RSS

Cinta Biner

20 Oct

 “Aku tak mau menikah dengannya!! Titik!” teriak Memey. Dia menangis meninggalkan ayah dan ibunya di ruang tamu begitu saja. BRAKK!!

 

Suara pintu kamar Memey bahkan terdengar dari halaman rumahnya yang luas. Wajah Memey sendu. Langit jingga sore itu membentuk paduan yang kontras dengan suasana hati Memey yang mendung. Memey merasakan dadanya sesak. Bumi seakan menghimpitnya dan langit runtuh menimpanya. Memey seakan tak temukan arah kemana dia akan pergi. Mengadu. Dia terisak di balik pintu kamarnya. Kerudung hijau yang dipakainya jadi tak karuan bentuknya.

Memey terpatung. Gudang kosong di lantai dua rumahnya selalu menjadi tempat favorit bagi Memey untuk menyendiri. Bisa berjam-jam dia disana. Saat ini, hanya ‘sendiri’ yang dia butuhkan. Introvert? Tidak sama sekali. Bahkan Memey sosok periang. Sosialisasinya dengan teman-temannya juga cukup bagus. Bahkan sekarang Memey sudah bekerja, bisa dibilang sudah mapan. Bekerja sebagai pegawai negeri. Sebuah kondisi yang kata orang settle. Tapi bagi Memey, karir sebenarnya bukanlah sebuah pilihan untuknya.

Memey seorang muslimah. Dia tau pasti, bahwa bekerjanya itu mubah* dalam agamanya, sampai kapanpun dan dalam kondisi bagaimanapun. Bekerjanya itu tak sampai pada tataran wajib. Namun ternyata kondisi keluarga Memey berkata lain. Kondisi keluarganya pas-pasan. Sekedar untuk makan saja, terkadang masih kurang. Ditambah lagi, adik-adiknya yang masih kecil butuh biaya sekolah. Kondisi ekonomi itu mendorongnya untuk bekerja, lebih tepatnya harus bekerja.

Sekarang, Memey masih mematung. Disana.

Memang, di usianya yang sudah hampir seperempat abad itu membuat dia semacam tak bisa berkutik. Pertanyaan dari orang-orang sekitarnya mesti tak jauh dari perihal nikah, nikah dan nikah! Hadeeuhh! Cukup bikin kepala Memey pecah. Tawaran dan anjuran dari orang-orang yang menyayanginya untuk segera menyempurnakan separuh dien* bakal terwujud dalam waktu dekat. Ayah dan keluarga besarnya telah mengenalkan dia dengan seorang laki-laki yang sama sekali asing bagi Memey. Sosok seseorang yang selama ini tak pernah terlintas dalam imaji dan mimpinya.

Kini, Memey ada di persimpangan jalan hidupnya. Jujur, Memey tak begitu suka dengan orang yang dikenalkan oleh keluarga besarnya itu.

Ibu…ibu sayang kan sama Memey?” kata Memey kepada ibu tersayang.

Pasti nak! Kita semua sayang sama kamu… Maka dari itulah, kemarin itu kita mengenalkanmu pada teman kakakmu itu. Dia sudah mapan. Tampangnya juga tak buruk-buruk amat. Sudahlah! Manut sama ayah ibu, ya nak!

 

Di tempat Memey bekerja.

Memey berusaha meng-enyah-kan perihal rencana perjodohannya itu. Suasana mendadak hampa. Memey berusaha enjoy dengan pekerjaannya, tapi hasilnya nihil. Seperti ada sesuatu yang hilang dari batinnya. Memey berusaha menghilangkan kebosanannya yang akut. Berhari-hari dia merasakan kebosanannya itu. Dia menelepon Ririn, kawan sejawatnya sejak dulu di kampus.

Rin, aku bosan sekali disini. Apa yang harus aku lakukan? Aku ingin resign dari pekerjaanku ini,” suara Memey terdengar parau, serak.

Apa? Mey, kenapa denganmu? Kamu telah bekerja di situ, bukankah itu juga atas pilihanmu sendiri?” tanya Ririn. Memey terdiam. Dia teringat masa-masa sebelum memutuskan untuk bekerja. Teringat dengan wajah berseri dari ayah dan ibunya ketika tahu Memey diterima bekerja, waktu itu. Tak lupa sujud syukur mereka sekeluarga lakukan ketika itu. Memey terpaku. Terpaku dengan memori masa-masa dia masih menjadi pengangguran selepas lulus kuliah, meski dengan IPK Cumlaude. Teringat dengan perjuangan hidupnya ketika harus menunggak SPP di kampus selama beberapa semester demi dia bisa lulus kuliah. Teringat ketika dia harus berjualan donat dari kos ke kos mahasiswa demi beberapa keping rupiah. Bulir bening menetes di pipi Memey yang putih.

Bukankah bekerjanya dirimu adalah juga demi agamamu?!,” tangisan Memey semakin tak terbendung. Pertanyaan retoris Ririn bagaikan tsunami yang telah menerjang dan meluluhlantakkan kealpaan Memey akan tujuan awalnya bekerja. “Aku tahu pasti, Mey. Dulu, kamu pernah bilang bahwa kamu punya cita-cita untuk melanjutkan S2 ke Ausie, tapi ternyata kamu belum lolos tes. Kamu juga pernah bilang bahwa kamu sangat menginginkan dapat mengabdikan dirimu di yayasan Islami, berinteraksi dengan anak-anak dan orang-orang yang dapat menyejukkan pandangan dan hatimu, dengan orang-orang yang akhlaknya terjaga dan bersih dari hal-hal syubhat*. Aku tahu pasti, itulah passion-mu.,” mendengarkan kata Ririn, Memey semakin tergugu.

Sudahlah Mey, syukurilah apa yang telah diberikan Tuhan kepadamu. Berterima kasihlah kepada Alloh, yang telah memberikan apa yang kamu butuhkan selama ini. Ribuan bahkan ratusan ribu orang lain menginginkan pekerjaanmu kini. Kenyataan memang berkata lain. Cobalah untuk menerima semuanya dengan ikhlas. Alloh Maha Tahu yang terbaik untuk kita,” suara Ririn dari seberang begitu bijak di telepon.

Terima kasih, Rin. Kamu telah menyadarkanku. Aku yakin, suatu saat nanti aku bisa mewujudkan impianku itu dengan jalan yang lain. Pantang bagi Memey untuk menyerah,”

Nah, gitu dong. Ini baru sahabatku. Ganbate!

Memey cukup lega setelah menelepon sahabatnya itu. Tapi, sengaja Memey tidak menceritakan perihal perjodohannya kepada Ririn. Cukuplah Memey selesaikan sendiri permasalahannya yang satu ini.

Beberapa bulan berjalan. Komunikasi Memey dengan keluarga besarnya agak kurang baik, pastinya gara-gara masalah perjodohannya itu.

 

Di tempat kerja. Dengan suasana hati Memey yang seolah baru direparasikan ke bengkel. Suasana hati yang baru. Lebih enjoy.

Siang ini semua staf sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Kebetulan saat ini adalah masa perekrutan staf baru. Instansi tempat Memey bekerja bekerjasama dengan tim korektor salah satu Universitas di Indonesia. Tak disangka-sangka, anggota tim tersebut satu almamater kampus dengan Memey. Lebih tepatnya, tim korektor tersebut berada satu tingkat di bawah Memey.

Memey merasakan hal yang tak biasanya. Aneh dirasakannya. Tiba-tiba jantungnya berdetak tak karuan, sepuluh kali lipat lebih cepat dari biasanya. Entah apa yang dirasakan Memey. Pandangan Memey tak sengaja tertuju pada satu sosok yang rasanya tak asing. Memey berusaha membuka file memorinya di kampus. Allohu akbar! Bukankah sosok yang di depannya adalah satu organisasi dengannya? Organisasi yang mengajak kepada kebaikan yang sempurna yaitu Islam? Organisasi dakwah yang telah mengenalkannya pada arti keikhlasan dan rela berkorban demi orang lain. Perasaan Memey semakin tak karuan. Jantungnya menari-nari lebih kencang. Memey berusaha mengalihkan pandangannya dari sosok tersebut. Seketika itu.

Ya Alloh, orang seperti ini yang aku cari selama ini. Rasanya, orang seperti inilah yang bisa memimpinku dalam agamaku kelak,” pikiran-pikiran seperti itu tiba-tiba saja bergelayut dalam imaji Memey. Memey seakan menemukan ‘klik’ dalam hatinya. Seperti seorang ilmuwan yang baru saja menemukan sebuah formula baru. Puas. Serasa ada yang menyiram pohon hatinya yang selama ini kering. Seakan ada yang terasa menyejukkan batinnya. Namun, Memey berusaha menekan semua perasaannya sedapat mungkin. Dia mencoba untuk tak bermain hati. Karena memang belum ada ikatan halal antara mereka. Cukuplah nasihat Ririn ketika di kampus: “Ketika kamu menginginkan pendamping hidup terbaik, maka bersabarlah dengan keindahan. Karena dia tak datang karena kecantikanmu, kekayaanmu, atau pangkatmu. Tapi Alloh Subhanahu wata’ala yang akan menggerakkan semuanya. Jangan pernah terjebak ke dalam cinta sesaat. Semua sudah diatur oleh Dzat Yang Maha Mencinta,” BRESSS!! Hujan lah hatinya. Oke! Dan Memey memilih untuk tidak terjebak ke dalam cinta picisan.

Dan kini Memey mencoba menekan hatinya, sedapat mungkin dia bisa menekannya.

Tapi…

Memey menyadari keadaannya, keluarganya. Ayah dan ibunya bukanlah orang kaya. Sekali lagi, Memey bukan anak orang kaya. Memey bukan anak seorang pejabat yang bisa dengan mudahnya mendapat apa yang diinginkan. Memey juga seorang staf biasa yang tak punya pangkat atau eselon di tempat kerjanya. Memey pun selama ini, seperti yang dia keluhkan kepada Ririn, belum menemukan ruang yang cukup untuk bisa menemukan jati dirinya kembali di tempat kerjanya sekarang. Semacam dia masih mengais seribu cara untuk mengejar passion-nya (panggilan jiwanya, red) yang sempat tertunda. Nampaknya kondisi dia berbeda jauh dengan sosok yang didambakannya itu. Bak bilangan biner 1 dan 0 yang selalu berlawanan dan tak pernah bisa bersatu dalam teori peluang, matakuliah matematika-nya di kampus.

Ririn…!!!

Sahabatnya itu selalu menjadi orang pertama yang mampu membuat hati Memey luluh.

(By phone, again!)

Apa katamu, Mey? Bilangan Biner? Ada-ada saja!

Iya, Rin. Selama ini aku mencari tahu latar belakang dan kehidupannya melalui orang yang dapat dipercaya. Sepertinya kami tak akan dapat disatukan. Seakan semua hal diantara kami berlawanan. Berkebalikan. Beda! Benar-benar beda!

Itu kan persepsimu, Mey. Bilangan biner? Ahh,,kamu selalu berfilosofi! Ada-ada saja. Tapi tunggu, bilangan biner itu 1 dan 0 kan?

Iya, bener. Kenapa memangnya?

Bukankah 1 dan 0 jika digabungkan, bersandingan, berbarengan akan membentuk angka 10? Dalam grade 10, bukankah angka itu sempurna? Perfect! Tidakkah kamu berpikir inilah rahasia Alloh Subhanahu wa ta’ala kenapa menciptakan kita berpasang-pasangan? Tidak lain  untuk saling melengkapi kekurangan satu sama lain. Dengan menemukan pasangan jiwa kita yang lain maka kita akan menemukan diri kita seutuhnya. Mungkin saja bagian pasangan itu awalnya adalah berkebalikan karakter dengan bagian yang lain? Namun ternyata, dibalik keberbalikan itu, hati-hati mereka dapat terpaut dan dapat disatukan? Itulah jodoh Mey, disitulah kekuasaan Alloh atas kita semua. Kita tak pernah tau rahasia Alloh sebelum segala sesuatunya terjadi. Bukankah begitu??

 

….

Satu tahun berjalan. Keluarga besar Memey tak lagi menjodoh-jodohkannya dan telah meridhoi Memey untuk menemukan pasangan hidupnya sendiri, cinta sejatinya.

 

Terima kasih banyak, Rin. Kamu memang sahabatku yang paling baik dan bijak. Kini, sudah setahun berjalan, aku telah benar-benar menikah dengan sosok itu dengan indah. Aku telah menemukan ‘klik’ dalam dirinya. Aku 1, dia 0 atau mungkin aku yang 0 dan dia yang 1. Lengkap! Berdampingan, insyaAlloh sampai ajal menjemput kami. Cinta Biner!” []

 

Footnote:

  • dien=agama
  • mubah=boleh
  • sybhat=meragukan, antara halal dan haram
 
Leave a comment

Posted by on October 20, 2011 in cerpen

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: