RSS

a Promise

20 Oct

 

—Akhir Tahun 1998—

 

Rahmat menggali, dan terus menggali. Bak seekor anjing yang mengorek-ngorek tanah untuk menemukan kembali harta karun berupa tulang putih yang telah lama disimpan di dalam tanah. Tapi maaf, Rahmat manusia, bukan anjing. Sekali lagi, Rahmat bukan binatang. Rahmat menggali dan terus menggali.

Bersamaku, Rahmat menyambung hidup dengan menggali pasir dan batu di sungai Cimanuk – Garut. Meskipun airnya sangat keruh dan suka meluap, kami tak peduli. Asalkan dapat pasir, asalkan dapat membeli beras. Ya, kami berangkat menambang di tengah malam dan pulang dini hari hanya demi sesuap nasi.

Tapi malam itu, muka Rahmat membiru. Nafasnya tersengal-sengal. Batuknya tak henti-henti.

Sudahlah Rahmat, sebaiknya kamu balik saja ke gubuk kita. Istirahat dulu. Lihatlah, mukamu pucat,” bujukku. Lokasi penambangan pasir kebetulan memang dekat dengan gubuk kami.

Aku tak apa-apa, Bayu. Aku baik-baik saja, kok,” sahut Rahmat dengan tubuh lunglai. Darah segar muncrat dari mulut Rahmat.

BREKKKK

Tubuh Rahmat terkapar di samping sekop yang digunakannya menggali pasir sungai. Aku dan beberapa kawan yang lain membopong tubuh Rahmat yang penuh dengan darah dan pasir itu ke gubuk. Ya, gubuk. Tempat yang aku dan Rahmat tinggali saat ini memang pantas dikatakan sebuah gubuk. Karena terbuat dari papan kayu dan kardus. Sekali masuk ruangan, ya itulah kamar, sekaligus ruang tamu, dapur dan maaf, tempat buang air di pojokan. Memang di tempat seperti itulah aku dan Rahmat tinggal hampir selama 12 tahun ini.

Kami terjepit.

Besok paginya, sehabis menambang, aku mengantar Rahmat ke puskesmas terdekat. Karena hanya puskesmas yang bisa dijangkau oleh isi kantong kami berdua. Celengan [tabungan, red] ku sengaja kusimpan untuk modal kawin. Kalau celengan Rahmat katanya akan digunakannya untuk naik haji. Celengan kami yang setiap harinya kami elus-elus. Celengan dari bahan tembikar berbentuk ayam jago yang sudah tak bewarna.

Rahmat absen dari menambang pasir selama beberapa hari. Kulihat malam keempat dia baru bisa tidur agak pulas. Dengan foto gambar Ka’bah, yang pernah diberikan oleh Pak Kepala Desa yang baru saja pulang dari ibadah haji, di dekapannya. Dipeluknya erat foto itu di dadanya.

Bayu, suatu saat nanti aku akan ke Mekah! Suatu saat aku akan melihat Ka’bah!” Aku hanya tersenyum mendengar kata-kata Rahmat barusan.

Rahmat memang orang baik. Dialah yang menawariku tinggal di gubuknya, ketika dulu kami bertemu di perempatan jalan ketika aku ngamen.

Dulu, sebenarnya aku anak orang kaya. Kata tetanggaku dulu, ayahku meninggal ketika aku bayi. Dan ibuku, terakhir kali aku bersama ibuku adalah ketika aku berusia 6 tahun. Waktu itu diajak ibuku pergi ke Garut, katanya ke rumah nenek, berangkat dari Jakarta. Namun, ketika sudah duduk manis di dalam bus dan beberapa detik sebelum bus berangkat, tiba-tiba ibu meninggalkanku begitu saja.

Ibu!!!!

Beliau pergi sambil menangis. Kulihat beliau menangis. Aku menatapnya dari dalam bus tanpa daya. Entah kemana ibuku pergi. Beliau tak pernah kembali, hingga usiaku kini 18 tahun.

Ibu!!!!

Rahmat anak tunggal. Kedua orang tua Rahmat memang sudah lama meninggal dalam kebakaran hebat rumahnya. Menurut cerita yang kudengar dari orang lain, pada saat kebakaran itu hanya Rahmat yang berhasil diselamatkan. Umi dan abinya, panggilan kepada ibu-bapaknya yang selama ini kudengar dari mulutnya, meninggal dalam kobaran api. Makanya, dia sampai sekarang sangat takut dengan api. Rahmat berhasil dikeluarkan dan diselamatkan dari kepulan asap yang melingkupinya dan memenuhi paru-parunya. Akibatnya, dia menderita sakit paru-paru sampai saat ini.

Nasib kami berdua bisa dikatakan serupa, tapi tak sama. Sama-sama sebatang kara, dengan alur cerita hidup yang berbeda. Sebuah desain hidup yang unik dari Tuhan.

Namun yang sedikit membanggakan, Rahmat sudah lulus Sekolah Dasar.

 

Rahmat masih tertidur pulas, dengan foto Ka’bah itu lagi di dadanya.

 

—Tahun 2004—

Nasib kami belum berubah. Tetap tinggal di gubuk di bantaran sungai. Tetap menambang pasir dan Rahmat pun tetap bertahan dengan sakit paru-parunya itu. Dan akibat krisis ekonomi masih saja terasa. Ya, untuk masalah ini, aku tidak begitu bodoh untuk sekedar mengikuti berita. Sedikit banyak, aku mengerti maksud pemberitaan di TV, lebih tepatnya aku berusaha keras untuk bisa mengerti. Dari suara TV yang setiap hari kudengar dari tetangga, krisis ekonomi terus-menerus diberitakan. Apa itu GDP, kebijakan moneter, inflasi, kebijakan tarif? Achhhh!!!! Apa itu makro ekonomi, resiko politik, ruang fiskal, aku semakin tidak mengerti. Gak mudeng! [tidak paham, red]. Semakin membuat otakku pecah saja!!

Bagi orang kecil seperti kami, yang kami mengerti hanya harga beras yang naik terus dari hari ke hari. Beras semakin dicari! Beras semakin dipuja bak raja! Tanpa beras, seakan mati. Tak makan. Padahal, kami harus melanjutkan hidup. Dan harus hidup.

 

***

 

Suatu siang yang sangat terik, kulihat segerombolan anak muda berseragam berteriak-teriak dengan teratur melewati jembatan sungai Cimanuk, tepat diatas tempat aku biasanya menggali pasir. Kadang mereka juga bernyanyi. Mereka berteriak ‘Tolak Kenaikan BBM! Tolak Kenaikan Harga Sembako!’

Yak!!! Aku dukung teriakan kalian dari bawah jembatan ini, meski banyak orang yang berlalu lalang tidak menggubris kalian. Aku dukung kalian! Meski orang-orang itu menganggap kalian sinting dan hanya membuang-buang tenaga dan waktu. Aku dukung kalian! Meski banyak orang mengganggap kalian cuma pura-pura membantu nasib orang kecil seperti kami dan dibayar oleh ‘utusan khusus’ partai politik. Aku dukung kalian! Meski orang-orang itu menganggap kalian hanya dimanfaatkan bak robot. Toh aku yakin dan tau siapa yang sejatinya bukan robot dan siapa yang tak sadar kalau dirinya robot. Aku dukung kalian! Meski kurasa-rasa, kata-kata REFORMASI yang dulu pernah kalian lontarkan, tak memperbaiki nasib orang-orang kecil sepertiku. Aku dukung kalian 1000%! Karena paling tidak, kalian masih punya “hati kecil” yang masih kalian buka dengan lapang untuk mengatakan kebenaran.

Hari ini aku menggali dengan semangat membara. Ini semua karena kalian, segerombolan anak muda berseragam yang kudengar bernama MAHASISWA.

Selesai menggali, aku pun pulang dengan bersemangat yang masih bergejolak.

Rahmat! Rahmat! Dimana kamu? Ini, aku bawakan pisang goreng yang kubeli dari Mang Udin di jalan. Masih anget [hangat, red] lho!” Lalu kudapati Rahmat tertidur pulas tetap dengan foto Ka’bah itu di dekapannya.

Ya sudahlah, sebaiknya aku tak mengganggu istirahatnya. Kasihan dia. Sebaiknya aku mandi dulu.

Sudah hampir 4 jam Rahmat tertidur. Tak biasanya dia tidur selama itu. Kudekati dia. Tubuh Rahmat membiru. Pucat! Kusentuh dahinya, dingin. Kuraba denyut nadi tangannya, nihil. Kugoyahkan tubuhnya berulang kali dan Rahmat tetap tak menjawab.

Rahmat!! Rahmat!!

Innalillahi wa inna ilaihi roji’un. Rahmat, sahabatku, telah pergi untuk selamanya. Di genggaman tangan kanannya, Rahmat menggenggam selembar kertas dan tertulis beberapa kalimat.

Sungguh, sebuah janji telah kuucap. Saat seruan panggilan itu hadir. Tapi, tak ada yang memaksaku untuk berjanji. Dia hanya memanggilku. Dengan seruan-Nya Yang Maha Wibawa. Di tanah suci. Ini adalah janjiku yang pasti. Janji yang jelas. Sebuah janji yang dulu pernah disaksikan oleh-Nya.”

“Aku ingin segera bertemu dengan-Mu, ya Tuhan. Tapi maafkan aku, karena sepertinya aku tak mampu memenuhi janjiku. Janji ini tak akan pernah aku lupakan. Selamanya. Hingga aku bertemu dengan-Mu.”

Aku bergidik merinding membaca tulisan Rahmat ini. Aku kaku! Tak mampu aku bergerak. Aku tersungkur ke lantai.

Rahmat!!

 

—Tahun 2007—

Aku putuskan untuk pindah ke Jakarta. Aku tak lagi menjadi penggali pasir. Dengan modal dua celengan yang aku dan Rahmat punya, aku kos di sebuah kamar mungil dan membeli sebuah gerobak untuk berjualan pisang goreng. Tak lupa aku membawa surat peninggalan Rahmat itu dan kumasukkan kedalam sebuah kaleng bekas. Kusimpan dengan sangat baik barang peninggalan Rahmat ini.

Sebiji, dua biji, pisang gorengku laku. Berhari-hari, berpuluh-puluh hari, ratusan pisang gorengku laris manis. Aku kembangkan usahaku ini lebih besar. Aku buat terobosan baru untuk tampilan dan memperbanyak rasa pisang goreng yang aku jual. Semua usahaku tidak sia-sia.

Aku menambah gerobak baru. Aku pekerjakan orang lain. Satu orang, dua orang, hingga berpuluh-puluh orang karyawan telah aku pekerjakan. Usahaku tersebar di beberapa kota di Pulau Jawa, hingga ke Sumatra. Satu persatu doaku selama ini terjawab sudah. Aku pun menikahi seorang perempuan baik-baik. Kami pindah ke rumah baru.

Alhamdulillah.

 

***

Suatu pagi kami sedang bersih-bersih rumah. Barang-barang usang yang sekiranya tidak dipakai, kami buang ke tempat sampah. Akhirnya, selesai juga acara bersih-bersih rumah kami hampir tepat tengah hari.

BRAKK!! BRAKK!! BRAKK!! PRANG!!

Bunda, Bunda,” panggilku.

Iya, Ayah, ada apa?” jawab istriku.

Apakah Bunda tahu dimana kaleng kecil yang Ayah taruh di almari?

Maksud Ayah, kaleng kecil yang sudah lusuh itu? Tadi sudah Bunda buang bersama barang-barang lain ke tempat sampah. Bunda pikir, itu barang tidak penting!

Apa?????” Aku kaget dan bingung bukan main. “Bunda tahu, betapa pentingnya barang itu untuk Ayah? Kenapa Bunda tidak bilang dulu ke Ayah kalau mau membuangnya?” aku bersungut.

Tap..tapi..Bun..”

Belum sempat istriku selesai berkata, aku bergegas meninggalkannya begitu saja. Tak ada waktu lagi. Aku harus segera menemukan kaleng itu. Kubuka tong sampah di depan rumah, ternyata sudah kosong. Tukang sampah sudah terlebih dulu mengangkut sampah-sampah di perumahan kami.

Habis aku! Tidak! Aku harus menyusul Pak Tukang Sampah itu ke Tempat Penimbunan Sampah Sementara.

Kuaduk-aduk sampah itu. Kuobrak-abrik sampah-sampah busuk itu dengan membabi buta dan fokus pada satu barang: KALENG. Aku tak peduli pada terik matahari yang menyengat.

Dimana? Dimana kamu?” lama aku mencari. “Nah, Alhamdulillah, akhirnya kutemukan juga kaleng ini.” Terima kasih Tuhan!

Aku kembali ke rumah dengan kondisi badan sangat bau dan kumuh. Aku bersimpuh di lantai teras rumah. Istriku datang menghampiriku.

Ayah, maafkan Bunda.” Istriku menepuk bahuku. ”Memangnya, seberapa penting kaleng ini bagi Ayah? Apa isinya hingga Ayah rela mati-matian mencarinya?

Bunda tahu? Barang ini..barang ini begitu penting bagi Ayah. Barang ini yang memotivasi Ayah hingga bisa seperti sekarang ini. Ini adalah sebuah janji!

Kubuka kaleng yang sudah berkarat itu. Kuambil isinya dan istriku pun membacanya.

Nanar istriku membaca isi surat itu. Kuceritakan semua kisah masa laluku bersama Rahmat, sahabatku. Muka istriku tiba-tiba memerah. Dia tergugu, menangis.

 

 

—Tahun 2010—

Ayah!!!

Putri kecilku memanggilku sambil mengenakan kerudung mungilnya. Cantik sekali, secantik bundanya. Terima kasih Tuhan, untuk semua anugerah yang Engkau berikan. Bersama istri dan anakku, tahun ini kami sekeluarga akan berangkat haji ke Tanah Suci, Baitulloh [rumah Alloh, red].

 

Rahmat!! Aku akan membayarkan janjimu!

 

 

– yiruma kaze  [Desember,2010] –

 
1 Comment

Posted by on October 20, 2011 in cerpen

 

One response to “a Promise

  1. yirumakaze

    March 17, 2012 at 12:01 am

    terimakasih utk @yisha

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: