RSS

Mengais Cinta di Negeri Sakura

20 Oct

 

— April 2010 —-

Suhu udara berangsur menghangat. Nyaman. Nyaman sekali. Bunga sakura bermekaran dengan sangat cantiknya. Indah!

Musim semi telah datang!

Tradisinya disini, masyarakat Jepang berbondong-bondong ber- hanami (hana=bunga, mi=melihat) untuk melihat bunga sakura di musim semi. Adalah Tokugawa Yoshimune, tokoh yang telah menanam banyak pohon sakura kala itu. Biasanya masyarakat Jepang pergi ke taman kota, berkumpul bersama sambil makan-minum, bercengkerama dan masih banyak lagi yang dilakukan. Ada banyak makanan seperti yakitori, yakisoba, tokoyaki, ayam goreng, dan yang paling membuatku kangen Indonesia adalah onigiri! Yups! Onigiri adalah salah satu makanan praktis khas Jepang, dibuat dari nasi yang dikepal-kepal dan dibalut nori (rumput laut kering yang dibuat lembaran). Terkadang, didalam onigiri juga bisa diisi dengan berbagai jenis lauk seperti ikan atau lainnya.

Sangat ramai di taman kota ini. Tepatnya di Mariyuama Park. Aku ikut berhanami disini, sebagai member Persatuan Pelajar Indonesia di Kyoto (PPI Kyoto). Ya, namaku Farhan, aku termasuk orang yang sangat beruntung karena mendapatkan beasiswa riset. Aku bisa dikatakan sebagai kokuhi ryuugakusei (mahasiswa atas biaya negara). Ramai sekali di taman ini. Aku juga bertemu para pengurus Perhimpunan Persahabatan Jepang-Indonesia. Namun, aku merasakan sepi, tak tahu kenapa. Sepi, meskipun disini banyak sekali orang berlalu lalang, bergembira, berkumpul. Namun, aku merasakan ada yang kosong di dalam relung hatiku. Aku tak tahu apa yang aku rasakan ini. Hampa! Apakah orang-orang disini juga merasakan kehampaan yang sama sepertiku? Ataukah mereka sebenarnya merasakan kehampaan, namun tak menghiraukannya? Disini, ada sebuah sistem hidup yang kadang aku menganggapnya sebagai sistem Tak Ber-Tuhan! Sistem yang menghendakiku  untuk study, study, study! Bekerja, bekerja, bekerja! Sebuah rutinitas yang selalu saja dilakukan hampir semua orang ini, sampai tak mengenal waktu! Workaholic!

Kenapa denganku? Hampa! Kosong!

Namun aku memang beruntung! Sekali lagi aku katakan demikian, dibandingkan temanku yang bernama Edwin yang sama-sama dari Indonesia. Dia adalah shihi ryuugakusei (privately – financed student) alias mahasiswa atas biaya sendiri. Yang aku tahu, dia hanya menerima beasiswa 50 ribu yen per bulan. Padahal, dia harus membayar SPP per semester yang kalau bayar full sekitar 270 ribu yen/semester, terkadang bisa dapat keringanan setengahnya. Belum lagi sewa kamar, makan, telepon, transportasi, dan lain-lain. Nah lho! Tapi aku melihat, dia adalah mahasiswa super keren! He has been survived on his own feet! Sampai-sampai untuk makan, dia rajin makan onigiri tanpa isi. Jadi hanya nasi putih yang dikepal-kepal dan dibalut nori! Super-keren! Aku melihat cahaya perjuangan yang berbinar-binar di matanya!

Nevertheless, Edwin jauh lebih beruntung seribu kali dibanding ratusan bahkan ribuan pelajar Indonesia yang untuk sekolah dasar saja sulit, apalagi melanjutkan kuliah. Negeriku tercinta, Indonesia. Indonesia yang kaya raya, yang seharusnya bisa-lah untuk meng-kuliah-kan para pemuda generasi penerus bangsanya. Hmm..aku tak tahu lagi. Yang jelas, biaya pendidikan di Indonesia semakin lama semakin meningkat tajam dengan sistem kapitalistiknya. ORANG MISKIN DILARANG SEKOLAH!

Disini, di negeri Sakura ini, pendidikan sangat diperhatikan. Budaya disiplin tetap dijaga. Seakan tak ada waktu yang terbuang bagi orang Jepang. Time is money – lah. Namun ya itu, bagiku, tetap saja aku menganggap sistem disini sebagai sistem yang Tak Ber-Tuhan!

Bagiku, mendapatkan beasiswa ini adalah anugerah sekaligus tantangan. Sebuah anugerah, karena memang tidak semua orang yang apply beasiswa ini dapat di-lulus-kan. Di sisi lain, ini adalah sebuah tantangan, karena di negeri asing ini aku harus bisa survive dan aku berkomiten untuk mampu berkontribusi bagi orang-orang di sekitar serta lingkunganku yang baru ini.

Mayoritas penduduk Jepang disini menganut agama Budha/Shinto, yaitu sekitar 80%. Sedangkan untuk komunitas muslim, aku melihat memang orang muslim di sini minoritas. Bila diprosentase, komunitas muslim disini hanya sekitar 0,095% atau hanya 121.062 orang. Yang ngeh dengan Islam juga amat kecil. How poor we (moslems) are!! [kasihan banget ya kita sebagai kaum muslim, padahal kaum muslim adalah komunitas terbesar di dunia, sekaligus terhebat! Tapi lagi-lagi, kita kalah!]

Aku salut dengan orang-orang Muslim yang telah bermukim lama disini. Mereka pada dasarnya adalah orang asli Turki, Arab, Melayu dan Indonesia yang menempuh pendidikan/bekerja di Jepang. Of course, muslim di Jepang harus bisa struggle. Mereka masih susah terhadap pendidikan anak, makanan halal serta kesusastraan Islam. Terjemahan Al-Qur’an dalam bahasa Jepang juga tidak mudah didapati. Tidak ada kesusasatraan Islam di toko-toko atau perpustakaan umum, kecuali beberapa essay dan buku dalam bahasa Inggris yang dijual dengan harga yang agak mahal.

….

Aku masih sangat ingat dulu ketika adik bungsuku, Lia, yang masih berusia 6 tahun melepas keberangkatanku ke Jepang ini. Sangat lucu dan menggemaskan. Dengan kata yang masih terbata-bata dalam berbahasa Jepang dia tersenyum simpul.

“Ganbatte, one-san!” [Selamat berjuang, kak!]

“Hai, Ganbarimasu!” [Baik. Aku akan berusaha!]

“Ja, mata!” [Sampai ketemu]

“Hai!” [Baik]

Lalu kupeluk erat dia. Sangat erat.

“Semoga kita bisa segera ketemu ya, gadis kecilku.”

….

Aku sangat rindu gadis kecilku!

 

…….

Golden Week!!

Yups.. inilah minggu yang ditunggu-tunggu oleh banyak orang yang tinggal di Jepang, termasuk aku Minggu-minggu yang banyak liburnya! he..he..he… (dasar orang Indo!). Ya, dalam satu minggu ada total 4 hari libur yang hampir berurutan, yaitu tanggal 29 April (Showa day, hari kelahiran Kaisar), 3 Mei (Constitution Memorial Day), 4 Mei (Greenery Day) dan 5 Mei (Children’s Day). Seru!!! Bisa dimanfaatkan untuk jalan-jalan atau mengunjungi teman-teman dari Indonesia di sini!

Golden Week kali ini ada beberapa ustadz dari Indonesia yang mengisi pengajian. Salah satunya Ustadz Yusuf Mansyur di Rokujizo. Perjuangan Ustadz Yusuf Mansyur sangat layak untuk dicontoh. Di tengah hingar-bingar kehidupan dunia yang semakin menggilas ini, beliau masih saja meluangkan waktu untuk berdakwah. Menyampaikan yang haq [benar, red]. Dari beliau jugalah aku bisa menemukan secercah cahaya iman! Alhamdulillah! Aku semakin merasakan rindu yang sangat dengan keluargaku di Indonesia.

 

 

— Oktober 2010 —

Saat ini musim gugur di Jepang. Dedaunan berubah warna menjadi kuning keemasan, ada juga yang menjadi merah marun. Memancarkan aura keindahan tersendiri. Angin menyapa pepohonan yang perlahan melepas daun-daun. Di Tokyo ini, perubahan warna serta gugurnya daun-daun belum tampak sempurna. Aku pergi ke sebuah taman yang penuh dengan guguran daun bintang. Daun bintang yang berwarna merah marun, keemasan. Berserakan dibawah sederetan bangku kayu tua yang panjang berwarna hitam. Entah kenapa, ketika melihat yang namanya daun bintang, aku selalu terpesona. Serasa ada suatu feel tersendiri dalam alam bawah sadarku ketika membayangkan atau melihat langsung daun bintang. I don’t know what it is. Sungguh indah! Oktober akhir tahun ini betul-betul menjadi musim gugur yang indah bagiku.

Aku terduduk di bangku tua. Kosong. Sengaja aku mencari tempat yang jauh dari keramaian orang. No body else. Sendiri. Melihat keindahan panorama di depanku yang kulihat begitu apik. Guguran daun bintang di sekitarku membuat aku sangat nyaman disini. Seakan tak mau beranjak dari tempat dudukku. Di depanku ada sebuah danau kecil. Kulihat muara-muaranya mulai beriak. Riaknya kecil, namun semakin besar dan semakin besar. Begitu sempurnanya Tuhan menciptakan semua ini dan mengizinkanku menikmatinya secara gratis. Tuhan sangat murah hati!

Aku teringat keluargaku di Indonesia. Teringat abah, ummi, si mungil Lia serta keluarga besarku. Huff.. roda kehidupanku sepertinya memang tak pernah berhenti dan terus berputar. Aku merasakan skenario Alloh Subhanahu wata’ala akan hidupku. The show must go on! Hingga detik ini. Aku berfikir tentang capaian-capaian yang selama ini kuperjuangkan dan mati-matian kuwujudkan sampai semuanya benar-benar nampak riil dalam hidupku. Mimpi-mimpiku!!!!! Hingga akhirnya aku sampai ke negeri Sakura ini. Demi sebuah ilmu Alloh Subhanahu wata’ala yang aku rasakan semakin hari semakin menyadarkanku: betapa kecilnya aku di dunia ini! Betapa bodohnya aku ini dibandingkan dengan ilmu Tuhan yang Maha Luas ini. Sampai di sinikah capaian-capaian hidupku bermuara? Sampai di sinikah babak kehidupanku akan berakhir?! So what next? Aku mengerahkan segala daya untuk menemukan jawabku sendiri. Lelah.

Angin berhembus menerbangkan daun-daun bintang yang berserakan di sekelilingku. Berhambur ke segala arah. Namun aku masih dengan sebuah pertanyaan besar bergelayut dalam benakku. Untuk apa hidupku? Mau apa aku setelah ini? Mau kemana setelah semua kesuksesan duniaku suatu saat nanti!!

Tiba-tiba saja, ku dengar sayup-sayup suara dari handphone-ku. Aku segera meraih handphone dari dalam saku celanaku.

“……Hayya alal falah…Hayya alal falah…” [mari kita menuju kemenangan]

Suara timer adzan dari handphone-ku sontak menyadarkanku dari lamunan. Waktu menunjukkan saat sholat ashar. Allohu Akbar!

Kampeki-desu” [sempurna].

Timing yang sangat tepat dengan pertanyaan-pertanyaan dalam otakku. Luar biasa!

“……Hayya alal falah…” [mari kita menuju kemenangan]. Kemenangan? Kemenangan apa? Kemenangan bagi siapa?

Aku pun terus berjalan meninggalkan danau itu. Berjalan, dan terus berjalan! Hingga sampailah aku di sebuah masjid di kota Tokyo.  Tokyo Camii , sebuah masjid besar di Tokyo.

Aku tenggelam dalam sujud panjangku.

Seusai sholat ashar berjamaah, seperti biasanya, ada jeda waktu sampai sholat maghrib yang dimanfaatkan oleh ta’mir masjid dengan sebuah pengajian. Kuikuti dengan khusyuk materi khutbah dari Ustadz. Nama ustadz tersebut Nakata. Seorang Profesor. Yang aku tahu, beliau seorang muallaf. Meskipun seorang muallaf, pengetahuan agamanya jauh lebih tinggi dibandingkan aku. Gelar Ph.D-nya beliau dapatkan dari Cairo University dalam bidang pemikiran politik Islam tahun 1992. Sekarang beliau menjabat sebagai ketua Dewan Direktur Asosiasi Muslim Jepang. Bagiku, beliau sungguh seorang pejuang Islam yang tangguh. Karena, di tengah kesibukannya sebagai profesor di Doshisha University, beliau juga aktif berdakwah. Sangat patut kujadikan panutan!

Dalam khutbahnya, beliau membacakan arti Al-Qur’an Surat Al-Fath ayat 1 sampai dengan 5.

Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata, supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosamu yang telah lalu dan yang akan datang serta menyempurnakan nikmat-Nya atasmu dan memimpin kamu kepada jalan yang lurus, dan supaya Allah menolongmu dengan pertolongan yang kuat (banyak). Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana, supaya Dia memasukkan orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya dan supaya Dia menutupi kesalahan-kesalahan mereka.  Dan yang demikian itu adalah keberuntungan yang besar di sisi Allah.”

Kemudian beliau juga menjelaskan tentang tafsir ayat-ayat tersebut dengan sangat gamblang. Subhanalloh! Dan dengan bijaknya Prof. Nakata menutup khutbah beliau tersebut dengan membacakan arti surat Al-Fath ayat 10: “Bahwasanya orang-orang yang berjanji setia kepada kamu sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka, maka barang siapa yang melanggar janjinya niscaya akibat ia melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri dan barang siapa menepati janjinya kepada Allah maka Allah akan memberinya pahala yang besar.

Penjelasan Prof. Nakata betul-betul menjawab dengan tuntas atas pertanyaan-pertanyaan yang selama ini belum kutemukan jawabnya.

Ya Alloh Rabbul Izzati, demi-Mu, akan aku kais ilmu-Mu sedapat aku bisa mengaisnya. I’ll keep moving forward!!!! Kini aku sadar bahwa dunia seisinya is nothing!! Bukan gelar yang aku cari, bukan jabatan, bukan sekedar kekayaan, pangkat atau embel-embel lainnya. Namun Wahai Rabbku, semua aku lakukan demi agama-Mu ya Alloh!!! Demi cinta-Mu, di negeri Sakura ini! Demi izzah kaum muslimin suatu saat nanti!! I’l do it as can as possible!!

Pertanyaanku terjawab sudah. Terima kasih Prof. Nakata! Arigato!

 

(yiruma kaze, sebuah monolog, Desember 2010)

 
Leave a comment

Posted by on October 20, 2011 in cerpen

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: