RSS

Pornografi dan Nasib Anak Indonesia

12 Apr

Permasalahan yang Dihadapi Anak

Akhir-akhir ini masyarakat dihebohkan dengan terkuaknya video mesum tiga pesohor negeri ini (Ariel Peterpan, Luna Maya dan Cut Tari) di internet, sampai-sampai beritanya mengalahkan isu-isu penting lain di negeri ini. Yang lebih menghebohkan lagi, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyatakan bahwa peredaran video porno mirip tiga artis papan atas ini mengakibatkan peningkatan jumlah kasus perkosaan, khususnya di kalangan anak-anak. Dalam waktu 10 hari, KPAI menerima 33 laporan kasus perkosaan anak, dan para pelaku perkosaan tersebut telah mengaku melakukan perbuatan itu setelah menonton video mesum tersebut (Surya Online, 25 Juni 2010). Setelah beredarnya video mesum tersebut, kasus perkosaan anak naik 20 persen. Menurut Ketua KPAI, Hadi Supeno, jumlah itu terjadi pada tanggal 14 Juni hingga 23 Juni 2010 dengan korban antara usia 4 tahun hingga 12 tahun yang diperkosa dan remaja usia 16 tahun hingga 18 tahun. Yang paling menghebohkan, gara-gara menonton video mesum itu, anak dibawah umur yang masih kelas 5 SD dan kelas 1 SMP memperkosa (melakukan pelecehan seksual) terhadap anak kelas 3 SD (Media Umat, 2-15 Juli 2010).

Dampak peredaran pornografi bukan hanya gara-gara kasus ini saja. Masih banyak kasus lainnya yang tidak begitu di-blow up. Adapun kasus sebelumnya antara lain:

  • Abdul Choir yang selama 4 tahun memperkosa putrinya, sebut saja melati sampai melahirkan dua bayi. Choir, yang ditangkap Polisi Sektor Jagakarsa di Depok Jawa Barat, mengaku tergoda iblis setelah menonton VCD porno dan mabuk minuman keras (www.tv.co.id, 20/10/2003).
  • Gara-gara terangsang menyaksikan blue film, seorang pedagang krupuk, Imr (20), warga gang Rulita RT 1 RW 7 Kelurahan Harjasari Kec. Bogor Selatan Kota Bogor diduga mencabuli gadis kecil NH (8), warga setempat, Kamis (20/2) (www.pikiran-rakyat.com).
  • Di sebuah SD di Lombok Barat, misalnya, seorang anak kelas dua SD coba diperkosa oleh 4 kawannya yang duduk di kelas 4. Di kabupaten lain pun terdapat kasus anak kelas 6 mau memperkosa siswa kelas 4. Ada anak yang mengaku bahwa hal itu dilakukan setelah menonton film India, ada juga karena menonton tayangan seperti goyang ngebor dan VCD porno yang beredar bebas (www.Balipost.co.id/balipost_cetak/2004).

Sungguh, ini adalah fakta yang sangat memalukan dan memprihatinkan kita, khususnya para orang tua. Dari fakta-fakta diatas, kita juga bisa melihat bahwa efek pornografi itu sangat memiliki dampak yang luar biasa bahaya bagi anak-anak kita Bahwa ternyata anak bukan saja menjadi objek (korban) pelecehan seksual gara-gara oknum-oknum yang suka melihat tayangan porno. Naun yang lebih miris, anak-anak sebagai subjek (pelaku) pelecehan sksual gara-gara mreka menonton tayangan porno.

Anak sebagai Aset Masa Depan

Bagi sebuah bangsa dan Negara, anak adalah genrasi penerus masa depan. Anak pada masa depan adalah asset sumber daya manusia yang sangat berharga serta menentukan jatuh bangunnya sebuah bangsa. Anak juga menjadi pewaris generasi yang akan dating.

Anak dilahirkan dalam kondisi fitrah yang memiliki berbagai potensi dan kecerdasan yang luar biasa. Mereka bisa mempelajari dari apa yang dilihat, didengar dan dirasakan. Jadi apapun yang dia lihat, dengar dan rasakan akan sangat berpengaruh pada perkmbangannya. Dengan maraknya berbagai tayangan porno di era globalisasi saat ini, maka semakin membahayakan perkembangan kepribadian mereka. Karena mereka bisa dijadikan objek pemuas nafsu syahwat orang-orang yang tak berakhlak, yang gemar melihat tayangan porno. Selain itu, mereka juga menjadi penikmat tayangan porno itu sehingga mereka menjadi subjek pelaku pelecehan seksual. Sungguh tragis!

Belum lagi dengan semakin maraknya ATM kondom yang ahnya dengan uang receh, bukan hanya remaja, anak kecil pun bisa membelinya. Tayangan TV resmi pun, yang sudah jelas hanya iklan makanan ringan anak-anak pun ikut berbau porno. Lalu, apa solusi yang seharusnya diambil?

Pendidikan Seks

Munculnya pornografi dan pornoaksi merupakan konsekuensi logis akibat memberikan kebebasan seluas-luasnya kepada manusia, baik laki-laki maupun perempuan untuk bertingkah laku sebebas-bebasnya karena batasannya : asalkan tidak merugikan orang lain. Maka yang namanya zina, kumpul kebo, free sex ataupun ganti-ganti pasangan baik berlainan jenis maupun yang sejenis dianggap sebagai hal yang lumrah. Propaganda yang endorong kebebasan seks ini sejatinya berpedoman kepada teori milik Sigmeun Freud. Ia menyatakan bahwa manusia menjalankan aktivitas dengan motivasi ‘libido’. Juga dinyatakan bahwa naluri seks yang tidak terpenuhi dapat menyebabkan kematian. Sungguh, sebuah tesis yang sangat keliru!

Sejatinya, naluri seks yang tidak terpenuhi hanyalah akan menyebabkan kegelisahan, karena rangsangan naluri ini dari luar tubuh. Oleh karena itu, bangkitnya naluri seks dapat dikendalikan sepenuhnya, ditunda, dialihkan pada aktivitas lain yang menyibukkan atau dipenuhi sesuai aturan yang benar. Bukan dibiarkan liar begitu saja. Berbeda halnya dengan kebutuhan jasmani seperti makan atau minum, kebutuhan jasmani ini harus dipenuhi karena rangsangannya dari dalam tubuh dan jika tidak dipenuhi maka akan menyebabkan kematian.

Adapun pendidikan seks merupakan bagian integral dari pendidikan keimanan dan kepribadian, dan pendidikan tentang hakikat manusia (hubungan manusia dengan Sang Pencipta). Terlepasnya pendidikan seks dengan ketiga unsur itu (baca: sekuler) akan menyebabkan ketidakjelasan arah dari pendidikan seks itu sndiri, bahkan ungkin akan menimbulkan kesesatan dan penyimpangan dai tujuan asal manusia melakukan kegiatan seksual dalam rangka pengabdian kepada Sang Pencipta.

Adapun beberapa hal yang perlu kita perhatikan dalam memberikan pendidikan seks bagi anak-anak kita:

  1. Seksualitas adalah anugerah Sang Pencipta agar manusia dapat mengemban misi hidupnya tanpa mengalami kepunahan.
  2. Seks hanya dipenuhi dengan jalan pernikahan.
  3. Sejak dini anak dihindarkan dari tayangan atau informasi yang berbau pornografi dan pornoaksi.
  4. Membiasakan izin masuk kamar orang tua sejak usia dini.
  5. Memberikan informasi yang tepat sesuai perkembangan anak (termasuk sesuai usia anak) tentang proses reproduksi dan kesehatan reproduksi.
  6. Menanamkan unsur keimanan kepada anak dalam setiap jawaban yang kita berikan untuk pertanyaan mereka.

Selain itu semua, masyarakat harus berperan mendidik dengan tidak merusak hasil pendidikan dalam rumah, masyarakat peduli terhadap anak-anak dan remaja. Yang paling penting adalah Negara menjamin regulasi komprehensif agar sistem social berjalan sebagai bentuk perlindungan terhadap kesehatan reproduksi remaja, bukan sebaliknya melindungi segelintir pelaku maksiat yang mendulang keuntunagn dengan kebebasan seksual generasi muda kita.

Maka, selamatkan generasi kita sekarang!!!

 

(opini tabloid SPASI Pemkab Kediri, Agustus 2010)

*) penulis sebagai pemerhati permasalahan sosial dan konsultan di lembaga riset dan penelitian independen Kota Kediri “Independent Statistics Center”.

 
Leave a comment

Posted by on April 12, 2011 in opini

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: