalam beribadah. Namun, sebenarnya ada satu hal yang ingin saya sampaikan kepada Ustadz. Kalau boleh jujur, Vivie telah memiliki keinginan untuk menyempurnakan setengah agama Vivie dengan menikah.

Syukurlah kalau demikian. Apakah ustadz mengetahui orang tersebut? Yang pasti, semoga orang tersebut nantinya mampu memimpin dan membimbing Vivie untuk lebih dekat kepada Alloh Subhanahu wata’ala.

Ya, insyaAlloh orang tersebut akan mampu membimbing dan menjaga hati Vivie, bahkan orang tersebut telah menunjukkan kepada Vivie jalan yang benar. Tapi Ustadz tidak boleh marah ya. Ustadz, maukah Ustadz menjaga hati Vivie dengan menikahi Vivie? Karena sebenarnya orang yang Vivie maksudkan tersebut adalah Ustadz sendiri.” []

(by: yiruma kaze)

 
2 Comments

Posted by on October 24, 2011 in cerpen

 

Tags: , ,

2 responses to “Aku Lesbi ??!

  1. Princess Shalihah ^^

    February 6, 2014 at 8:46 am

    Fenomena yg srg trjadi.. dan jwban yg tepat, islam tlah mengatur segalanya, ikhtiar adlh wilayah kita, rasa hrs trkontrol n d rem, naluri hrs trsalurkan secara benar.. tdk sembarang dr perasaan,, trims utk cerpennya mb emmakaze.. #keren :’)

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: