RSS

Reposisi Peran Wanita Indonesia; Menelaah Kembali Surat-surat Kartini

20 Oct

Sejarah, penggal waktu yang telah ditinggalkan. Sejarah, hanyalah saksi bisu yang bergantung pada kacamata manusia untuk membacanya. Sejarah bisa berarti beda jika kacamata baca manusia juga berbeda. Adalah suatu keharusan untuk membaca sejarah secara obyektif berdasarkan fakta. Demikian halnya dengan perjuangan Kartini. Benarkah Kartini menginginkan kaum wanita mengejar kesetaraan kedudukan dengan kaum laki-laki di semua bidang?

 

Obyektfitas adalah syarat utama untuk mengkaji sebuah sejarah. Tanpa ada semangat obyektifitas, sebuah peristiwa sejarah dapat dimaknai dan disalahgunakan sesuai dengan kepentingan pihak yang bersangkutan. Untuk mendukung sebuah pendapat atau mewujudkan sebuah tujuan, kisah sejarah bisa dipenggal, dihilangkan atau justru ditambahi dengan penekanan pada bagian-bagian tertentu. Penyusunan sejarah seperti ini hanya akan mengantarkan masyarakat pada sebuah kesimpulan yang salah, bukan kepada pelajaran sebenarnya yang ada di balik kisah kehidupan sang tokoh.

Demikian juga dengan sejarah perjuangan R.A Kartini. Selama ini, yang dipahami dari perjuangannya adalah semangat emansipasi agar kaum wanita memiliki hak yang sama dan sejajar dengan kaum laki-laki. Kemudian, yang terlihat adalah wanita Indonesia yang tergopoh-gopoh untuk menempatkan diri pada posisi-posisi yang didominasi kaum pria. Kata “emansipasi” telah bergeser ke arah liberal, gender, feminisme dan ide-ide penentangan terhadap fitrah kaum wanita yang memang berbeda dengan lawan jenisnya.

 

Kartini, Antara Dominasi Adat dan Pengaruh Barat

Kartini tumbuh dalam dua suasana dan pemikiran yang saling bertentangan. Sebagai keturunan ningrat, Kartini tumbuh di lingkungan yang kuat dengan adat-istiadat. Di satu sisi, keningratan memungkinkan Kartini untuk memiliki teman-teman dari Belanda yang mengagungkan kebebasan. Dalam surat Kartini yang terhimpun dalam kumpulan surat-surat yang dibukukan dengan judul “Door Duisternis Tot Licht” atau “Habis Gelap Terbitlah Terang”, nampak bahwa jalinan persahabatan ini telah menyumbangkan sebuah pemikiran tersendiri bagi perkembangan pemikirannya. Di tengah kuatnya dominasi adat, Kartini berani berdiri untuk menantang semua adat itu.

Kartini memahami bahwa setiap manusia sederajat dan mereka berhak untuk mendapat perlakuan yang sama. Kartini menyimpulkan bahwa pangkal kemunduran dan rasa rendah diri yang dialami oleh masyarakat adalah mundur dan minimnya pendidikan yang mereka rasakan. Kaum pribumi adalah kaum terbelakang dan bodoh. Pendidikan menjadi hak paten bagi kalangan ningrat dan para penjajah.

Titik tolak perjuangan Kartini diawali dengan membenahi pendidikan di kalangan pribumi, tak terkecuali kaum wanita. Kartini membuat nota yang berjudul “Berilah Pendidikan kepada Bangsa Jawa” kepada pemerintah kolonial. Dalam nota tersebut, Kartini mengajukan kritik dan saran kepada hampir semua Departemen Pemerintah Hindia Belanda, kecuali Departemen Angkatan Laut (Marine). Kartini pun merasa perlu untuk belajar ke Barat. Namun, cita-citanya itu pun kandas di tangan para sahabatnya yang tak menginginkan Kartini memiliki pemahaman lebih maju lagi.

Pergolakan Pemikiran Setelah Mengenal Agamanya

Sulit bagi Kartini untuk bertahan di lingkungan yang bertentangan dengan pemikirannya. Ditengah kuatnya kungkungan adat dan derasnya serangan pemikiran Barat, Kartini mencoba mencari jawaban.

Tahun-tahun terakhir sebelum wafat, Kartini menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang bergolak dalam benaknya. Ia mencoba mendalami ajaran yang dianutnya, yaitu Islam. Ajaran Islam pada awalnya tak mendapat tempat di benak Kartini. Namun, setelah pertemuannya dengan Kyai Haji Mohammad Sholeh bin Umar, seorang ulama besar dari Darat, Semarang, segalanya berubah. Kartini tertarik pada terjemahan Surat al-Fatihah yang disampaikan sang Kyai. Tapi sayang, tak lama setelah itu Kyai Sholeh Darat meninggal dunia, sehingga seluruh al-Qur’an belum selesai diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa (petikan dialog antara Kartini dan Kyai Sholeh Darat ditulis oleh Nyonya Fadhila Sholeh, cucu Kyai Sholeh Darat).

Andai saja Kartini sempat mempelajari keseluruhan ajaran Islam (al-Qur’an) maka tidak mustahil jika ia akan menerapkan semaksimal mungkin semua kandungan ajarannya. Kartini sangat berani untuk berbeda dengan tradisi adatnya yang sudah terlanjur mapan. Kartini juga memiliki modal ketaatan yang tinggi terhadap ajaran agamanya.

 

Upaya Meneladani Kartini

Upaya menerjemahkan perjuangan Kartini oleh kaum wanita sekarang ini nampaknya telah melampaui batas. Petikan surat Kartini berikut ini menegaskan kesalahan penerjemahan kaum wanita Indonesia.

Kami disini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak perempuan, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam sendiri kedalam tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama.” [Surat Kartini kepada Prof. Anton dan Nyonya Anton, 4 Oktober 1902].

Tak ada sepatah katapun dalam surat tersebut yang mengajarkan wanita untuk mengejar persamaan hak, kewajiban, kedudukan dan peran agar sejajar dengan kaum pria. Kartini memahami bahwa kebangkitan seseorang ditandai oleh kebangkitan cara berfikirnya. Kartini mengupayakan pengajaran dan pendidikan bagi kaum wanita semata-mata demi kebangkitan berfikir kaumnya agar lebih cakap menjalankan kewajibannya sebagai seorang wanita.

Atas nama perjuangan Kartini, para wanita justru terjebak pada nilai-nilai liberalisasi dan ide-ide barat yang justru ditentang oleh sang pahlawan. Lihatlah wanita-wanita yang terserak di jalan-jalan dengan dandanan menor dan baju mini atas nama emansipasi. Mereka meninggalkan kewajiban serta fitrahnya sebagai wanita. Para perempuan itu enggan untuk menjadi ibu bagi anak-anaknya, karena bagi mereka, hamil hanya merusak bentuk tubuh indah mereka. Sementara, wanita yang memilih menjadi ibu rumah tangga dicibir karena dianggap tidak produktif. Makna produktif disini adalah segala sesuatu yang dapat menghasilkan uang dan dapat dinilai secara materi. Perjuangan yang kini dilakukan oleh para feminis, yang mengklaim diri sebagai pembela hak-hak wanita, justru sangat jauh dari ruh perjuangan Kartini. Kartini tak menuntut persamaan hak dalam segala bidang. Kartini hanya menuntut agar kaum wanita diberi hak untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Tak lebih dari itu.

Kartini bertekad untuk menjadi sosok wanita yang baik. Terma ‘Minazh-Zhulumaati ilan Nuur’ dalam al-Qur’an surat al-Baqarah ayat 257 yang berarti ‘dari gelap kepada cahaya’ telah mendorongnya untuk merubah diri dari pemikiran yang salah kepada ajaran Sang Pencipta. Tak berlebihan jika kita menyimpulkan bahwa tujuan Kartini adalah mengajak setiap wanita untuk memegang teguh ajaran agamanya. []

 

[dimuat di Tabloid SPASI Pemerintah Kab. Kediri, eds. April 2011]

 
Leave a comment

Posted by on October 20, 2011 in opini

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: