RSS

Ibu Cerdas, Melahirkan Generasi Cerdas

12 Apr

Mengapa kaum perempuan butuh dicerdaskan? Alasannya bukan demi kesetaraan jender, tetapi lebih karena perempuanlah yang melahirkan setiap generasi baru, generasi masa depan. Masa depan akan cerah jika generasinya adalah generasi yang cerdas dan berkualitas. Begitu pula sebaliknya.

Generasi yang cerdas dan berkualitas adalah generasi yang memiliki kepribadian sebagai seorang pemimpin; peduli dan mampu memberikan gagasan yang cemerlang sebagai solusi atas persoalan yang ada di tengah-tengah masyarakat. Untuk melahirkan generasi yang demikian tentu butuh sebuah proses yang panjang dan proses tersebut harus diawali pada usia dini. Berbagai penelitian menyatakan bahwa masa dini adalah periode emas (golden age) bagi pertumbuhan dan perkembangan anak. Pada masa tersebut anak akan belajar memahami dirinya dan apa yang ada di sekitranya. Proses pembelajaran pada periode ini akan sangat berpengaruh pada periode selanjutnya hingga dewasa.

 

Dalam Islam sendiri, pendidikan anak juga merupakan sesuatu yang penting untuk diperhatikan. Allah telah menyeru para orangtua (QS an-Nisa’ [4]: 9) untuk tidak meninggalkan anaknya dalam kondisi yang lemah (keilmuan dan keimanan). Dari sini dapat disimpulkan pendidikan anak usia dini penting untuk diperhatikan oleh orangtua, khususnya seorang ibu. Sebab, ibu memiliki kedekatan fisik dan emosional dengan anak. Ibulah yang mengandung seorang anak selama 9 bulan, kemudian menyusuinya. Ibu jugalah yang memberikan informasi-informasi pertama kepada anak. Karena itu,  tidaklah keliru jika ibu dikatakan sebagai peletak dasar kepribadian bagi anak. Dengan demikian, wajar jika seorang ibu haruslah ‘cerdas’ agar masa keemasan anak pada usia dini tidak terlewatkan begitu saja dan mereka bisa tampil sebagai sosok pemimpin yang bisa diandalkan masyarakat.

Sayang, peran ibu yang sangat urgen sebagai pendidik pertama bagi anak tampak kurang optimal saat ini. Banyak faktor yang menyebabkan kondisi ini muncul, di antaranya untuk ibu yang bekerja atau wanita karier, mereka cenderung memiliki waktu yang sempit untuk dihabiskan bersama anak-anaknya. Sebaliknya, ibu-ibu nonwanita karier, mereka umumnya memiliki waktu yang lapang, tetapi pengetahuan tentang seputar pendidikan anak usia dini belum mereka pahami secara utuh. Walhasil, pendidikan anak usia dini cenderung diabaikan oleh ibu.

Untuk menyelesaikan persoalan tersebut tentunya tidak hanya melibatkan perorangan, tetapi seluruh elemen masyarakat. Butuh adanya sosialisasi di tengah-tengah masyarakat, khususnya ibu dan remaja putri untuk memotivasi mereka meningkatkan kemampuannya dalam mengasuh dan mendidik anak. Upaya sosialisasi ini bisa dilakukan oleh ormas, orpol, dan berbagai lembaga independen di tengah-tengah masyarakat. Efektivitas dari sosialisasi dalam upaya mencerdaskan ibu ini akan kian terasa jika negara mulai memainkan perannya sebagai regulator di tengah-tengah masyarakat, misalnya saja dengan merancang sebuah kurikulum pendidikan yang mampu mempersiapkan generasi muda untuk menjadi sosok ibu yang ideal.

 

(dimuat pada tabloid Pemkab Kediri SPASI, edisi Juli 2010)

 
Leave a comment

Posted by on April 12, 2011 in opini

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: