RSS

Sepucuk surat Bunda dan Ayah

20 Oct

 

Nak,, sengaja kami berdua, bunda dan ayahmu, menuliskan ini untukmu, buah hati kami..

Nak, apakah kau masih ingat?? Saat pertama kali kau masuk sekolah di Taman Kanak-Kanak, bunda mengantarmu hingga masuk ke dalam kelas. Dengan sabar pula bunda menunggu. Sesekali kau lihat dari jendela kelas, bunda masih duduk di seberang sana. Kau tak peduli dengan setumpuk pekerjaan bunda di rumah, dengan rasa kantuk yang mendera bunda, atau terik, atau hujan. Juga rasa jenuh dan bosannya bunda menunggu. Yang penting kau senang bunda menungguimu sampai bel berbunyi.

Kini, setelah kau besar, kau malah sering meninggalkan bunda, bermain bersama teman-teman, bepergian. Tak pernah kau menunggui bunda ketika bunda sakit, ketika bunda membutuhkan pertolonganmu disaat tubuh bunda melemah. Saat kau beranjak dewasa, kau meninggalkan bunda karena tuntutan kesibukan ini itu.

Bunda rindu nak…

Di usiamu yang menanjak remaja, kau sering merasa malu berjalan bersama bunda. Pakaian dan dandanan bunda yang kau anggap kuno jelas tak serasi dengan penampilanmu yang trendi. Bahkan seringkali kau sengaja mendahului bunda berjalan satu-dua meter didepan bunda agar orang tak menyangka kau sedang bersama bunda.

Padahal, kalau kau mau mendengar cerita tetangga, sejak kau kecil bunda memang tak pernah memikirkan penampilan bunda sendiri, bunda tak pernah membeli pakaian baru, apalagi perhiasan. Bunda sisihkan semua untuk membelikanmu pakaian yang bagus-bagus agar kau terlihat cantik, bunda pakaikan juga perhiasan di tubuhmu dari sisa uang belanja bulanan bunda. Padahal juga kau tahu, bunda yang dengan penuh kesabaran, kelembutan dan kasih sayang mengajarimu berjalan. Bunda mengangkat tubuhmu ketika kau terjatuh, membasuh luka di kaki dan mendekapmu erat-erat saat kau menangis.

Bunda kangen nak…

Selepas SMP atau MTs, ketika kau mulai memasuki dunia barumu di SMA, kau semakin merasa jauh berbeda dengan bunda. Kau yang pintar, cerdas dan berwawasan seringkali menganggap bunda sebagai orang bodoh, tak berwawasan hingga tak mengerti apa-apa.

Kini ayah juga ingin bicara nak…

Nak, menjadi ayah itu indah dan mulia. Besar kecemasan ayah menanti kelahiranmu dulu belum hilang hingga saat ini. Kecemasan yang indah karena didasari sebuah cinta. Sebuah cinta yang telah terasakan oleh ayah bahkan ketika yang ayah cintai, yaitu engkau, belum sekalipun ayah temui.

Nak, menjadi ayah itu mulia. Bacalah sejarah Nabi-Nabi dan Rasul dan temukanlah betapa nasehat yang terbaik itu dicatat dari dialog seorang ayah dengan anak-anaknya.

Meskipun demikian, ketahuilah Nak, menjadi ayah itu berat dan sulit. Tapi ayah akui, betapa sepanjang masa kehadiranmu di sisiku, ayah seperti menemui keberadaan ayah, makna keberadaanmu, dan makna tugas kebapakanku terhadapmu. Sepanjang masa keberadaanmu adalah salah satu masa terindah dan paling ayah banggakan di depan siapapun. Bahkan di hadapan Tuhan, ketika ayah duduk berduaan berhadapan dengan Nya, hingga saat usia senja ini.

Nak, saat pertama engkau hadir, kucium dan kupeluk engkau sebagai buah cinta ayah dan bundamu. Sebagai bukti, bahwa ayah dan bundamu tak lagi terpisahkan oleh apapun jua. Tapi seiring waktu, ketika engkau suatu kali telah mampu berkata: “TIDAK”, timbul kesadaranku siapa engkau sesungguhnya. Engkau bukan milikku, atau milik bundamu Nak. Engkau lahir bukan karena cinta ayah dan cinta bundamu. Engkau adalah milik Tuhan. Tak ada hakku menuntut pengabdian darimu. Karena pengabdianmu semata-mata seharusnya hanya untuk Tuhan. Hanya untuk Alloh…

Nak, sedih, pedih dan terhempaskan rasanya menyadari siapa sebenarnya ayah dan siapa engkau. Dan dalam waktu panjang di malam-malam sepi, ayah sesali kesalahan ayah itu sepenuh -penuh air mata dihadapan Alloh. Syukurlah, penyesalan itu mencerahkan ayah.

Sejak saat itu Nak, satu-satunya usaha ayah adalah mendekatkanmu kepada pemilikmu yang sebenarnya. Membuatmu senantiasa berusaha memenuhi keinginan Pemilikmu. Melakukan segala sesuatu karena Alloh, bukan karena ayah dan bundamu. Tugas ayah bukan membuatmu dikagumi orang lain, tapi agar engkau dikagumi dan dicintai Alloh.

Inilah usaha terberat ayah Nak, karena artinya ayah harus lebih dulu memberi contoh kepadamu dekat dengan Alloh. Keinginan ayah harus lebih dulu sesuai dengan keinginan Alloh. Agar perjalananmu mendekati Alloh tak lagi terlalu sulit.

Kemudian, kitapun memulai perjalanan itu berdua, tak pernah engkau kuhindarkan dari kerikil tajam dan lumpur hitam. Ayah cuma menggenggam jemarimu dan merapatkan jiwa kita satu sama lain. Agar dapat kau rasakan perjalanan ruhaniah yang sebenarnya.

Saat engkau mengeluh letih berjalan, ayah kuatkan engkau karena kita memang tak boleh berhenti. Perjalanan mengenal Alloh tak kenal letih dan berhenti, Nak. Berhenti berarti mati, inilah kata-kata ayah tiap kali memeluk dan menghapus air matamu, ketika engkau hampir putus asa.

Akhirnya Nak, kalau nanti, ketika semua manusia dikumpulkan di hadapan Alloh, dan ayah dapati jarak ayah amat jauh dari Alloh, ayah akan ikhlas. Karena seperti itulah ayah di dunia. Tapi, kalau boleh ayah berharap, ayah ingin saat itu ayah melihatmu dekat dengan Tuhan. Ayah akan bangga Nak, karena itulah bukti bahwa semua titipan bisa kita kembalikan kepada Pemiliknya.

 

Ayah dan bunda ingin kau dekat dengan Tuhanmu, Pemilikmu, yang mencintai kita semua tanpa meminta balas. Hanya itu.. tapi kenapa kau masih ragu, anakku?? Kenapa kau masih ragu? Kenapa kau tak mau mendekat kepada-Nya, berjalan kepada-Nya bahkan berlari menuju ridho-Nya. Kenapa nak??

Kini ayah dan bunda sudah renta..sebentar lagi akan meninggalkanmu selamanya..kuingin kita semua nanti berkumpul di surga nan indah, yang mengalir dibawahnya sungai-sungai dengan geletaran air langit. Semoga kau mengerti maksud ayah dan bunda mengirimkan surat ini kepadamu, Nak..

 

Kami cukupkan surat ini.

*Dari ayah dan bunda yang senantiasa merindukanmu.*

 

Ya Alloh..

Ketika Ruhku Meninggalkan Jasad…
Terdengar Suara Dari Langit Memekik,
“Wahai Fulan Anak Si Fulan..
Apakah Kau Yang Telah Meninggalkan Dunia,
Atau Dunia Yang Meninggalkanmu
Apakah Kau Yang Telah Menumpuk Harta Kekayaan,
Atau Kekayaan Yang Telah Menumpukmu
Apakah Kau Yang Telah Menumpuk Dunia,
Atau Dunia Yang Telah Menumpukmu
Apakah Kau Yang Telah Mengubur Dunia,
Atau Dunia Yang Telah Menguburmu.”

Ketika Mayatku Tergeletak Akan Dimandikan….
Terdengar Dari Langit Suara Memekik,
“Wahai Fulan Anak Si Fulan…
Mana Badanmu Yang Dahulunya Kuat
Mengapa Kini Terkulai Lemah
Mana Lisanmu Yang Dahulunya Fasih
Mengapa Kini Bungkam Tak Bersuara
Mana Telingamu Yang Dahulunya Mendengar
Mengapa Kini Tuli Dari Seribu Bahasa
Mana Sahabat-Sahabatmu Yang Dahulunya Setia
Mengapa Kini Raib Tak Bersuara

Ketika Mayatku Siap Dikafan…
Suara Dari Langit Terdengar Memekik,
“Wahai Fulan Anak Si Fulan
Berbahagialah Apabila Kau Bersahabat Dengan Ridha Allah
Celakalah Apabila Kau Bersahabat Dengan Murka Allah
Wahai Fulan Anak Si Fulan…
Kini Kau Tengah Berada Dalam Sebuah Perjalanan
Nun Jauh Tanpa Bekal
Kau Telah Keluar Dari Rumahmu
Dan Tidak Akan Kembali Selamanya
Kini Kau Tengah Safar Pada Sebuah Tujuan Yang Penuh Pertanyaan.”

Ketika Mayatku Diusung….
Terdengar Dari Langit Suara Memekik,
“Wahai Fulan Anak Si Fulan..
Berbahagialah Apabila Amalmu Adalah Kebajikan
Berbahagialah Apabila Matimu Diawali Tobat
Berbahagialah Apabila Hidupmu Penuh Dengan Taat.”

Ketika Mayatku Siap Dishalatkan…. Terdengar Dari Langit Suara Memekik, “Wahai Fulan Anak Si Fulan.. Setiap Pekerjaan Yang Kau Lakukan Kelak Kau Lihat Hasilnya Di Akhirat Apabila Baik Maka Kau Akan Melihatnya Baik Apabila Buruk, Kau Akan Melihatnya Buruk.”

Ketika Mayatku Dibaringkan Di Liang Lahat….
Terdengar Suara Memekik Dari Langit,
“Wahai Fulan Anak Si Fulan…
Apa Yang Telah Kau Siapkan Dari Rumahmu Yang Luas Di Dunia
Untuk Kehidupan Yang Penuh Gelap Gulita Di Sini
Wahai Fulan Anak Si Fulan…
Dahulu Kau Tertawa Kini Dalam Perutku Kau Menangis
Dahulu Kau Bergembira Kini Dalam Perutku Kau Berduka
Dahulu Kau Bertutur Kata Kini Dalam Perutku Kau Bungkam Seribu Bahasa.”

Ketika Semua Manusia Meninggalkanku Sendirian….
Allah Berkata Kepadaku, “Wahai Hamba-Ku….. Kini Kau Tinggal Seorang Diri Tiada Teman Dan Tiada Kerabat Di Sebuah Tempat Kecil, Sempit Dan Gelap.. Mereka Pergi Meninggalkanmu.. Seorang Diri Padahal, Karena Mereka Kau Pernah Langgar Perintahku Hari Ini,…. Akan Kutunjukan Kepadamu Kasih Sayang-Ku Yang Akan Takjub Seisi Alam Aku Akan Menyayangimu Lebih Dari Kasih Sayang Seorang Ibu Pada Anaknya. Kepada Jiwa-Jiwa Yang Tenang Allah Berfirman, “Wahai Jiwa Yang Tenang Kembalilah Kepada Tuhanmu Dengan Hati Yang Puas Lagi Diridhai-Nya Maka Masuklah Ke Dalam Jamaah Hamba-Hamba-Ku Dan Masuklah Ke Dalam Jannah-Ku

Ya Alloh…

Detik waktu terus berjalan berhias gelap dan terang

Suka dan duka, tangis dan tawa

Tergores bagai lukisan

Seribu mimpi berjuta sepi hadir bagai teman sejati

Diantara lelahnya jiwa dalam desah dan air mata

Kupersembahkan kepada-Mu yang terindah dalam hidupku

Meski ku rapuh dalam langkah kadang tak setia kepada-Mu

Namun cinta dalam jiwa hanyalah pada-Mu

Maafkanlah bila hati tak sempurna mencintai-Mu

Dalam dada kuharap hanya diri-Mu yang bertahta

[]

 
Leave a comment

Posted by on October 20, 2011 in muhasabah

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: