RSS

Sejatinya Kasih Sayang di Hari Kasih Sayang

12 Apr

Sejatinya Kasih Sayang di Hari Kasih Sayang

Bulan Februari identik bulan kasih sayang? Really?! Marak, setiap tanggal 14 diperingati sebagai  Valentine’s day atau Val’s day. Ada coklat, bunga mawar, bahkan berlian yang konon mendadak menjadi barang yang dianggap murah untuk sekedar memberikannya kepada orang terkasih. Ketiga barang itu pun menjadi komoditi yang laku keras di pasaran pada momen ini. Memang, tak hanya berupa produk barang, kapitalisme Barat juga ‘menjual’ produk-produk budayanya sebagai bagian dari akumulasi kapital. Menurut Abdul Hakim, dosen Universitas Paramadina, Valentine’s day atau Val’s day adalah salah satu fenomena budaya global (globalized culture) yang didukung penuh oleh paham konsumerisme (inilah.com).

Salah satu dari target perluasan masifikasi Val’s day itu sebenarnya generasi muda, dan salah satu kultur dari konsumerisme adalah selebrasi (perayaan). Jadi tak ayal, pada momen ini, kita bisa saksikan perayaan dan parade untuk menggelar berbagai bentuk pengungkapan kasih sayang kepada orang-orang yang dikasih, terutama di kalangan muda-mudi. Hal yang sangat tidak kita harapkan adalah bahwa momen Val’s day ini justru dijadikan momen pembenaran untuk melakukan free sex. Semoga tidak demikian! Namun ternyata, pleasure dan hedonisme cukup mengisi kehidupan masyarakat di era terbuka sekarang ini.

Fakta terbaru, hasil kajian BKKBN pada 2010 mengatakan, rata-rata dari 100 remaja di wilayah Jabodetabek, sekitar 54% pernah melakukan hubungan seksual pranikah. Rata-rata serupa juga terjadi di sejumlah kota besar lainnya. Tercatat rata-rata kejadian seks pranikah di Surabaya mencapai 47%, dan di Bandung dan Medan 52% dengan rentang usia remaja pelakunya antara 13-18 tahun. Selain itu, juga jamak didapati di remaja kuliah. Dari 1.660 responden mahasiswi di kota pelajar Yogyakarta, sekitar 37% mengaku sudah kehilangan kegadisannya. Ini belum termasuk yang tidak mengaku (mediaindonesa.com). Wow, amazing!

Dampak dari free sex yang semakin merebak adalah kerusakan yang terjadi di tengah-tengah masyarakat dengan terjadinya kerusakan moral, pelecehan seksual, kekerasan terhadap wanita, aborsi (Indonesia, rata-rata per tahun mencapai 2,4 juta jiwa, mediaindonesa.com), single-parent, eksploitasi terhadap wanita, rusaknya tatanan keluarga karena tidak jelas lagi nasab (baca: garis keturunan, red) nya, budaya unwed, generasi extacy, generasi pengumbar NTB alias nafsu tak berujung, dll.  Dalam jangka panjang, apa yang bisa kita harapkan dari generasi yang sakit parah luar-dalam tersebut???  Generasi yang seperti ini off course tidak akan mampu berkarya optimal dalam memberikan manfaat bagi kemanusiaan. Mereka tidak akan sanggup berpikir positif secara benar.  Mereka tidak  mampu bertanggungjawab atas keadaan orang lain. Dan mereka tidak –akan- mampu merancang masa depan dunia yang aman, damai dan sejahtera. Sadar atau tidak, yang mereka kerjakan selalu menimbulkan kerusakan.  Maka terciptalah generasi yang “mati enggan hidup pun tak mau” —seperti sekumpulan mayat berjalan. Sungguh mengerikan!

Sebagian besar kasus free sex di negeri ini memang dipicu oleh tampilan pornografi dan pornoaksi, baik di media cetak maupun media elektronik. Seharusnya, kita bisa menyuarakan dengan lantang bahwa pornografi di Indonesia adalah hal yang ‘ilegal’. Sebagian kalangan di masyarakat berusaha menangkal perubahan-perubahan dahsyat ini melalui Rancangan Undang-Undang Anti Pornografi dan Pornoaksi. Namun, sebagian lagi merasa bahwa RUU APP ini hanya akan memasung kreativitas seni dan kemajemukan didalam masyarakat. Seperti kita tahu dan ingat bersama, proses untul gol-nya RUU ini pun tidak mudah dan berjalan alot. Banyak pro-kontra (lebih tepatnya banyak kepentingan yang bermain) serta adanya multitafsir terhadap pengertian pornografi itu sendiri. Hingga akhirnya kata ‘anti pornoaksi’ pun lenyap dari RUU ini. Apa yang menjadi landasan moralnya? Kalau kita mau jujur mengakui bahwa moral generasi bangsa ini sedang sakit –akut-, maka hal itu sudah sangat cukup untuk menjadi landasan moral diperlukannya sebuah aturan yang mampu memperbaiki itu semua. Bukankah kita juga tak mau kalau –misalkan- ada satu saja anggota keluarga kita yang terjerumus kedalam jurang kelam free sex bahkan terjerat oleh hukum karena perbuatan asusila? Bukankah atas nama kreativitas seni, kita juga tidak menginginkan moral generasi bangsa ini dikorbankan? Kalau kita cermati, intensitas tayangan ataupun produk media cetak yang berbau pornografi dan pornoaksi sampai saat ini tetap saja marak. Sudah diatur saja masih banyak pornografi dan pornoaksi masih menjamur, apalagi jika tidak diatur? Mengapa masalah moral hingga free sex ini belum juga mampu diberantas?

Diperlukan aturan mendasar dari Negara yang tidak hanya mampu mengatasi permasalahan ini, tetapi juga benar-benar mampu mencegah itu semua terjadi, yang menjaga kita dalam kebaikan sejati serta dapat menjamin terwujudnya nilai-nilai akhlak luhur pada diri kita, serta berani menunjukkan ‘gigi’ untuk tegas menindak siapapun –dan pihak manapun– tanpa terpelintir oleh kepentingan kapitalis yang mengambil segebok rupiah dan mengorbankan moral bangsa dengan sengaja ‘mem-budi-dayakan’ free sex dengan meng-halal-kan segala cara. Selain itu, tetap harus ada social control dari masyarakat yang ikut mengawasi moral bangsa ini. Sekarang pun, kontrol sosial itu pun semakin mandul. Kalau dulu, ada tetangga yang melakukan incest (baca: perselingkuhan, red)  atau kumpul kebo saja bisa sampai diarak keliling desa untuk membuatnya malu dan jera untuk tidak melakukannya, kini hal itu sekedar menjadi sejarah. Sikap hidup individualis sudah merebak bahkan di pedesaan. Hak asasi manusia sudah dengan latah disalah-artikan. Tak terkecuali, selain peran dari Negara dan masyarakat, dari individu kita masing-masing tetap dibutuhkan keimanan/ketaqwaan dan rasa pengawasan dari Sang Pemilik Kasih Sayang Sejati. Karena itu sudah menjadi fitrah kita sebagai manusia. Kita tebarkan energi positif (EPOS) dan kebaikan akhlak agar kondisi moral bangsa kita tidak semakin buruk dari hari ke hari. Ketiga hal tersebut (peran Negara, kontrol masyarakat dan ketaqwaan individu) harus terus kita upayakan adanya karena itulah makna kasih sayang yang sejati untuk kita semua.

Kita mengawal pelaksanaan UU Pornografi di negeri ini (minimal dengan melek berita dan info), agar generasi muda kita tidak terjerumus kedalam bahaya laten free sex, termasuk pemanfaatan secara over-bebas Val’s day. Mari, jadikan setiap hari kita adalah hari berkasih –sayang– dengan keluarga, sahabat dan orang-orang di sekitar kita dengan kasih sayang sejati, bukan dengan kasih sayang semu.

Have a nice day! ^_^

[]

 

(opini tabloid SPASI edisi Februari 2011)

 
Leave a comment

Posted by on April 12, 2011 in opini

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: