RSS

Ibu Ideal di Tengah Pusaran Globalisasi

20 Oct

Sepanjang sejarah peradaban manusia, peran seorang ibu sangat besar dalam mewarnai dinamika zaman. Lahirnya generasi bangsa yang unggul tak luput dari sentuhan peran ibu. Ibu-lah sosok pertama yang memperkenalkan, menanamkan dan mengakarkan nilai-nilai agama, budaya, moral, kemanusiaan, pengetahuan dan keterampilan dasar, serta nilai-nilai luhur lainnya kepada anak.

Dalam UU No. 10 Tahun 1992 tentang Pembangunan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Sejahtera diungkapkan bahwa keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat yang terdiri dari suami, istri dengan anaknya atau ibu dengan anaknya atau ayah dengan anaknya. Dari batasan tersebut, peran ibu dalam keluarga memiliki entitas pengabdian yang tinggi. ia menjadi ‘ruh’ keluarga yang akan menjadi penentu ‘mati-hidupnya’ sebuah paguyuban batih (keluarga), menjadi ‘pelepas anak panah’ keluarga sesuai sasaran bidik yang dituju. Tidak jarang sebuah keluarga ‘gagal’ karena kekurangsiapan seorang ibu dalam menjalankan perannya.

Setidaknya ada delapan fungsi keluarga, yakni fungsi sosial budaya, cinta kasih, perlindungan/proteksi, reproduksi, sosialisasi, pendidikan, ekonomi, dan fungsi pembinaan lingkungan. Meskipun tidak mutlak menjadi tanggung jawab ibu sepenuhnya, kedelapan fungsi keluarga tersebut akan terwujud jika diimbangi dengan kesiapan, kemampuan, dan kesanggupan seorang ibu dalam menjalankan fitrahnya.

Berbicara tentang peran seorang ibu tidak terlepas dari menyoal peran perempuan. Untuk meningkatkan perannya, kaum perempuan perlu menjadi sosok yang cerdas dalam hidup. Mengapa kaum perempuan butuh dicerdaskan? Alasannya bukan demi kesetaraan jender, tetapi lebih karena perempuanlah yang melahirkan setiap generasi baru, generasi masa depan. Masa depan akan cerah jika generasinya adalah generasi yang cerdas dan berkualitas. Begitu pula sebaliknya.

Generasi yang cerdas dan berkualitas adalah generasi yang memiliki kepribadian sebagai seorang pemimpin; peduli dan mampu memberikan gagasan yang cemerlang sebagai solusi atas persoalan yang ada di tengah-tengah masyarakat. Untuk melahirkan generasi yang demikian tentu butuh sebuah proses yang panjang dan proses tersebut harus diawali pada usia dini. Berbagai penelitian menyatakan bahwa masa dini adalah periode emas (golden age) bagi pertumbuhan dan perkembangan anak. Pada masa tersebut anak akan belajar memahami dirinya dan apa yang ada di sekitarnya. Proses pembelajaran pada periode ini akan sangat berpengaruh pada periode selanjutnya hingga dewasa.

Dalam Islam sendiri, pendidikan anak juga merupakan sesuatu yang penting untuk diperhatikan. Allah telah menyeru para orangtua (QS an-Nisa’ [4]: 9) untuk tidak meninggalkan anaknya dalam kondisi yang lemah (keilmuan dan keimanan). Dari sini dapat disimpulkan pendidikan anak usia dini penting untuk diperhatikan oleh orangtua, khususnya seorang ibu. Sebab, ibu memiliki kedekatan fisik dan emosional dengan anak. Ibulah yang mengandung seorang anak selama 9 bulan, kemudian menyusuinya. Ibu jugalah yang memberikan informasi-informasi pertama kepada anak. Karena itu,  tidaklah keliru jika ibu dikatakan sebagai peletak dasar kepribadian bagi anak. Dengan demikian, wajar jika seorang ibu haruslah ‘cerdas’ agar masa keemasan anak pada usia dini tidak terlewatkan begitu saja dan mereka bisa tampil sebagai sosok pemimpin yang bisa diandalkan masyarakat.

Sayang, peran ibu yang sangat urgen sebagai pendidik pertama bagi anak tampak kurang optimal, terkhusus di era globalisasi saat ini.

Tak jarang, teknologi yang begitu canggih mentransfer berbagai bentuk kemasan informasi dan hiburan, menyebabkan anak menjadi rentan terhadap imaji kekerasan, kemanjaan, kemunafikan (hipokrit). Tak jarang, anak menjadi kehilangan kepekaan terhadap makna kearifan hidup, sikap sabar, tawakal, tabah, telaten dan tahan uji –yang merupakan entitas moral yang tinggi- telah menjelma ke dalam sikap hidup ‘instan’, kehilangan naluri ‘proses’ dalam mendapatkan sesuatu. Terjadi proses dereliginasi (pendangkalan agama), pembonsasian nilai-nilai kemanusiaan dan involusi budaya di kalangan generasi muda. Bukan hal mustahil jika sudah tak terbilang lagi jumlah remaja kita yang terjebak ke dalam jurang seks bebas, pesta ‘pil setan’, penyalahgunaan narkoba, tindak kekerasan dan kriminal atau ulah amoral lainnya. Fenomena yang penuh pengingkaran terhadap ajaran agama dan moral diatas jelas membutuhkan intensitas peran ibu dalam lingkup keluarga. Bukan berarti kita skeptis terhadap yang namanya ‘globalisasi’, namun lebih dari itu, hendaknya kita, terutama ibu, waspada terhadap segala akibat buruk dari globalisasi yang lebih sering menggerus hidup kita, jika kita tidak mampu mengimbanginya.

Banyak faktor yang menyebabkan kurang optimalnya peran ibu muncul, di antaranya untuk ibu yang bekerja atau wanita karier yang cenderung memiliki waktu yang sempit untuk dihabiskan bersama anak-anaknya. Sebaliknya, ibu-ibu nonwanita karier, mereka umumnya memiliki waktu yang lapang, tetapi pengetahuan tentang seputar pendidikan anak usia dini belum mereka pahami secara utuh. Walhasil, pendidikan anak usia dini cenderung diabaikan oleh ibu.

Untuk menyelesaikan persoalan tersebut tentunya tidak hanya melibatkan perorangan, tetapi seluruh elemen masyarakat. Butuh adanya sosialisasi di tengah-tengah masyarakat, khususnya ibu dan remaja putri untuk memotivasi mereka meningkatkan kemampuannya dalam mengasuh dan mendidik anak. Upaya sosialisasi ini bisa dilakukan oleh ormas, orpol, dan berbagai lembaga independen di tengah-tengah masyarakat. Efektivitas dari sosialisasi dalam upaya mencerdaskan ibu ini akan kian terasa jika negara mulai memainkan perannya sebagai regulator di tengah-tengah masyarakat, misalnya saja dengan merancang sebuah kurikulum pendidikan yang mampu mempersiapkan generasi muda untuk menjadi sosok ibu yang ideal. Semoga ini bukan sekedar retorika! Nah, Dirgahayu Ibu Indonesia!

[dimuat di Tabloid SPASI Pemerintah Kab. Kediri, ed.Desember 2010]

 
Leave a comment

Posted by on October 20, 2011 in opini

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: